HKBP Menyambut Era Baru ‘Kawasan Wisata Danau Toba’

Pdt Bernard TP Siagian, MTh, pendeta fungsional Gereja HKBP Rawamangun, Jaktim

(Sebuah Visi Inklusif Sending Batak)

Oleh Pdt. Bernard TP Siagian, MTh *)

Kasih karunia dan anugerah Tuhan tidak pernah terhenti bagi bangso Batak sejak penginjilan Nommensen diterima di Tanah Batak dan gelar “Ompu I” diberikan kepadanya sebagai wujud hormat dan syukur bangso Batak kepadanya. Sejak era Nommensen seluruh bangso Batak dan Tanah Batak telah dimeteraikan oleh firman Tuhan sebagai bangsa terpilih dan tanah yang diberkati. Berangkat dari situ banyak orang Batak tercatat menjadi tokoh nasional bahkan perantau di luar negeri yang berperan dan mempunyai pengaruh bagi lingkungan luasnya. Itulah dampak dan buah produk dari Sekolah Sending yang terkenal di era Nommensen.

Menjelang seratus tahun wafatnya Nommensen tahun ini (23 Mei 1918 – 23 Mei 2018), ada banyak hal yang harus direfleksikan bahkan dievaluasi (dikoreksi) dalam praktek berHKBP akhir-akhir ini. Hal ini mendesak dan sangat menentukan bagi kelanjutan “marwah” Nommensen di tengah-tengah kemajuan pesat yang sedang bergulir di Tanah Batak secara umum, khususnya sehubungan dengan perkembangan Kawasan Danau Toba yang telah ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai salah satu destinasi pariwisata dan asset Nasional. Apakah bangso Batak akan menjadi budak dan kacung di Tanah Batak, ataukah menjadi sahabat dan “tuan rumah” bagi para tamu dari segala bangsa yang akan berduyun-duyun datang mengunjunginya.

HKBP adalah “Batak”

Identitas Batak tidak dapat dilepaskan dari keberadaan HKBP selaku institusi gereja dan lembaga keagamaan. Ada banyak hal harta milik dan warisan HKBP yang tidak mungkin dapat dipisahkan dari identitas etnisitas Batak maupun kepribadian kristiani. Tanpa membeda-bedakan doktrin dan denominasi gereja mau pun penganut aliran kepercayaan yang ada di Tanah Batak, HKBP dominan membentuk dan menentukan citra dan kepribadian orang Batak. Ini adalah potensi besar yang tidak dimiliki oleh komunitas dan lembaga lainnya yang sangat mempengaruhi arah dan upaya pembentukan karakter masyarakat. Namun apabila tidak diberdayakan, justru dapat akan menjadi boomerang yang mengancam identitas bahkan membunuh dirinya sendiri. Karena itu, momen 100 tahun Peringatan Hari Wafat Nommensen menjadi penentuan bagi masa depan identitas Batak dan sekaligus peranan HKBP bagi citra diri dan “nasib” bangso Batak.

Karakter bangso Batak yang telah terbentuk dari proses pendidikan gereja Batak (HKBP) dan Sekolah Sending pernah membuahkan para tokoh yang sangat mandiri memberdayakan diri sendiri menjadi perantau sekaligus penginjil ke berbagai tempat bahkan pelosok-pelosok wilayah pedalaman. Tidak banyak nama mereka yang tercatat dan mencatatkan sejarahnya secara literer, tetapi karya mereka sangat terasa dampaknya di berbagai wilayah, baik di dalam negeri bahkan sampai negeri-negeri jiran. Namun pada fase berikutnya terasa kemunduran dan merosotnya potensi tersebut, khususnya sejak era “Inpres” menjelang tahun 1970-an, di mana hampir seluruh asset dan potensi gereja diserap bahkan diserahkan kepada pihak Pemerintah (Negara). Akibat lebih jauh, potensi gereja pun “dimandulkan” dan sikap mentalitas “manja” menjadi Pegawai Negeri jadi diidolakan. Sekaligus dengan itu juga ada indikasi mental “korup” juga mulai mekar dan merajalela, bahkan di antara para pelayan gereja. Dampak yang lebih mengkhawatirkan – walau pun masih harus dilakukan penelitian lebih mendalam – medan pelayanan gereja pun sudah menjadi lapangan kerja bagi para warga jemaat.

Krisis sosial tidak dapat terbendung diakibatkan anak-anak jemaat yang menjadikan gereja sebagai lapangan kerja. Berbagai konflik kepentingan pun menyelusup di berbagai celah kehidupan bergereja. Bukan hanya di kalangan para pelayan, bahkan di antara para anak bangsa yang kebetulan punya kaitan organisasi dan etnisitas dengan gereja Batak, yang memanfaatkan “potensi” besar gereja HKBP. Para kaum oportunis pun memanfaatkan peluang yang sangat besar dan terbuka untuk menjalankan bisnis dan orientasi politik masing-masing oknum. Bahkan ada kalanya juga tangan-tangan “kekuasaan Negara” turut mewarnai kehidupan umat dan institusi gereja (HKBP). Inilah juga yang turut mewarnai identitas “orang Batak” di mata dunia akhir-akhir ini.

Gereja HKBP dan Momen 100 Tahun Hari Wafat Nommensen

Bukan sebuah kebetulan jika tahun 2018 ini dijadikan sebagai Peringatan 100 Tahun Wafatnya Nommensen. Tuhan sudah bukakan pintu bahkan gerbang emas bagi gereja (HKBP bersama gereja lain di Tanah Batak) untuk bersama-sama kembali saling bergandeng tangan berangkulan bagi sebuah kebangkitan bangso Batak bahkan kebangkitan Nasionalisme. Pemerintahan Jokowi sudah “ditakdirkan” (dihadiahkan) Tuhan bagi kebangkitan Tanah Batak dan sekaligus karakter kebangsaan yang telah tertanam dalam sanubari orang Batak. Isu nasional perkembangan kawasan Danau Toba sebagai Destinasi Wisata Internasional yang dikembangkan oleh Pemerintahan Jokowi harus kita syukuri dan menjadi perekat kebangsaan dan inklusivitas HKBP bergereja, berbangsa dan bermasyarakat.

Karena itu pola bergereja dan orientasi pelayanan HKBP harus berubah total. HKBP harus menjadi lokomotif bagi perubahan dan perkembangan di Tanah batak bahkan bagi bangso Batak secara keseluruhan bahkan juga bagi kebangkitan Nasionalisme berbangsa Indonesia. Era baru 100 Tahun Nommensen mengajak kita merefleksikan ulang pola penginjilan dalam praktek (praksis) kehidupan bergereja. HKBP tidak layak lagi mendekam dalam ekslusivisme etnisitas apalagi fanatisme doktrinalnya. Tetapi HKBP harus menjadi perekat dan bila perlu pendukung yang siap “menggendong” komunitas lain di sekitarnya yang membutuhkan pendampingan dan dukungan untuk memperjuangkan eksistensinya masing-masing. Sudah tidak saatnya HKBP “na bolon” yang berkacak pinggang dan berpangku tangan atau duduk ongkang-ongkang kaki menonton dan memerintah di atas ketertinggalan sesamanya yang minoritas.

Sebuah terobosan pola pelayanan yang harus dilakukan oleh HKBP tidak terlepas dan tidak lain dari visi Nommensen semula di Tanah Batak, yakni menjadikan orang Batak dan kekristenan (HKBP) sebagai wujud kehadiran kerajaan Allah yakni “hamajuon” yang didambakan dan dibanggakan oleh setiap insan Batak. Ini harus menjadi program yang nyata. Bukan lagi sekadar hanya membangun gedung (fisik bangunan) atau seremonial formal yang hanya artifisial belaka. Sebagaimana terukir dan diterjemahkan dalam arsitektur rumah Batak, puncak bangunan rumah yang di belakang lebih tinggi dari puncak bangunan bagian depannya, demikianlah harusnya kita masa kini sebagai produk yang dihasilkan oleh pendahulu kita. Jika seratus tahun yang lalu, dengan segala kesederhanaan fasilitas dan infra struktur yang tersedia pada masanya Nommensen berhasil membangun dan mengembangkan “kerajaan Allah” (kekristenan) ke seluruh Tanah Batak sampai ke wilayah Simalungun dan Tanah Karo, kini HKBP telah tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan di beberapa Negara lain.

Karena itu, HKBP harus melihat dan menyikapi semua kondisi dan perkembangan masyarakat dan bangsa bahkan bangsa-bangsa dalam visi yang lebih meyakinkan dan mondial (global). Jauhlah kiranya HKBP dari mental MC (Minderheid/Inferiority/Minority Compleks) dan introvert apalagi eksklusif yang anti-dialog dan mentalitas “menerabas” (instan). Bahwa Allah yang dahulu telah membuat Nommensen berhasil, Allah yang sama juga yang akan membuat kita berhasil menghadapi segala zaman yang bagaimana pun. Itulah kepastian iman kita.

Atas dasar keyakinan akan Tuhan Yesus Kristus yang kita imani, HKBP pasti mampu dan dimampukan oleh Roh Tuhan yang menjamah hati setiap umat-Nya yang mencintai gereja-Nya supaya HKBP bangkit kembali melakukan pekerjaan Sending di era post-modern dan digital saat ini. HKBP harus membangun kembali (menata ulang) Tanah Batak bahkan setiap umat Kristen Batak dan gereja-gereja sekitarnya untuk menjalankan misi Sending bersama, bukan hanya di Tanah Batak, tetapi juga di seluruh wilayah dalam jangkauan Kantor Pusat HKBP. Tidaklah berlebihan bila HKBP memiliki pesawat terbang atau minimal Helikopter untuk menjangkau seluruh wilayah pelayanannya yang tersebar luas di persada Nusantara bahkan di luar negeri. Khususnya untuk misi Sending, Helikopter sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam rangka mengantisipasi dan membangkitkan potensi yang terpendam di berbagai wilayah pedalaman jemaat-jemaat di Tanah Batak dan seluruh wilayah Sumatera di mana ada komunitas Kristen. Bukan hanya untuk kalangan gereja HKBP dan komunitas Batak, melainkan semua komunitas Kristen lainnya (Kepulauan Nias, Mentawai, Enggano, Rupat, dll) yang membutuhkan pendampingan dan pemberdayaan dari HKBP selaku gereja besar.

Untuk mewujudkan hal itu, HKBP tidak harus meminta bagian dari Anggaran Pemerintah, baik Daerah mau pun Pusat. Sebab begitu banyak orang Batak dari berbagai denominasi gereja yang tersebar di Indonesia bahkan di luar negeri sangat mencintai Tanah Batak bahkan HKBP, meski pun mereka sudah tidak lagi terdaftar sebagai warga jemaat HKBP. Ini adalah mimpi saya sejak lama, terutama setelah saya mendapat kesempatan melayani di Tanah Papua selaku Pendeta Ressort tahun 2012-2015 yang lalu. (Sebenarnya hal inilah yang ingin saya wujudkan pada waktu itu, dengan program “Nommensen Center” yang akhirnya harus saya tinggalkan dengan rasa kecewa yang mendalam.) HKBP sanggup dan pasti akan dimampukan Tuhan untuk mewujudkannya, apabila misi Sending Era Baru Nommensen ini dijadikan visi dalam rangka peringatan 100 Tahun Wafatnya Nommensen.

Namun demikian, dibutuhkan komitmen teguh para pemangku kekuasaan di HKBP, agar tidak lagi berorientasi kepada jemaat perkotaan, melainkan kembali ke dalam wilayah tertinggal dan terpinggirkan. Persis seperti salah satu gerakan program Nawacitanya Presiden Jokowi, membangun daerah-daerah perbatasan dan daerah-daerah, bukan Pusat Kota DKI Jakarta. Bila ini dijadikan gerakan Sending HKBP, jangan pula HKBP bergerak sendiri-sendiri. Tetapi harus bergandengan tangan dengan para pemangku kekuasaan dari berbagai gereja bahkan kelompok-kelompok agama. Keyakinan saya, para perantau putra-putra daerah yang sudah berada di berbagai pelosok negeri bahkan yang ada di luar negeri pasti akan tertarik untuk kembali ke kampung halamannya. Tentunya sudah mudah untuk mengisi mereka dengan motivasi bergerak membangun daerah asalnya masing-masing.

Biarlah Pemerintah dengan program pengembangan Kawasan Danau Toba dengan segala side-effect positip yang pasti akan banyak dimanfaatkan oleh masing-masing anak-anak bangsa dan warga gereja. HKBP dan para Pimpinan gereja serta lembaga keagamaan lainnya membangun moralitas dan karakter serta perilaku umat masing-masing dalam satu ikatan kebangsaan dan nasionalisme yang dimotori oleh HKBP.

Khusus mimpi saya untuk Papua, HKBP punya peluang besar apabila melihat Tanah Papua sebagai wilayah khusus Sending. Betapa pun HKBP keras ditolak oleh gereja GKI TP, namun sudah saatnya HKBP berkiprah dan berbuat banyak buat Tanah Papua dengan potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh orang-orang Batak di seluruh wilayah Tanah Papua (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat). Ini pun bukan sesuatu yang mustahil! Namun untuk hal ini memang membutuhkan personal orang-orang khusus yang mengenal dan mencintai Orang Papua Asli. Dari beberapa mantan mahasiswa saya dan para Naposobulung yang sempat saya bina, sudah ada beberapa yang berhasil dan tinggal membuka pelayanan di sana.

Demikianlah sekilas ulasan dan tuangan mimpi dan kerinduan hati saya yang dapat saya tuliskan dalam waktu yang singkat ini. Tuhan Yesus adalah sama, dahulu, kini dan selama-lamanya. Amin!

*) Penulis adalah Pendeta Fungsional di HKBP Rawamangun, Jakarta Timur; Pernah sebagai Dosen di FKIP Universitas HKBP Nommensen P. Siantar; Pernah sebagai Pendeta Resort di Papua.

(Editor: Danny S)

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook Comments