Apa yang salah dengan H3 (Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon) – Bagian 1

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Akhir-akhir ini, ‘filosofi’ hidup orang Batak, Hamoraon, Hagabeon, dohot Hasangapon (H3), ramai diperbincangkan di media sosial (Grup Facebook dan Grup WA). Umumnya, pandapat atau komentar tersebut mengkritik relevansi H3 untuk diterapkan saat ini. Bahkan, sebagian berpendapat itu adalah perilaku eklusivisme atau ciri kesombongan orang Batak.

Sepintas, pendapat dan komentar itu ada benarnya. Akan tetapi, kalau dipandang secara komprehensif mengenai semboyan-semboyan, perumpamaan, perumpasaan orang Batak, kehawatiran bahwa semboyan/motto H3 sebagai tanda kesombongan eksklusif akan berangsur-angsur sirna.

Menurut saya, menjastifikasi orang Batak sebagai orang yang sombong hanya karena mereka bercita-cita tinggi, untuk hal dan ukuran saat itu, adalah penilaian yang kurang tepat, juga kurang fair. Sadar atau tidak sadar, semua manusia melakukan itu dalam berbagai bentuk dan cara. Bukankah ada pepatah yang berkata: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”? Itu bukanlah pepatah eksklusif yang hendak berkata: “Agar engkau jauh lebih hebat daripada orang lain!” Soalnya, pepatah itu berlaku juga pada orang lain. Bolehkah pepatah itu dan motto H3 itu kita maknai sebagai seruan untuk berkerja dan berusaha keras (perspektif positif dan growth mindset)?

Hal yang sama juga dialami oleh ciri keluhuran leluhur orang Batak lainnya, yaitu Dalihan na Tolu (Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru, Somba Marhulahula atau Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu, Somba Marhulahula, dan kombinasi urutan lainnya yang mungkin–itu tidak berbeda). Kembali, salah satu penyebab munculnya ‘gugatan’ terhadap Dalihan na Tolu adalah memandang semboyan itu berdiri sendiri dan terpisah-pisah. Ungkapan Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru, dan Somba Marhulahula adalah satu-kesatuan pernyataan yang utuh, bukan terpisah-pisah. Kita tidak bisa Elek Marboru tetapi pada saat yang sama kita tidak somba (baca: hormat, bukan menyembah) hulahula dan tidak manat mardongan tubu. Mengapa? Karena kita, masing-masing, selalu berada pada ketiga posisi itu dan bersamaan (sebagai dongan tubu, sebagai hulahula, dan sebagai boru). Itu tak ubahnya bagai tungku yang tiga itu. Ketiga-tiganya harus ada besama-sama. Ketinggiannya pun harus sama agar periuk atau kuali yang di atasnya diletakkan duduk dengan seimbang atau tak miring. Oleh karena itu, filosofi Dalihan na Tolu adalah keseimbangan hidup dan kesetaraan.

Kalau motto H3 berbicara tentang cita-cita tinggi yang karenanya orang Batak dituntut untuk berusaha dan bekerja keras, Dalihan na Tolu mengatur urusan relasi sosial (hubungan antarmanusia) dalam perikehidupan orang Batak. Saya mencoba mengaplikasikan motto Dalihan na Tolu dalam hubungan kerja di tempat kerja, misalnya. Kalaulah, hulahula itu kita analogikan dengan pimpinan (atau orang yang jabatannya lebih tinggi), maka Dalihan na Tolu mengingatkan kita untuk selalu hormat kepadanya (Bersambung ke bagian kedua).

Penulis: Albiner Siagian (Penatua di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dan Revolusi Mental bersertifikat)

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments