Gereja Batak Sebagai Benteng Pelestarian Bahasa Batak

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Fakta menunjukkan bahwa Bahasa Batak tidak lagi menjadi bahasa komunikasi utama di kalangan orang Batak, termasuk mereka yang bermukim di daerah asal orang Batak. Di kampung kecil, Gompar Bintang, di dekat kaki Dolok Surungan, Desa Hutagurgur 1, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa, sana, misalnya, kita tidak sulit menemukan anak-anak yang berbahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Memang, orang tuanya masih berbahasa Batak kepada mereka. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka menjawabnya dalam bahasa Indonesia. Anehnya, kita kurang menyadari ada persoalan di situ.

Di sekolah-sekolah di daerah asal orang Batak, komunikasi (dalam proses belajar-mengajar) sudah sepenuhnya berbahasa Indonesia. Tidak adanya lagi buku pelajaran berbahasa Batak makin menyisihkan Bahasa Batak bahkan di kampungnya sendiri.

Yang membuat hati kita miris, gereja yang mengaku dirinya ‘berlabel’ Batak ikut-ikutan latah mempersempit ruang gerak Bahasa Batak itu. Saat ini, tata ibadah dan komunikasi dalam kebaktian di gereja-gereja itu sudah semakin didominasi Bahasa Indonesia, lebih-lebih pada gereja yang di perkotaan. Bahkan, walaupun ibadah itu berbahasa Batak, tetapi khotbah yang disampaikan oleh pengkhotbah kebanyakan dalam Bahasa Indonesia.

Tak hanya di waktu kebaktian itu, di acara rapat-rapat resmi gereja pun Bahasa Batak makin tersingkir. Dalam beberapi kali mengikuti Sinode Godang di Gereja HKBP, misalnya, saya melihat bahasa komunikasi di situ utamanya adalah Bahasa Indonesia. Para pembicara kunci dalam forum itu pun memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya. Padahal, tak satu pun peserta sidang/rapat itu yang bukan Batak atau yang tidak mengerti Bahasa Batak.

Saat ini saya tergabung dalam lebih dari 10 (sepuluh) Grup Facebook dan Grup WA yang berbasis gereja Batak. Anggotanya ada campuran antara jemaat, penatua, dan pendeta. Ada yang sesama penatua (parhalado). Nama grupnya pun umumnya berbahasa Batak. Akan tetapi, lebih dari 90 persen perbincangan di situ berbahasa Indonesia. Walaupun secara konsisten saya berbahasa Batak di grup-grup itu, tetapi itu hampir semuanya direspons dengan Bahasa Indonesia.

Persoalan penggerusan Bahasa Batak di gereja Batak yang seharusnya menjadi benteng pelestarian Bahasa Batak tidak berhenti di situ. Anehnya lagi, gereja tidak menyadari ada persoalan besar di situ, tidak hanya soal pelestarian Bahasa Batak itu, tetapi juga soal eksistensi gereja itu sendiri. Masih di HKBP, misalnya, hingga saat ini HKBP memiliki dan menerbitkan majalah berlabel Batak bernama Surat Parsaoran Immanuel. Tak tanggung-tanggung, majalah ini sudah berumur 129 tahun (130 tahun pada Bulan Januari 2020). Barangkali, inilah salah satu majalah tertua di Indonesia.

Awalnya, hingga puluhan tahun sejak diterbitkan, majalah ini konsisten berbahasa Batak. Ada Barita Mardongan Poda di situ, yang dituliskan dalam Bahasa Batak yang tergolong asli (polin). Akan tetapi, akhir-akhir ini, Bahasa Batak sudah makin tersisih dari majalah bersejarah dalam perjalanan HKBP itu. Kurang lebih, hanya 30 persen berita atau tulisan di situ yang berbahasa Batak. Naskah khotbah yang menjadi menu tetap dalam majalah itu pun umumnya sudah berbahasa Indonesia. Peran gereja Batak sebagai benteng pelestari Bahasa Batak itu pun, makin hari makin rapuh.

Baru-baru ini di Jakarta, sebuah seminar yang membicarakan “Gereja Batak Masa Depan dan Masa Depan Gereja Batak”, telah pun berlangsung. Saya berharap peran Bahasa Batak sebagai salah faktor penentu eksistensi gereja Batak mengemuka di seminar itu. Soalnya, berbicara perihal eksistensi gereja Batak, tetapi mengesampingkan Bahasa Batak itu sendiri, itu adalah bagaikan menanam ubi jalar di antara semak ilalang (tudos do i tu namanuan gadong andor di tongatonga ni ri).

Di tengah kekhawatiran akan punahnya Bahasa Batak itu, ada secercah sinar di ujung terowongan sempit (sondang ni palito di ujung ni bubusan na sompit). Baru-baru ini, sekelompok orang Batak, yang didominasi oleh kelompok usia muda, mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Pekestari Kebudayaan Batak (YPKB).* Yayasan ini berdiri di atas semangat bersama untul melestarikan budaya Batak, ternasuk Bahasa Batak sebagi salah satu produk budaya itu. Visi YPKB, sesuai dengan namanya, adalah Budaya Batak yang Lestari. Kedengarannya seperti mimpi, memang. Akan tetapi, itulah impian kami.

Kami berharap, biarlah kami yang bermimpi. Teman-teman pencinta, pemerhati, pelestari budaya Bataklah yang membantu kami mewujudkan mimpi itu.

—————————————–
Penulis: Albiner Siagian (Penatua di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dan Revolusi Mental bersertifikat)

*)Organ beserta divisinya YPKB akan dikukuhkan pada Hari Minggu, 21 Juli 2019 di Gedung Museum Sumatera Utara, Medan. Pada acara itu akan diberikan penghargaan Anugerah Pande Ugari (Pagari) Batak kepada pihak-pihak yang dinilai berjasa dalam upaya pelestarian Budaya Batak, yaitu Pelestari Uninguningan Batak, Pelestari Tonunan Ulos Batak, Pelestari Kearifan Lokal Batak, Pegiat Sejarah dan Antropologi Batak, Aleale ni Batak, dan Gelar Adat Kehormatan “Parbahulbahul na Bolon (masih dijajaki). Selain itu, pada acara ini juga akan diluncurkan Buku Anakhonhi do Hamoraon (Kumpulan Cerita Pendek Berbahasa Batak) yang diterbitkan oleh YPKB dan peluncuran website resmi YPKB.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *