Di Balik Seikat Sayur Kangkung

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Jika kita belanja di pasar tradisional, seperti yang saya amati di Sorong, atau di Pasar tradisional di Jakarta atau di bonapasogit,  biasanya kita bertemu dengan ibu-ibu yang berjuang menjualkan barang dagangannya. Belilah seikat atau dua ikat sayur katakanlah “kangkung”. Harganya Rp3.000,00 (tiga ribu rupiah), bahkan harga itu masih saja ditawar oleh pembeli yang juga ibu-ibu: “Lima ribu dua ikat ya?” Biasanya tergantung waktu, jika waktunya semakin siang di mana pasar kaget itu akan tutup maka harga itu dilepas juga.

Transaksi itu menjadi entri poin bagi saya untuk masuk pada analisis. Ada apa di balik harga itu, sehingga artikel ini menjadi ada apa di balik seikat sayur kangkung itu? Sudahkah nilai itu ditetapkan membawa keuntungan kepada petani atau pedagang? Seberapa keuntungan itu, dan bagaimana proses bisnis kangkung itu sendiri, sehingga sekali waktu kita tahu betapa panjangnya mata rantai sayur kangkung itu sejak dari petani hingga sampai di rumahkita. Kita makan sayur ini yang membawa vitamin B bagi keluarga kita.

Bagi seorang petani cukup satu hektar lahan pertanian dibutuhkannya. Lahan itu rata-rata bukan miliknya sendiri karena ia menyewa dari pemilik lahan. Proses menanam kangkung sederhana, tetapi memerlukan tenaga mencangkul, menghaluskan, dan membuat gundukannya supaya layak tanam. Sebelumnya petani, sudah menyamaikan bibitnya agar waktu tanam bisa cukup dan tepat waktu.

Menanam kangkung, sudah pekerjaan rutin bagi mereka dan tidak memerlukan ilmu yang tinggi-tinggi karena kangkung tanaman yang mudah tumbuh, asal disirami air yang cukup. Jika sedikit ditambah dengan pupuk, maka sayur ini akan tumbuh dengan sangat baik. Kadangkala sayur ini juga tumbuh di payau-payau tanpa ditanam, tetapi tidak bisa menghasilkan jumlah yang banyak. Jika kita orientasi pasar, tetap saja harus dikelola secara terencana. Mulai penyiapan lahan, penanaman, pemupukan dan panen, di mana proses itu memerlukan selama kurang lebih tiga bulan.

Mari kita lihat seikat kangkung dari pergerakan harganya. Jauh dari desa itu, harga kepada tengkulak bisa jadi hanya Rp1.000,00 (seribu rupiah). Tinggal hitung, berapa ikat yang diserahkan kepada pengepul itu. Jika dia satu hari mampu mengikat 200 ikat maka hasilnya Rp200.000,00. Padahal, 200 ikat sudah hampir satu mobil pick up (bak terbuka). Pengepul membawa itu ke pasar kecil di lokasi desa itu. Kalau ia membawa ke pasar besar, maka harganya menjadi Rp2.000,00/ikat. Transportasi dari desa ke Jakarta menempuh puluhan kilometer yang dibawa malam hari. Biasanya dini hari harus sudah tiba di suatu titik tertentu, bisa di pasar kaget atau pasar tradisional. Nilai ongkos inilah yang berakumulasi, sehingga harus dibebankan kepada pembeli penambahan ongkos dan keuntungan menjadi Rp2.500,00/ikat, bahkan dapat dijual menjadi Rp3.000,00/ikat.

Angka keuntungan Rp2.000,00/ikat itu dibagi antara pengepul, kenderaan/transportasi dan pedagang besar serta pada gilirannya ke pedagang kecil. Pedagang kecil inilah yang berhadapan langsung dengan ibu–ibu pembeli di pasar, yang masih tega menawarnya menjadi lebih murah.

Namun, tahukah kita pekerjaan itu sangat mulia? Iyalah. Petani kangkung sebenarnya pekerjaan yang sangat mulia dan mampu menghidupi istri dan anak–anak yang sekolah hingga perguruan tinggi. Bagaimana ceritanya bisa menyekolahkan sampai perguruan tinggi?

Kebetulan, saya pernah terlibat diskusi dalam kelas di Fakultas Ekonomi saat masih menjadi mahasiswa membicarakan kehidupan petani di Indonesia. Bagaimana seorang keluarga, seperti di bonapasogit (kampung halaman), bisa mencukupi biaya sekolah 4 orang anaknya menjadi Sarjana. Pertanyaan ini diam-diam ditujukan pada diri kita sendiri. Hitungan kalkulator tidak akan bisa menghasilkan angka yang memenuhi kiriman wesel kepada anaknya hanya jika dihitung dari hasil pertaniannya.

Hasil kopi dan sayur-mayur yang dijual ke pasar selalu kurang, terlebih masih harus menafkahi makan sehari-hari di rumah. Hasil kopi, andalan yang dijual ke pasar menutupi keperluan selain beras. Selebihnya dari jual sayur-mayur, cabai, dan lain-lain yang ditanami di kebunnya yang hanya 1 hektar itu.

Kesimpulan kami waktu itu adalah orangtua kita mampu menyekolahkan bukan karena perhitungan matematika ekonomi. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk bertani dan berapa yang  diperoleh dari hasil pertanian. Hitungannya selalu defisit atau tidak bisa dijelaskan dari logika ekonomi. Lalu, apa yang mampu menjelaskan bagaimana orangtua mengatasinya? “Tuhan mencukupkannya.”

Keyakinan kepada Tuhan yang punya kehidupan ini, mampu mengatur dan memberikan semuanya menjadi cukup, asal tekun bekerja dan berdoa. Ada saja yang bisa mendatangkan uang bagi seorang petani. Bisa saja, seikat kangkung yang kita beli di pasar itu menjadi bagian dari saluran berkat bagi petani untuk memperjuangkan sekolah anak mereka agar bisa sekolah dan nasibnya tidak lagi menjadi seperti orangtuanya, petani sayur-mayur.

Sayur-mayur yang kita beli selain memberikan protein vitamin A, B, C, dan sebagainya, di balik itu kita telah memajukan bangsa Indonesia karena petani ternyata memperoleh uang kita yang sedikit itu, tetapi bagi mereka berarti untuk ditabung demi anak dan cucu di rumah.

Penulis: Ronsen LM Pasaribu (Ketum FBBI)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *