Kolang-kaling, Pembawa Rezeki Pada Ramadhan di Bonapasogit

KUALANAMO, BatakIndonesia.com — Tanah Batak, kampung halaman kami (bonapasogit) ternyata adalah salah satu pemasok terbesar kolang-kaling yang tinggi permintaannya di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, Semarang dan Surabaya. Apalagi di bulan Ramadhan ini, pangsa pasar kolang-kaling meningkat drastis. Tentu ini menjadi sumber rezeki bagi saudara-saudari kita yang berada di bonapasogit karena dari sanalah asalnya.

Sebut saja Sigolang bonapasogitku. Sungepining, bonapaaogit inangku (ibuku). Saya baru saja mengunjungi kedua desa tersebut pada akhir pekan ini. Desa lain pun tidak kalah ketinggalan, seperti Ulumamis, Tolang, Situnggaling, Sigiringgiring, Sipagimbar, Simangambat, Damparan, Silantom, dan Pangaribuan. Di desa-desa tersebut sepanjang mata memandang, ada saja aktivitas penduduk sedang memroses membuat kolang-kaling.

Pembuatan kolang-kaling tentu tergantung pada ketersediaan buah pohon enau. Buah tersebut menjadi bahan utama kolang-kaling. Beberapa orang saya wawancarai, di Sungepining dan Sigolang. Mereka merasa beruntung bisnis tahunan ini, sebab buah enau cukup banyak tersedia. Jika tidak dipanen akan terbuang percuma juga. Hanya prosesnya yang memerlukan tenaga, waktu, dan kesabaran.

Tenaga memanjat pohon enau yang tinggi penuh resiko, sehingga butuh keberanian. Tenaga memikul dari hutan ke rumah, perlu tenaga kuat pula. Kesabaran lebih pada ketelatenan yang biasanya menjadi ciri kuat dari kaum perempuan.

Buah enau dipetik dan dikupas. Setelah direbus, biji bulat bening warna putih bersih ini dijepit dengan alat sederhana sampai gepeng. Tindakan ini dilakukan monoton setiap biji. Jika ada 1.000 biji, ya sebanyak itulah tindakan menjepit bijinya. Di sinilah dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan.

Saya sempat merenung dengan satu pertanyaan: Ketika konsumen meminum kolang-kaling, apakah ia tahu prosesnya berasal dari bonapasogit orang Batak di Sumatera Utara nun jauh di sana? Lalu final produknya dibawa truk besar sampai ke Medan, Jakarta, dan lain-lain yang dapat menempuh jarak ratusan hingga ribuan Km. Belum lagi memasak minuman berupa kudapan minuman dan makanan dengan campuran santan, gula merah, gula pasir, pandan, atau ada lagi pemanis lainnya. Tentu sebagian besar orang tidak pernah membayangkan hal tersebut.

Di ujung tataniaga kolang-kaling ini, ini adalah wujud pemerataan ekonomi bagi masyarakat kota dan daerah di desa nun jauh di sana. Luar biasa, kemurahan alam, sumber daya agraria, dan kebaikan Tuhan juga.

Pada bulan Puasa, sebagai makanan dan minuman ringan ketika berbuka puasa, rasanya enak, segar, dan khas rasa kolang-kaling ini. Kolang-kaling termasuk kategori favorit bagi masyarakat kita, terutama bagi mereka yang sedang berpuasa.

Bandara Kualanamo, Medan, Senin, 13 Mei 2019 pukul 08.52 WIB.
Penulis: Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI, Pemerhati Pemberdayaan Maayarakat dan Bonapasogit)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *