Hantu Corona Menyerang, Virus Nyinyir Hilang

Oleh: Danny PH Siagian, SE., MM

Pemerhati Sosial Ekonomi

(OPINI)

Sudah lebih sebulan (sejak pertengahan Februari 2020) ini, hampir seluruh media, baik media mainstream maupun media non mainstream, menyajikan berita-berita mengenai serangan virus Corona (Covid 19) yang begitu dahsyat dan mematikan.

Padahal biasanya, hampir setiap hari seluruh media juga sebelumnya sangat gemar mengumbar statement-statement yang keras atau kritis terhadap Pemerintah. Karena disamping publikasi heboh dan bikin geger, life time nya pun sering lebih panjang. Dalam kondisi seperti itu, media sangat memegang peran menentukan tren pemberitaan.

Bahkan hampir dapat dikatakan, kalau tak ada pemberitaan yang gempar, media seolah-olah lesu. Namun jika ada sesuatu yang tersulut hingga membuat suhu politik panas dan bagai perang bintang, saling tuding-menuding, saling hujat, maka ramailah pemberitaan. Bahkan masyarakat biasa juga sering terlibat persengketaan yang kadang menimbulkan gesekan maupun perselisihan.

Lihat saja pada Pilpres 2019 lalu, dimana terjadinya blok-blok pemisah di masyarakat, yang saling mengidentikkan antar kelompok dengan istilah ‘kampret dan cebong’. Bahkan hingga pasca Pilpres dengan penyusunan para Menteri di jajaran Kabinet Indonesia Maju, masih terus saja nyinyir berlangsung. Tak sedikit yang akhirnya terjerat kasus Undang-undang ITE atau pasal perbuatan tidak menyenangkan, yang berakhir di penjara. Karena selalu nyinyir dan melecehkan Pemerintahan yang baru.

Datangnya hantu Corona lebih dari sebulan ini, membuat para penghina dan tukang nyinyir bungkam. Di media-mediapun tak muncul hinaan dan nyinyir yang sering bikin bising banyak orang itu. Kita nggak perlu menyebut nama atau dari pihak mana. Tapi yang pasti, akhir-akhir ini, para penghina dan nyinyir itu nampaknya diam seribu bahasa.

Yang jadi pertanyaan, pada kemana semua kaum penghina dan nyinyir itu? Bukankah mestinya ramai-ramai nyinyir mengusir virus Corona supaya lekas pergi? Atau barangkali justru ciut terhadap serangan Corona dan kini terpaksa ikut berlindung dibalik ketiak Pemerintah yang sering dilecehkan dan dinyinyirin itu?

BACA:  Ketua MPR R.I Bambang Soesatyo: Mari Bersama Jaga Rumah Besar Pancasila

Atau mungkin sedang diam-diam mencatat berbagai kebijakan Pemerintah yang nantinya akan dihjadikan bahan untuk mengungkit-ungkit dan ‘menggoreng-gooreng’ masalah yang kadang-kadang bukan masalah tapi diputar-balik jadi masalah? Jika demikian, alangkah naifnya mereka sebagai warga negara yang harusnya ikut bertanggungjawab terhadap bencana Nasional virus Corona, dan hanya ingin mementingkan diri sendiri serta kelompoknya saja. Koq enak amat ya?

Saatnya Bersatu Melawan Serangan Tak Terlihat

Merasakan apa yang sedang terjadi terhadap Negara ini, mestinya seluruh warga negara tanpa terkecuali satu blokade melawan virus mematikan yang tak terlihat kasat mata itu. Sebab yang diserang adalah manusia, bukan hewan, bukan pula benda mati.

Tak peduli, apakah pandangan politik anda berbeda atau berseberangan dengan yang lainnya. Apakah anda musuh atau lawan, pejabat atau rakyat, kaya atau miskin, punya warisan atau tidak, nyinyir atau tidak, dan lain sebagainya. Semuanya dibungkam virus Corona. Bahkan preman segarang apapun sekarang patuh, karena takut mati sia-sia.

Belum lagi imbas perekonomian rakyat yang menjadi terganggu dan bisa-bisa melumpuhkan perekonomian suatu Negara. Terjadi kelangkaan barang-barang konsumsi dimana-mana, khususnya sembako. Pendapatan rakyat kecil menurun, perputaran ekonomi juga tersendat-sendat, dan banyak faktor lainnya yang menjadi terganggu.

Untuk masalah perekonomian ini, Pemerintahpun sudah merasa berat. Seluruh keuangan nyaris bermuara terhadap kebutuhan menghadag efek yang ditimbulkan Corona. Penanggulangan yang dilakukan, menyedot anggaran yang signifikan, dan tentu akan berpengaruh terhadap APBN.

Bahkan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan Pemerintah juga mungkin tidak tercapai. Pembiayaan baru muncul, perdagangan nyaris mandeg, nilai tukar rupiah merosot terhadap dolar AS, harga saham jatuh, dan bayak faktor ekonomi lainnya yang menimbulkan efek tanggungan yang memberatkan keuangan Negara.

BACA:  Pelaku Serangan Seksual Reynhard Sinaga, Sempat Dipukul Hingga Pingsan

Tapi apa iya, harus dengan bencana dan kesulitan ekonomi seperti ini yang memaksa seluruh rakyat jadi berada dalam satu blok dan bersatu padu melawan virus mematikan yang tak terlihat itu? Apakah kondisi yang seperti ini terpelihara agar membungkam para kaum penghina dan nyinyir?

Tentu, bukannya tidak bisa mengkritik Pemerintah jika situasi sudah aman. Sebagai warga negara dan seluruh elemen masyarakat, tentu memiliki hak untuk sekaligus melakukan social control terhadap para pemangku kebijakan. Siapapun Pemerintahnya.

Tapi kebiasaan nyinyir yang sering menguras energi, perhatian dan buang waktu itulah yang mestinya jadi berubah. Jika kritik itu dilakukan secara proporsional dan konstruktif, tentu akan lebih bermanfaat. Dan bersama mencari solusi seperti sekarang ini, inilah yang mestinya terpelihara.

Bukan merasa seolah-olah paling benar, paling pintar, paling tahu segala sesuatu, dan dengan ego sektoral mengobok-obok bahkan ingin menggulingkan Pemerintah yang sah. Memisahkan blok dengan menganggap Pemerintah adalah musuh utama. Bahkan lebih dahsyat lagi, ingin merubah ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padahal giliran sekarang, terpaksa tergantung apa kata Pemerintah dari Pusat hingga Daerah. Sebab jika melawan, akan rugi sendiri. Jika tak turut, akan mati konyol. Sebab lawannya bukan Pemerintah, bukan Presiden Jokowi atau pejabat Negara. Tapi virus Corona.

Sebab itu, dengan merebaknya virus mematikan ini, nantinya dapat merubah budaya politik yang ada. Budaya yang lebih beradab, lebih bermartabat, dan lebih bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Mengutamakan kedaulatan berpikir dan berkreasi, bukan mengutamakan kebencian dan persengketaan.

Bersama-sama memikirkan bagaimana caranya mengejar ketertinggalan, supaya income per capita Indonesia US$ 3.927 (sekitar Rp 56 juta per kapita per tahun di 2018) meningkat. Untuk kemudian masuk ke kategori Negara maju.

BACA:  Siaran Pers FBBI: Mari Menjaga Persatuan Indonesia

Sebab jika Negara maju, maka rakyat jugalah yang akan menikmatinya. Semoga badai cepat berlalu…

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *