Makna Pernikahan Anak Bagi Orang Batak, Gereja dan Negara

Pernikahan

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Menikahkan anak panggoran (anak penerus marga) apalagi anak sulung adalah hal sakral. Orangtua perlu mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, terutama bathin, lahir, dan materi.

Saya hendak menceritakan bagaimana kami mempersiapkan acara pernikahan bagi anak kami sendiri. Kami mempersiapkan pernikahan Anak Buhabaju, anak pertama kami bernama Marthin Sando Mayora Pasaribu, Sn.M.Sn dengan tunangannya Dian boru Gultom. Pernikahan anak sulung kami ini bukanlah yang pertama, tetapi yang kedua sejak yang pertama kami telah menikahkan boru kami, Cindy Riona Pasaribu, S.Com dengan menantu (hela) Dior More Pangaribun,SH.

Maksud hati kami ingin menyiapkan sebesar mungkin pernikahan mereka sebagai tanda kebesaran hati kami orangtua, namun ternyata dibatasi oleh keinginan anak. “Sederhana saja Pak,” begitu pesannya. Nah, sederhana atau tidak, jika buat acara unjuk di Surabaya dan resepsinya di Jakarta tentu tetap saja memerlukan persiapan dan energi yang lumayan menyedot tenaga dan daya. Tulisan ini bukan soal biaya dan daya tadi, sebab itulah konsekuensi hidup dan kehidupan. Yang ingin saya tuliskan meletakkan pada esensi suatu pernikahan dari sudut adat, negara dan agama.

Hukum Adat menghendaki seorang anak yang sudah menginjak dewasa supaya menikah seturut dengan adat istiadat orang Batak. Hukum perkawinan, mengacu pada adat di mana dilaksanakan. Adat nagok, artinya tahapan pernikahan, mulai kegiatan marhorihori dinding, patua hata, marhata sinamot, martuppol, maria raja, pesta unjuk, dan kegiatan fakultatif: Resepsi pernikahan buat handai taulan bagi yang tidak ikut adat istiadat.  Horihori dinding, pertemuan perkenalan kedua keluarga lebih pada tatap muka secara fisik serta perkenalan seperlunya bahwa anak kedua pihak sudah saling perkenalan.

Patua hata, selangkah lebih meningkat sebagai lanjutan tahap pertama. Kali ini sudah membawa keluarga lain dongan tubu (teman semarga), dan boru. Beberapa hal yang merupakan kesepakatan, sudah dibicarakan secara bisik-bisik antara kedua orangtua. Maka acara ini ada juga menamai “marhusip”.  Kesepakatan ini belum final, masih bisa tawar-menawar dan keduanya mulai saling memahami kedua pihak sebagai keluarga yang akan bertindak sebagai “besan” di kemudian hari. Biasanya pertimbangan agar jangan saling tersinggung dan bagaimana agar kedua orangtua bisa berbuat agar niatan suci anak-anak yang sudah saling mencintai bisa ditindaklanjuti. Jangan sampai ada sesuatu masalah tahapan adat yang buntu, yang membuat batalnya tahap berikut.

Marhata Sinamot, peserta di pihak lelaki dan perempuan diperluas lagi dengan melibatkan jumlah dongan tubu, boru, dan dongan sahuta.  Pihak lelaki sudah membawa seperangkat makanan, “namargoar”, menghormati hula dan pihak hula-hula menyiapkan “dekke”. Ini bagian dari adat, supaya pembicaraan ini berjalan secara adat dan mengikat secara adat pula. Pertemuan ini bisa 30-50 orang, masing-masing pihak. Simpulan dicatat seperti di mana acara, apakah di pihak laki-laki atau perempuan, kapan acara pesta adat, kapan martuppol, berapa uang jujur, berapa ulos dan lainnya, serta pertemuan ini sudah bersifat diplomasi sebab kesimpulan pendahuluan sudah ada catatan. Ini tinggal membuat hasil formal saja. Ini peningkatan status hubungan antara kedua pihak. Esensi pernikahan adat ini sudah mulai nampak bahwa pernikahan dua orang, akan mengikat dua keluarga besar.  Inilah yang khas bagi pernikahan Orang Batak yang memakai Adat.

Martuppol. Jika tahapan marhata sinamot terlampaui, dilaksanakan kegiatan Gereja. Tata acara Gereja ini pun mengikuti aturan yang ada pada gereja yang dipilihnya di mana penganten berada. Persyaratan diteliti, usia, status kedua calon apakah masih ada janji dengan laki-laki atau perempuan lainnya, apakah betul masih lajang, apakah bersedia mengikuti tatacara gereja dan diberikan khotbah persiapan pernikahan. Acara ini disaksikan lebih luas, sudah melibatkan jemaat. Pertanda bahwa transparansi, pertanggungjawaban perdata dan pidana.  Semua harus jelas, tanpa ada masalah lagi apabila pernikahan ini akan disahkan oleh Tuhan melalui hambanya/Pendeta.  Guna meyakinkan pengakuan ini, tidak boleh diterima begitu saja. Walaupun dinyatakan di gereja. Masih butuh dua kali dua minggu berturut-turut sampai pelaksanaan Pemberkatan Nikah diumumkan. Jika ada keberatan dari pihak lain, diberikan tenggat waktu melaporkan atau mencatatkan keberatan akan rencana perkawinan itu. Seumpama ada keberadaan yang masuk, segera diverifikasi dan diselesaikan. Bisakah batal? Prosedur ini memverifikasi kemungkinan batalnya apabila ada bukti yang sah ternyata persyaratan pernikahan kudus ini tidak lengkap. Terpaksa dibatalkan.

Pesta Unjuk adalah puncak acara. Ini ditandai dengan tiga kegiatan sekaligus dalam satu hari. Ini mengawali acara adat pertemuan di pagi hari, disebut “sibuhabuhai”, pihak boru menyiapkan makanan dan makanan adat. Kedua calon mempelai, dipertemukan dengan sama-sama memasang bunga serta memasang cincin. Hadirin dibatasi, dan dilanjutkan ke Gereja.

Pemberkatan Nikah, kegiatan yang paling sakral bagi kedua keluarga dan jemaat. Jika tidak ada lagi halangan, maka saatnya Gereja menjalankan prosesi yang baku sesuai Tata Ibadah Gereja. Tentu semua pihak, termasuk Jemaat, sudah turut serta menyaksikan pemberkatan ini. Lagu-lagu pujian, paduan suara, dan lagu solo, serta Khotbah pamungkas bagi mereka yang dipilihkan oleh Pendeta. Inilah tanda sah sebuah pernikahan. Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, inilah pasal pengaturan Negara bahwa sahnya suatu perkawinan apabila telah disahkan oleh Gereja dan Negara.

Sedangkan Adat bukanlah dalam ketentuan sahnya perkawinan menurut Negara. Adat ditetapkan secara hukum adat, untuk menentukan sah tidaknya penganten melaksanakan adat di kemudian hari. Hanya yang sudah diadatilah yang diperkenankan untuk ambil bagian dari kegiatan adat orang batak. Penyimpangan dari protap ini, tetap sah perkawinan dan dapat dilaksanakan suatu saat kelak bila sudah memungkinkan. Lazimnya disebut “adat sulangsulang pahompu”, pengesahan perkawinan setelah lahir cucunya.

Pencatatan Sipil merupakan kegiatan oleh Negara melalui Dinas Catatan Sipil (bagi agama Kristen). Dokumen ini yang digunakan untuk kepentingan Pengantin bila dikaitkan dengan dokumen Negara. Pegawai, Pasport, Warisan, kelahiran anak, Dispute di Badan Peradilan tentang apa saja seperti sengketa waris, cerai dan lain sebagainya memerlukan Catatan Sipil sebagai dokumen dasar pernikahan.

Kesimpulannya, ada tiga pilar besar jika kita melaksanakan pernikahan anak, yaitu Adat untuk menyiapkan anak masuk dalam komunitas orang Batak dengan segala kegiatan adatnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam skala kecil, sedang, dan besar, tergantung kesepakatan anak dan keluarga. Gereja, sebagai amanat Agung Tuhan semua laki-laki dan perempuan membentuk Keluarga sebab tidak baik seorang hidup sendiri untuk melahirkan keturunan dan terakhir pencatatan Sipil sebagai dokumen Negara.

Ternyata Pernikahan Orang Batak, sangat Sakral, dan membanggakan. Jadi, banggalah kita menjadi orang Batak.

 

Penulis: Ronsen L. M. Pasaribu (Ketua Umum FBBI)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *