Batuku Sayang, Batuku Malang!

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Menurut ilmu geologi, batu (tunggal) dan batuan (jamak) adalah benda padat atau solid yang tebuat secara alami dari mineral dan atau mineraloid. Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batuan. Jenis batuan umumnya ada tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf.

Batu ada sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, bersama alam semesta, sudah jutaan tahun, setara dengan manusia .

Batu yang kita lihat itu, beragam ukurannya. Ukuran besar seperti gunung-gunung seperti Bukit Barisan di Sumatera. Batu ukurannya bervariasi tak berukuran: besar, sedang dan kecil. Semua berguna, bahkan ukuran terkecil sekali bernama pasir.

Batu tak berukuran itu, merupakan benda padat yang terdapat di perut bumi. Semakin lama prosesnya, semakin padat pula. Batu digunakan oleh manusia, menggunakan akal budi sebagai milik istimewa makhluk manusia. Sebab, antara manusia dan batu mempunyai hubungan yang saling melengkapi.

Penggunaan batu tak berukuran antara lain: bahan bangunan, jembatan, infrastruktur, bahkan jika kepadatannya sangat keras diasah menjadi barang berharga menjadi perhiasan indah bahkan indah sekali.

Batu golongan ini bisa menjadi batu akik dengan berbagai jenis, batu untuk Candi Borobudur dan lainnya, batu hiasan dinding, batu mulia, batu pualam. Tangan manusialah bekerja memoles menjadikan berharga.

Namun, jika manusia tidak menggunakannya batu itu menjadi tidak bermakna sama sekali bahkan menjadi sampah mengotori lingkungan.

Dengan mengatakan itu semua, betapa bergunanya benda-benda yang tadinya dianggap tak berguna apabila dimanfaatkan dengan baik menghasilkan banyak manfaat bagi hidup dan kehidupan.

Sementara, batu berwarna yang indah akan menjadi pertanda semakin mahal pula harganya. Karena itu, ia sangat diperlukan untuk kepentingan perhiasan dan dapat diolah menjadi cincin, kalung dan perhiasan rumah tangga.

Batu dijadikan menjadi smbol-simbol

Sifat keras batu ada pada manusia sejak dahulu kala sampai masa kini. Jika ingin mendirikan rumah maka gunakan batu cadas, agar setinggi apapun bangunannya menjadi kuat dari segala gempa dan goncangan alam.

Sifat keras manusia dapat menjadi goyah, dengan peribasa “sekuat apapun sebuah batu, bila ditetesi air secara terus menerus akan berlubang juga.”

Artinya, seorang harus dapat merawat karakter kekokohannya sekalipun ada pengaruh lingkungan secara terus-menerus.

Bahan intropeksi diri

Saya sama seperti batu, sama-sama ciptaan Tuhan bersama dengan bumi di mana batu ada. Saya melakukan intropeksi ke diri-sendiri. Apakah saya sudah memiliki karakter seperti batu ini sehingga berguna dan berdampak positif bagi orang lain? Fondasi kokoh bagi suatu bangunan di rumah tangga atau lembaga di mana saya berada?

Atau sebaliknya, karakter saya berubah-ubah searah dan sebangun dengan pengaruh negatif pihak-pihak di mana selalu secara terus-menerus meneteskan pengaruh jahatnya; membuat batu jadi rapuh, bolong dan pada gilirannya patah?

Kiasan itu relevan sekarang, kedirian perlu berkarakter kokoh atau kedirian yang lama-lama berlubang? Jika semakin kokoh bak batu akik berwarna-warni percayalah akan disenangi banyak orang; atau pribadi yang ambruk merugikan diri, keluarga dan negara?

Contoh relevan di Pemerintahan

Korupsi milyaran rupiah berupa berbagai bentuk; seperti mark up harga, barang ada, tetapi harganya dinaikkan di atas standar harga; fiktif di mana uang keluar dengan bukti kwitansi, tetapi barang tidak ada. Termasuk juga jika saya memproduksi berita hoax secara terus-menerus juga setara dengan ketidakkokohan jati diri kita, karena merugikan banyak orang, Bangsa, dan Negara.

Promosi jalan peningkatan kesejahteraan

Pegawai-pegawa berkarakter kuat kokoh menjadi catatan emas bagi pimpinan, jauh dari godaan. Bentuk godaan itu dapat entah karena uang, takhta, dan wanita.

Orang berkarakter kuat punya harga, punya kans untuk mendapatkan promosi ke jabatan di atasnya lagi bahkan dapat memimpin di tempat tertinggi; sehingga memungkinkan dapat kenikmatan yang lebih besar yang dapat membuat keluarga turut serta menikmatinya.

Sebaliknya, bagi orang tanpa prinsip kuat akan melakukan kesalahan, pelanggaran peraturan kedinasan maupun etika organisasi maka trust pimpinan bahkan lingkungannya akan hilang. Jika demikian kariernya juga akan terhambat pula. Pegawai seperti ini akan tetap bahkan degradasi, tentu menjadi kader tidak ideal di negeri ini pada masa mendatang.

Berbahagialah orang berharakter pendirian khas, tegas, keras, kuat, militan, namun bijaksana mempertahankan kebenaran. Hanya dengan cara itu kita menikmati hidup dan kehidupan lebih baik, jangan sebaliknya.

Dalam kehidupan seperti di atas, tepatlah perumpamaan “Batuku sayang, batuku malang.”

Penulis: Ronsen Pasaribu

BACA:  Natal dohot Pardengganan

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *