INACRAFT 2019, Ajang Pemasaran Karya Ekonomi Kreatif Anak Bangsa

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Kami datang mengunjungi Jakarta Convention Center. Di sana ada pameran The 21st Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2019 dari tanggal 24 sampai 26 April 2019 yang diramaikan para UMKM dan UKM, sehingga disebut dengan The Biggest and The Most Complete Exhibition of Gifts and Housewares. Sebuah ajang pemasaran barang industri rumahan yang dikerjakan sendiri, tentu dengan keahlian, seni, dan modal sendiri. Begitu riuhnya para pengunjung sebagai respons himbauan Presiden Jokowi yang membuka acara ini, di hari pertama.

Craft, diarikan sebagai craft (kerajinan) adalah seni yang “tidak mengenal aturan” karena tercipta sesuai keinginan, seni yang “liar” karena imajinasi yang tidak bisa ditawar, dan seni yang “riang” karena membebaskan dari segala beban pikiran.

Definisi craft/kerajinan (dalam bahasa Indonesia), “Suatu kegiatan yang melibatkan membuat sesuatu dengan cara yang terampil dengan menggunakan tangan Anda, Pekerjaan atau kegiatan yang membutuhkan keahlian khusus.”

Definisi yang dirumuskan secara bebas oleh para pelaku kerajinan ini, secara gamblang dipahami bahwa craft ini sebentuk barang rumahan (home industry), yang dibuat dengan tangan sendiri dan atau menggunakan mesin sederhana,  mampu memenuhi pesanan pembeli.

Tidak sama dengan industri yang terpola, baik disain dan produksi massalnya, namun lebih  produk pesanan, lalu dibuatkan disain, diproses dan jadilah item produk yang final siap dijual kepada konsumen, pembeli akhir atau item yang dijadikan produk untuk dipasarkan oleh pedagang lanjutan.

Kekuatan craft ini terletak pada pelakunya itu sendiri, memiliki jiwa seni dalam mewujudkan impiannya atas sesuatu benda yang menarik. Bahan baku yang tersedia, lalu digunakan menjadi sesuatu yang menarik perhatian konsumen yang tentu punya selera yang keluar dari karakter industri branded mewah dan mahal. Perubahan selera ini, kata kunci, dipahami dan didisain lalu dijahit untuk barang jadi. Jika tidak terus-menerus, maka akan ditinggalkan pembeli. Di sinilah perlu konsisten, fokus dan tanggung jawab akan profesi agar perjanjian ke konsumen bisa dipenuhi.

Contoh seorang peserta INCRAFT 2019, Theresia br Bakkara, yang penulis temui di pameran menceritakan bahwa seni memperkaya penggunaan ulos lama, 5 tahun lalu. Ulos secara konvensional digunakan untuk acara adat Batak, acara suka maupun duka. Namun, melihat banyaknya ulos yang menarik ini, mengapa tidak dikembangkan penggunaannya menjadi benda yang bisa dikonsumsi di luar adat?

Theresia br Bakkara

Jadilah konsep ulos menjadi bagian dari tas, sepatu, gantunga, pakaian jas, baju laki/perempuan/anak anak, hiasan dinding, kipas angin, dan sebagainya. Selain itu, bandingkan dengan sepatu konvensional dari kulit, bisa dari kulit ular, buaya, dan lainnya.

Trade Fair ini, mempertemukan pembeli langsung dan juga para pedagang di dalam dan di luar negeri. Inilah yang menguntungkan jika menggunakan sarana yang diadakan Pemerintah, guna mempertemukan permintaan dan penawaran. Pemerintah membantu di sarana fasilitas ini, sehingga pedagang tidak mengeluarkan sejumlah biaya, bahkan pemerintah daerah bisa membiayai pelaku UMKM dengan cara mengganti transpor, konsumsi dan lainnya. Cost pelaku bisa terbantu, sehingga keuntungan bisa murni kepada pelaku, dan pemerintah diuntungkan dalam promosi produk lokal bisa meningkatkan pengenalan pada gilirannya meningkatkan jumlah pembelian atas barang craft ini.

Bagaimana pola biaya, yang menggambarkan cost & benefitnya? Sebagai produk rumahan, biasanya tidak membangun pabrik sendiri sehingga cost lokasi produk tidak ada, begitu juga pajak bangunan, menyatu dengan rumah tinggal. Pekerja pun demikian, bisa dikerjakan sendiri, atau saudara, sehingga salary bisa lebih murah. Biaya pengeluaran, pada bahan bakunya saja serta control quality. Sedangkan Ongkir, biasanya dibebankan tersendiri karena di luar cost of productnya.

Theresia br Bakkara bersama keluarga.

Bagaimana menentukan harga jual? Di sini perlunya pelaku UMKM ini jeli melihat harga barang sejenisnya di pasar yang ada. Hanya ke barang yang sama yang diperbandingkan, bisa sama harganya, bisa lebih mahal dalam jumlah tertentu, bisa 10/20 persen. Jangan dibiasakan menetapkan harga setinggi mungkin hanya sekedar dapat untung sebesar-besarnya. Ini prinsip ekonomi yang sudah lama ditinggalkan, karena akan ditinggal konsumen selamanya, sebab ada yang lebih murah.

Sebaiknya, keuntungan yang tidak terlalu tinggi, malah jika perlu lebih rendah dari barang sejenis, namun kita mendapatkan quota yang lebih besar dan berjangka panjang. Hanya dengan cara itu, nama kita dikenal, pelanggan akan betah, sebab kita berhadapan juga dengan “grosir besar dan kecil”, walau barang kita barang bukan “mass production”, tetapi barang pesanan “by order”.

Kemudahan pemasaran juga selain pameran ini, bisa dipasarkan melalui online, sehingga menjangkau lintas daerah. Jika online, hendaknya selengkap mungkin informasi tentang item produk kita. Jaminan informasi itu penting, bagi pembeli yang menyenangi kualitas atau bangga pada branded tertentu.

Theresia br Bakkara (tengah) bersama Ronsen Pasaribu (kanan).

Kesimpulan, craft ini memberikan peluang yang sangat besar kepada pelaku “ekonomi kreatif”, mengimbangi industri normal berupa era teknologi industri 4.0. Industri besar boleh menguasai pasar, tetapi selera konsumen juga banyak mencari barang-barang khusus yang dikerjakan oleh pelaku ekonomi kreatif, yang lebih banyak generasi milenial ke depan ini.

Jakarta, 29 April 2019. Pkl. 20.00 WIB
Dr Ronsen L.M. Pasaribu (Ketua Umum FBBI/Pemerhati Bonapasogit)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *