Adven dan Grit

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Saya mengajak Anda, pembaca, untuk membayangkan suasana ketika Kaisar Agustus memaklumatkan sensus di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Negeri Yudea. Waktu itu, sensus dilakukan dengan cara menyuruh semua perantau pulang kampung, lalu menghitungnya di sana. Karena Yusuf adalah keturunan Daud, dia pun, bersama ‘tunangannya’, Maria, harus mudik ke Betlehem, Efrata.

Yang sedihnya, Yusuf dan Maria, tampaknya tak lagi punya saudara di Betlehem. Akan tetapi, demi mengindahkan perintah Sang Kaisar, mereka harus pulang kampung dengan berjalan kaki, tanpa ada rumah keluarga yang dituju dan di mana akan menginap. Itu belum ditambah dengan keadaan Maria yang sedang hamil tua, yang tinggal menunggu jamnya untuk melahirkan. Yusuf tak punya pengalaman menjadi calon ayah. Juga Maria! Jangankan hamil, menjadi istri pun dia belum punya pengalaman. Akan tetapi, mereka berdua harus berhadapan dengan keadaan yang amat sulit itu. Karenanya, itu membutuhkan komitmen dan perjuangan tak kenal menyerah, walaupun harus ‘berujung’ di kandang domba yang berbau pesing.

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa itu ada komitmen dan upaya terus-menerus tak kenal lelah untuk mencapai tujuan (purpose-driven motivation). Hadiah terindah dari komitmen dan perjuangan Yusuf dan Maria adalah keselamatan umat manusia.

Keadaan itu mengingatkan saya kepada salah satu istilah dalam psikologi, yaitu ‘grit‘. Grit adalah kombinasi antara passion dan perseverance untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Grit to be great! Grit juga bisa bermakna karakter teguh (strong character).

Saya menyoroti perseverance itu. Kamus Merriam Webster’s mengartikan perseverance sebagai “continued effort to do or achieve something despite difficulties, failure, or opposition“. Kamus lain mengartikannya sebagai “steady persistence in a course of action, a purpose, a state, etc., especially in spite of difficulties, obstacles, or discouragement.” Artinya, kira-kira, begini: perseverance adalah usaha atau upaya terus-menerus untuk menggapai sesuatu (tujuan) meskipun menghadapi kesulitan, kegagalan, atau tantangan. Angela Lee Duckworth, psikolog dan tokoh grit, berkata bahwa grit adalah faktor penentu kesuksesan. Grit adalah gabungan dari purpose, passion, dan perseverance. Adanya grit membuat orang akan konsisten, tahan uji, dan tidak mengenal lelah dalam mewujudkan misinya.

Dengan demikian, kalau Tuhan memakai Yusuf dan Maria, dengan perjuangannya yang tak kenal lelah, sebagai perantaraan bagi hadiah terindah Tuhan bagi kemanusiaan, tidakkah kita harus melakoni hidup ini dengan kerja keras dan daya juang tak kenal menyerah?

Selamat Adven III!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA:  ETOS MULAULON (1): Hajugulhon Mulaulaon

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *