Anggota FPI Batangkuis Persekusi Pemilik Lapo Tuak, Melebar ke Soal Suku dan Agama

Foto: Korban Ibu Lamria Manullang pemilik lapo tuak di Batangkuis, Deli Serdang, Sumut (kanan)

 

JAKARTA, BatakIndonesia.Com

Lagi-lagi organisasi Front Pembela Islam (FPI) melalui pengurusnya di Batang Kuis, Deli Serdang, melakukan persekusi terhadap pemilik warung (lapo) tuak Lamria Manullang, siang hari di kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang, Sumatera Utara beberapa hari lalu.

Dalam peristiwa tersebut, oknum FPI sempat mengacak-acak warung dengan melempar kursi dan gelas, bahkan hendak memukul kepala pemilik lapo dengan kayu, dan videonya viral di media sosial (medsos).

“Warungku dirusak, kepala juga mau dipukul dengan mengunakan beroti kayu. Kejadian pada Selasa, 28 April 2020, sekitar pukul 15.00 WIB. Tiba-tiba datang pria berjumlah sembilan orang. Mereka tak memiliki rasa kemanusiaan, dengan merusak warungku dan memaki-maki dengan ucapan kotor,” kata korban Lamria Boru Manulang, Rabu (29/4/2020), saat di Polresta Deli Serdang.

Di sana, mereka memaksa warung untuk ditutup karena terlihat ada jual tuak. Mereka tak senang sehingga merusak kursi serta gelas yang ada di warung.

“Saya jual tuak di warung itu. Sebelumnya juga sudah ada imbauan untuk tak menjual saat bulan Ramadan. Tapi, kalau tak jualan dari mana makan sehari-hari. Kalau mereka mau menegur harusnya dengan baik-baik. Bukan dengan merusak kursi dan gelas. Bahkan diriku mau dipukul beroti oleh salah seorang yang melakukan perusakan,” ungkapnya.

Ditanya mengenai apakah perusakan warungnya sudah secara resmi dilaporkan ke kantor kepolisian, Lamria Manulang mengatakan, ia bersama kuasa hukumnya akan melaporkan peristiwa tersebut.

“Tadi saya dengan kuasa hukum, Boasa Simanjuntak SH., MH sudah mendatangi Polsek Batangkuis. Namun, pihak Polsek Bantangkuis menyarankan membuat laporannya ke Polresta Deli Serdang. Makanya, ini kita langsung kesini,” jelasnya.

Sementara kuasa hukumnya, Boasa Simanjuntak menuturkan, perusakan warung milik kliennya yang dilakukan sejumlah orang merupakan tindakan kriminal dan harus diproses secara hukum.

“Kita sangat menyayangkan adanya perusakan. Bila sekelompok orang itu keberatan atas klien kami menjual tuak seharusnya diberitahu dengan baik-baik, bukan dengan tindakan kriminal. Hari ini (Rabu) laporan resmi disampaikan ke Polresta Deli Serdang,” ujar Simanjuntak.

BACA:  Persoalan Narkoba Turut Dibahas dalam Musda FBBI Sumsel

Atas peristiwa yang viral itu, sontak berbagai elemen masyarakat bereaksi, seperti yang dilakukan Tagor Aruan dari Komite Independen Batak (KIB) menyerukan agar seluruh elemen Batak bersatu mengusir FPI dari Sumatera Utara, dengan mengunggah videonya. Bahkan adalagi postingan di medsos yang menyatakan perang terhadap muslim.

Reaksi balik dari FPI dengan muncul malam harinya, bersama sekelompok orang yang menamakan dirinya dari FUI, mendatangi lokasi kejadian. Mereka sambil mengatakan takbir, seolah-olah membalas pernyataan orang-orang Batak yang mengutuk perbuatan persekusi tersebut.

Menyikapi kejadian ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Batak Bersatu (DPP PBB), Lambok F. Sihombing, S.Pd, juga angkat bicara dan meminta, agar segera ditindaklanjuti ke ranah hukum.

“Tentu dengan kejadian ini, akan menjadi preseden buruk. Mengingat susana sedang di bulan puasa. Namun demikian, dalam kasus ini sudah ada beberapa yang terlibat, baik dalam pendampingan hukum agar segera diproses ke ranah hukum,” katanya di kantor DPP PBB, Rabu (29/04/2020).

Lambok mengingatkan kepada Institusi Polri, jajaran Polisi Daerah Sumatera Utara, Irjen. Pol. Drs. Martuani Sormin Siregar, M.Si, agar segera bergerak dan menyelesaikan kasus ini.

“Dalam unggahan di video itu kan sangat jelas telah terjadi tindakan-tindakan kekerasan, dengan melempar benda, adanya bahasa-bahasa kotor. Jadi kami meminta aparat kepolisian dengan segera mengusut kasus ini, menangkap para pelaku. Jangan sampai hal ini menjadi permasalahan yang berbau sara atau permasalahan antar kelompok,” tegasnya.

Adapun Ketua FPI Kecamatan Batangkuis, Ustad Iskandar menyikapi anggotanya dilaporkan atas perusakan warung tuak Lamria Manulang mengatakan, untuk kasusnya diserahkan kepada pihak kepolisian dalam penanganannya.

“Bila korban melaporkan itu haknya. Begitupun kita juga sudah berupaya melakukan perdamaian. Namun di sisi lain, bila kasusnya berkepanjangan, dari FPI juga tidak tinggal diam akan menyiapkan kuasa hukum,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Zikir Ash Sholah Pusat (Mazilah), Ustaz Muhammad Dahrul Yusuf  mengatakan, sebagai negara hukum, tidak boleh ada masyarakat yang main hakim sendiri. Kalau pun mau menertibkan suatu tempat yang dianggap melanggar hukum agama maupun negara, harus melibatkan aparat setempat.

BACA:  Presiden Jokowi Tegaskan Negara Jamin Kebebasan Beragama di Natal Nasional 2019

“Saya melihat dari video yang beredar. Harusnya sebagai negara hukum, masyarakat jangan main hakim sendiri. Apalagi merusak dan berkata-kata yang kotor,” kata Ustaz Dahrul sebagaimana dikutip dari medanbisnisdaily.com, Kamis (30/04/2020).

Ustaz mengajak masyarakat untuk saling menghormati baik antar suku, ras maupun agama demi menjaga keutuhan NKRI. Termasuk menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Salah satunya dengan tidak menjual sesuatu yang dilarang agama maupun negara.

Rapat Lintas Agama, Kasus Persekusi Lapo Tuak boru Manullang di Poldasu
Rapat Forum Lintas Agama, Kasus Persekusi Lapo Tuak boru Manullang di Poldasu

Melihat situasi makin panas dan melebar ke soal suku dan agama, sejumlah tokoh agama dari Forum Lintas Agama melakukan audiensi dengan Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, di aula rapat Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja, KM 10,5, Medan, Jumat (01/05/2020).

Dalam audiensi itu, Ustad Akhmad Khambali menyampaikan bahwa tujuan diskusi bersama Kapolda menciptakan suasana kamtibmas serta kerukunan umat beragama di Sumut agar tetap harmonis dan kondusif.

“Selain itu, kedatangan kami para tokoh-tokoh agama untuk menjelaskan bahwa keributan yang terjadi di daerah Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, diselesaikan secara damai,” ungkapnya.

Menurutnya, keributan yang terjadi karena kesalahpahaman antara pedagang yang menjual tuak saat bulan puasa dan aksi main hakim sendiri oleh ormas.

“Saya yakin Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, dapat menyelesaikan masalah kesalahpahaman itu dengan damai,” tuturnya.

Senada, tokoh masyarakat Batak, Raja Oloan Sinambela meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing terhadap isu-isu yang dapat memecah belah suasana kedamaian yang terjalin baik di Provinsi Sumut.

“Kita percayakan penyelesaiannya kepada Polda Sumut. Oleh karena itu, saya meminta kepada seluruh warga Batak untuk tidak terprovokasi terhadap isu-isu yang dapat menggangu ketentraman umat beragama,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin, mengucapkan terima kasih kepada para tokoh agama yang turut membantu menyelesaikan masalah kesalahpahaman tersebut.

BACA:  Selamat Jalan Sang Maestro, Bonar Sihombing…

“Dengan hadirnya para tokoh lintas agama berdiskusi saya yakin Polda Sumut tidak sendiri untuk menyelesaikan permasalahan menjaga suasana kerukunan umat beragama tetap kondusif,” ujarnya.

Menurutnya, karena kedua belah pihak sama-sama salah. Artinya, pemilik warung tetap menjual tuak pada bulan puasa lalu pihak ormas bertindak di luar kewenangannya dengan melakukan sweeping.

“Kita akan menyelesaikan kasus kesalahpahaman ini dengan baik. Kedua belah pihak diminta untuk mengakui kesalahannya,” jelasnya.

Ia juga meminta para tokoh lintas agama dan masyarakat untuk mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada Polda Sumut dan Polresta Deli Serdang. Permasalahan yang terjadi, imbuh dia, dikarenakan kesalahpahaman dan masih kurangnya rasa saling menghargai.

“Penyelesaian masalah tersebut harus dilakukan secara kekeluargaan dengan hati yang dingin dan sejuk tentunya saling introspeksi menyadari kesalahan masing-masing. Sumut adalah miniatur Indonesia. Oleh karena itu, mari kita jaga keberagaman ini jangan sampai terpecah belah,” pesannya.

Audiensi ini sendiri, dihadiri Ketum DPP Martabe, Robet Siregar; Ketua Walubi, DR Indra Wahidin; Gerakan Santri Nusantara, KH Ahmad Khambali; Rumah Sahabat Dai Sumut, Ustad Marasutan Ritonga; Ketua Garda Aksi Nusantara Sumut, Binsar M Simatupang; PHDI/Hindu, Angkatan Pemuda SM Raja XII, serta pimpinan gereja dan perwakilan suku Batak ini juga membahas situasi kamtibmas di wilayah Sumut. DANS/MBD

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *