Indorayon (Kini TPL) Lakukan Genosida Terhadap Orang Batak

MEDAN, BatakIndonesia.com — PT Inti Indorayon Utama (IIU) atau Indorayon yang kini berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari (TPL) dituding telah melakukan upaya pembunuhan massal atau genosida terhadap orang-orang Batak dan masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT).

Genosida adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau sekelompok suku bangsa dengan maksud memusnahkan atau membuat punah bangsa tersebut.

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Jainal Pangaribuan mengatakan, kondisi di Kawasan Danau Toba itu sudah babak belur. Hutan dan lahannya sudah gundul, mengalami kerusakan yang parah. Juga Danau Toba yang sangat kotor, juga mengalami kerusakan yang parah. Selain itu, masyarakatnya kian terintimidasi, dan penuh tekanan meskipun melakukan perlawanan.

Kehadiran PT TPL selama berada di Tanah Batak, menurut Jainal Pangaribuan, tidak ada gunanya. Kerusakan lingkungan tiap hari terjadi.

“Kalau dalam istilah kita, pabrik TPL itu sudah melakukan genoside terhadap masyarakat dan lingkungan Kawasan Danau Toba, sejak lama. Merusak tanaman padi dan kolam ikan darat. Udara juga tercemar dan menimbulkan berbagai jenis penyakit. Termasuk, pertumbuhan anak-anak kecil semakin tidak normal. Akibat udara yang busuk dan bervirus. Ini yang saya sebut sudah terjadi genosida di Toba,” ungkap Jainal Pangaribuan, Sabtu (26/10/2019).

Selain melakukan perlawanan hukum, perlawanan fisik, perlawanan sosial, Jainal Pangaribuan meminta Masyarakat Batak melakukan perlawanan lingkungan. Salah satunya dengan kembali menggiatkan menanam pohon aren. Atau, di Tanah Batak pohon ini  dikenal dengan pohon bagot atau pakko.

Jainal Pangaribuan yang juga aktif dilembaga penelitian dan lingkungan sebagai President Green Ecosystem Organization for Clean Environment (Geoforce) ini menjelaskan, perlawanan itu tidak sulit.

Putra asli Sitolu Ama, Kecamatan Labuboti, Kabupaten Tobasamosir itu menjelaskan, ada tiga kelebihan utama dari pohon bagot ini untuk hal itu. Pertama, pohon bagot tidak merusak lingkungan.

Menurut Jainal Pangaribuan, menanam pohon bagot pasti menjaga kadar humus tanah. Juga mencegah bencana, seperti tanah longsor.

Yang paling menguntungkan secara ekologis, lanjut dia, pohon bagot memproduksi oksigen yang sangat bagus.

“Sangat berbeda misalnya dengan tanaman eucalyptus, yang banyak ditanami oleh PT TPL itu, itu perusak lingkungan. Tanaman itu merusak lahan. Menyedot semua unsur hara tanah. Tanah menjadi kering dan tandus. Membuat air tanah pahit. Tidak ramah lingkungan. Kalau pohon bagot malah tidak begitu,” tuturnya.

Seperti diketahui, lanjutnya, Indonesia kini diharapkan sebagai paru-paru dunia. Yang memproduksi oksigen bagi dunia. Karena itu, sebaiknya dijaga dan dikembangkan lagilah pohon bagot itu.

Jainal Pangaribuan mencontohkan, di Kawasan Danau Toba (KDT) kehadiran pabrik bubur kertas bernama PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) yang sekarang berubah nama menjadi PT Toba Pulb Lestari (TPL) itu, sangat rakus terhadap lahan. Juga sangat merusak alam. Hampir semua produksinya egois. Hanya untuk pemilik modal. Masyarakat tidak mendapatkan apa-apa. “Itu harus dilawan. Tanami kembali pohon aren, bagot,” ujarnya.

Keuntungan kedua penanaman pohon bagot, lanjutnya, pohon ini bernilai sosial. Selama ini, masyarakat adat, menggantungkan banyak hal dengan pohon bagot. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga sebagai mata pencaharian.

Bahkan dalam berbagai peristiwa adat istiadat masyarakat Batak, kehadiran bagot dan tuak yang diproduksinya sangat memiliki peran strategis. Melestarikan budaya dan hubungan sosial yang sangat baik.

“Pohon bagot yang bernilai sosial ini adalah milik masyarakat. Masyarakat pastinya akan bangga jika dikembangkan dengan baik,” tuturnya.

Ketiga, bernilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomi yang dimiliki dari hasil pohon bagot, lanjut Jainal Pangaribuan, untuk yang sederhana saja, sudah banyak orang tua menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, karena menghasilkan uang dari pohon bagot.

“Misalnya, paragat, istilah untuk orang yang membuat tuak, berpuluh-puluh tahun mereka melakukannya. Ada anak-anaknya bisa disekolahkan hingga jadi dokter, peneliti, polisi, pengusaha, jenderal dan pejabat-pejabat. Jika dikembangkan lagi, maka akan besar manfaat ekonomis dari pohon bagot,” beber Jainal Pangaribuan.

Menurut Jainal, tidak rumit menanam, mengelola, dan memproduksi hasil-hasil dari pohon bagot. Termasuk memproduksi gula aren dan energy terbarukan bioethanol.

Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata per tahun hanya di angka 5 %, Jainal optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa didongkrak hingga ke angka 10 % dengan usaha Pohon bagot.

Menanam pohon bagot,  bisan menyerap tenaga kerja yang disebut mencapai angkat 10 %. Untuk luas lahan 5 hektar saja, bisa ditanami sebanyak 2000 pohon bagot. Setelah ditanam, potensi ekonominya sangat fantastis. Dan berproduksi terus, sejak lima tahun terus menerus menghasilkan.

Dia menghitung, dengan menanam pohon bagot untuk lahan seluas 10 juta hektar saja, Indonesia sudah bisa membayar hutangnya untuk 10 tahun.

Lahan seluas 10 juta hektar saja, jika ditanami pohon bagot, sudah terdapat sebanyak 4 miliar pohon bagot. Per tahun, sebanyak 60 % dari pohon itu atau sekitar 2,4 miliar pohon akan berproduksi. Dan menghasilkan uang triliunan rupiah.

Dijelaskan Jainal Pangaribuan, untuk produksi 12 sampai 15 liter nira dari satu pohon aren, bisa menghasilkan 1 liter bioethanol. Belum lagi untuk gula aren dan kebutuhan lainnya.

“Anda bisa bayangkan, jika 10 juta hektar saja lahan, dengan 4 miliar pohon bagotnya, berapa banyak bioethanol yang bisa diproduksi.  Saat ini Indonesia masih mengimpor bioethanol. Dengan produksi bagot, nantinya bukan impor lagi. Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya dan bisa mengekspor bioethanol ke luar negeri,” ungkapnya.

Dengan menanam 1 juta pohon bagot saja, lanjutnya, Indonesia sudah memiliki asset sebesar Rp 4 triliun. Itu masih baru menanam. Belum sampai ke produksi. Pohon bagot di tahun pertama ditanami dan dijaga. Di tahun ke dua, sudah pasti memproduksi oksigen.

“Jika dihitung dalam angka materi, bisa berapa banyak nilai oksigen yang diproduksi. Sangat banyak,” ujarnya.

Berbeda dengan kelapa sawit, Jainal Pangaribuan mengatakan, perusahaan kelapa sawit ditaksir hanya mampu menyumbangkan 100 triliun rupiah per tahun. Itu pun dengan 15 juta hektar lahan sawit. Lagipula, lahan sawit seperti itu adalah milik korporasi, milik perusahaan. Bukan milik masyarakat.

“Pohon bagot itu ditanami oleh masyarakat, milik masyarakat. Tinggal dihitung saja, per orang menanam berapa pohon bagot. Entah di ladangnya, entah di samping rumahnya, entah dimana pun.

Syukur-syukur dia menanaminya di lahannya yang luas. Itu keuntungan mengelola pohon bagot juga. Milik masyarakat. Bukan milik korporasi,” tutur Jainal.

Belum lagi untuk gula aren. Dari pengalamannya yang sudah memproduksi dan mengekspor gula aren dari Sulawesi, Jainal Pangaribuan menjelaskan, untuk produksi gula aren, pangsa pasar terbesar adalah Eropa.

Orang Eropa memiliki standar yang ketat. Pohon arennya harus diproduksi tanpa merusak lingkungan. Gula arennya benar-benar sesuai standar mereka.

“Dan, biasanya mereka menelusuri dan mengontrol proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan pohon aren itu, hingga berproduksi. Sesuai standar kesehatan lingkungan, dan tak merusak lingkungan, mereka akan jor-joran impor dari Indonesia,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan usaha lainnya atau produksi pohon-pohon lainnya, pastinya pohon bagot lebih memberikan konstribusi yang sangat besar.

Kini, kata dia, pihaknya sedang membangun kerja sama dengan pemerintah daerah di Kawasan Danau Toba (KDT) dan masyarakat adatnya, untuk mau dan memassifikasi penanaham pohon aren yang sangat berguna itu.

“Tergetnya, di tahun 2020 nanti, sudah ada 1 juta pohon bagot yang ditanam. Dan nilai ekonomisnya kami hitung mencapai Rp 10 triliun. Untuk Tobasa saja itu,” ujarnya.

Sedangkan pembibitan pohon aren, lanjutnya, kini Jainal Pangaribuan membibit sebanyak 2 juta pohon aren. “Murah. Harganya per satu pohon bibit, hanya Rp 10 ribu. Per batang. Dan itu sudah sampai di tangan masyarakat. Di antar ke ujung mana pun. Bibit itu sudah disemai dengan standar yang sudah ditentukan Eropa, misalnya,” ungkap Jainal.

Untuk mengembangkan Kawasan Danau Toba dan pendapatan masyarakat lokal, Jainal Pangaribuan mengajak masyarakat dan pemerintah, untuk memassifikasi penanaman dan produksi pohon bagot itu.

Bahkan, perusahaan-perusahaan perusak lingkungan, harus diganti. Agar tatanan ekonomi, tatanan masyarakat, termasuk hubungan sosial dan adat istiadat masyarakat setempat lestari dengan baik.

Jainal Pangaribuan juga meminta, kiranya Presiden Joko Widodo, dan jajaran kabinetnya, mendorong dan memassifikasi penanaman pohon aren itu untuk tujuan sosial, ekonomis, dan lingkungan yang lebih baik.

Political will pemerintah, dari Pak Presiden Jokowi dan para jajaran menterinya, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kementerian Koperasi UMKM, penanaman modal, dan stake holder lainnya, termasuk Pemerintah Daerah, agar mengembangkan potensi ini dengan baik. Untuk kesejahteraan masyarakat. Lahan bisa berkoodinasi dengan KLHK, bibit kita bisa siapkan,” tuturnya.

Dia menekankan, keuntungan besar akan diraih masyarakat dan pemerintah Indonesia, jika mengembangkan serius penanaman dan pengembangan produksi pohon bagot di seluruh Tanah Air.

“Nilai sosial tinggi, peran serta masyarakat bagus, lahan banyak tersedia, lingkungan terjaga dan sehat, dan nilai ekonomisnya sangat fantastis,” ujar Jainal Pangaribuan.(JR/SinarKeadilan.com)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *