Ketum YPDT dan Ketum FBBI Mengunjungi Tapanuli Selatan

Tapanuli Selatan

PADANG SIDEMPUAN, BatakIndonesia.com — Momen yang sangat baik, kedua Ketua Umum Ormas Batak didaulat memberikan materi ceramah di Ulang Tahun ke-42 Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, pada Rabu (25/10/2017).

Hadir seluruh Pendeta dan staf GKPA Pusat. JR Hutauruk, Emeritus Ephorus HKBP turut terlibat dalam diskusi menarik dari materi utama dengan tema: “Parausorat Parbinsar ni Mataniari, Hakristenan di Tano Batak.” Kekristenan di tanah Batak ditandai dengan datangnya Van Assel sebagai missionaris pertama dan diteruskan oleh missionaris lainnya sepeti Nommensen di wilayah Pengembangan yang belum dimasuki Agama Islam di wilayah Toba.

Maruap Siahaan (Ketum YPDT), membawakan materi Pengembangan Pariwisata di Kawasan Danau Toba (KDT) yang seharusnya berbasis pengembangan potensi ekonomi dan budaya lokal setempat. Ini penting harus dikawal tanpa harus memberikan kuasa mutlak pada ekonomi kuat yang bersifat liberal di KDT itu. Kita harus menjadi tuan rumah yang mampu ambil bagian di segala aspek. Kawasan Parausorat akan kita sosialisasikan menjadi destinasi lainnya selain KDT.

Ronsen L.M. Pasaribu (Ketum FBBI), menyampaikan 3 hal. Pertama, soal tanah. Kedua, pariwisata. Ketiga, Marhube sebagai misi FBBI.

Tanah dan pertanahan harus dikelola secara produktif setelah ditertibkan administrasi tanahnya sekaligus untuk perlindungan hukum dan dapat dijadikan kolateral bagi usaha produktif. Semua hasil usaha harus menjadikan wisatawan sebagai konsumen, sehibgga pasar dari bonapasogit nantinya bervariasi dan unlimited.

 

[Slideshow "hut-gkpa" not found]

 

Masalah kawasan hutan yang beririsan dengan desa dan budidaya di bonapasogit, baik di Tapanuli Selatan maupun wilayah Toba, adalah masalah serius yang merugikan masyarakat adat kita. Karena itu, hal tersebut harus diatasi agar bonapasogit terbebas dari penjajahan oleh negeri sendiri. Domenin Verclaring jaman Belanda sebagai politik agraria untuk menguasai lahan, jangan sampai terjadi hari gini di bonapasogit. Masyarakat tak memahami lahan mereka, tetapi jika mau disertifikatkan barulah tahu kampungnya adalah kawasan hutan.

FBBI (Forum Bangso Batak Indonesia) adalah sebuah lembaga sosial kemasyarakatan yang dibentuk oleh para perantau yang peduli bonapasogitnya. Lembaga ini untuk membayar hutang sebab kita sudah diseklolahkan, didoakan, dan disemangati untuk maju di perantauan. Sementara kondisi di kampung kita perkembangannya sangat lambat. Oleh karena itu, ayo kita bangun desa kita sendiri, secara bersama maupun sendiri. Kecil atau besar jika kita gotong-royong akan dapat terjadi perubahan ke arah kemajuan. Jika tidak dapat, mari kita bantu secara materi. Malah hasil FGD atau tulisan bisa kita teruskan kepada masyarakat di bonapasogit.

 

BACA:  Perempuan Batak Adalah Manusia Tangguh

FBBI punya program Pelatihan Pelayanan Prima di perhotelan di Samosir, Pembangunan Balai Pustaka di 8 Desa/Kampung dengan jumlah buku minimal 400 judul buku, Bantuan Beasiswa, Makanan dan baju di Karo Korban Gunung Sinabung, Gasibu (Gerakan Seribu) serta di bidang Musik, Lagu dan batak.

Ronsen Pasaribu (kiri) dan Maruap Siahaan (kanan). Dua Ketum dari dua Ormas Batak.

Terakhir Kerjasama YPDT dan FBBI, yaitu: membangun kelembagaan HABATAKON sebagai pusat kajian dan pengembangan Budaya Batak di Negeri tercinta ini.

Penulis: Dr. Ronsen L.M. Pasaribu, SH, MM (Ketum FBBI)

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *