Manat Mardongan Tubu

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Ada tiga filosofi orang Batak, yaitu: manat mardongan tubu, somba marhula-hula, dan elek marboru. Betulkah salah satu di antara tiga filosofi ini paling sulit atau rawan ditatakelola. Jika tidak manat, mudah berselisih atau ribut? Bagaimana memahami manat mardongan tubu ini? Sengaja saya bertanya pada dongan tubuku di laman Pasaribu Facebook, sekedar mendapat gambaran apa yang mereka pikirkan terhadap peran mardongan tubu ini?

Pengertian dongan tubu secara bebas adalah saudara seibu ayah seibu (tubu=lahir). Namun dikembangkan definisi itu menjadi satu rumpun marga. Kenyataannya sebelum marga pun dideklarasikan, seayah-seibu, atau seayah beda ibu, terjadi. Oppu Guru Tatea Bulan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Lalu dongan tubunya adalah abang-adik Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Maulana, Sagala Raja dan Malau Raja. Saat itu, namardongan tubu adalah mereka berlima dari siabangan sampai anak paling akhir.

Perkembangan berikutnya, setiap anak turun-temurun dengan membawa marganya sendiri. Jumlahnya ratusan marga induk, ditelusuri dari silsilah atau tarombo masing-masing.

Lihatlah Pasaribu. Siapa dongan tubunya? Pasaribu Habeahan, Pasaribu Bondar, dan Pasaribu Gorat.

Dongan tubu dalam adat Batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau Pasaribu Bondar sebagai Suhut, maka yang menjadi pelaksana adat adalah Pasaribu Habeahan dan Pasaribu Gorat.

Hubungan abang-adik ini, secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari di rumah, tentu sangat erat. Namun keeratan itu dapat terjadi mudah renggang bahkan perselisihan karena sesuatu hal yang sulit dihindarkan, biasanya soal harta warisan atau soal penerapan hukum adat dalam pembagian atau beban keluarga.

Abang-adik yang tidak “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna” artinya jika tidak manat maka tajam sekali perselisihannya. Potensi pertikaian.

Itulah sebabnya, setiap adat maka suhut tidak menangani sendiri adatnya. Ini harus dilaksanakan oleh abang dan/atau adiknya. Sampai sekarang kebiasaan itu menjadi pedoman wajib, dan karena kewajiban itu terhindarlah kemudahan perpecahan itu. Sekaligus menunjukkan “sisada anak sisada boru” artinya satu anak dan satu perempuan menghadapi.

Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat Batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yang diselenggarakan. Contoh: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Mengawali sebuah pesta adat, suhut mengundang dongan tubu di rumah dengan pokok acara sesuai tahapannya, seperti pasahathon ulaon (menyerahkan tugas pekerjaan ke dongan tubu) di atas makanan adat. Ini satu bentuk manat mardongan tubu, sehingga abang dan adik pun sebenarnya sudah dihormati dengan acara yang sakral, nilai penghormatan yang tinggi sebagai implementasi manat mardongan tubu. Dampak acara itu, maka abang-adik wajib mensukseskan dengan sepenuh hati dan tak boleh bercela.

Memudahkan pemahaman kita dalam pelaksanaan manat mardongan tubu, beberapa dongan tubu sebagai narasumber, dengan pertanyaan “Adakah contoh yang mudah dipahami, filosofi orang Batak tentang manat mardongan tubu?”

Contohnya:

  1. Lusman Pasaribu: Molo sala iba tu hula-hula boi iba ro mandapothon hula-hula i laho manopoti sala, jala mamboan sipanganon najagar. Molo sala tu boru, boi do iba ro dengan maksud songon na tu hula-hula i, mamboan dengke. Molo saha tu namarhaha maranggi “tung maol do dalan laho mardomu”. Alani ido asa didok MANAT atau HATI HATI. Diusahakan jangan ada yang fatal karena sulit padomuhon. Ido asa adong mandok ingkon mangallang indahan saor asa boi mardomu.
  2. Chan Moan Pasaribu: Molo muruk tulang i tu ahu.. Sogot nai ro ahu tu jabuna. Dibuka tulang i do pintu bagas nai..jala didok.. Bah naung ro do ho bere.. Alai mo salah iba tu na mardongan tubu.. Sogot nai ro iba tu jabuna, dibuka do pintu i alai alusna diluarima hamu.
  3. Jarisman Pasaribu: Manat mardongan tubu. Saya mau soroti tentang etika kesopanan dalam bertutur kata maupun bertanya apalagi kita sesama satu leluhur. Terkadang begitu enteng/sepele kita dalam bergaul serta berkomunikasi di antara na mardongan tubu.
    Etika saat bertanya di antara sesama Marga. Bapak juga berpesan bahwa dalam bertutur kata, ada baiknya gunakan kata, “Sattabi=Permisi/Mohon Izin.”
    Itulah salah satu contoh dalam berkomunikasi di antara semarga kita, sudah banyak yang kurang baik dalam bertanya maupun menjawab bila ada kekeliruan di sana.

    Saran saya, memang kita adalah satu marga, tetapi janganlah jadikan itu sebagai alasan untuk tidak berkomunikasi dengan baik. Anggaplah satu marga dengan kita itu adalah juga orang lain yang sangat butuh sentuhan, penerimaan, penghargaan dari pihak kita sendiri sesama satu marga. Jangan karena posisi si Abangan, lantas suka-suka melontarkan kata-kata umpatan, celaan, ejekan kepada mereka yang tarafnya di bawah kita. Ini tidak dibenarkan saya rasa.
    Tetap manat mardongan tubu dalam filosofinya kita harus saling menghargai dan menghormati, barulah tercipta kerukunan, keharmonisan, persatuan. Tanpa itu, saya pikir kita sama saja dengan persatuan-persatuan yang lain, menumbuhkan rasa kebencian, pertentangan dan akhirnya pertengkaran di antara kita. Mudah-mudahan tidak seperti itu. Semoga kita semua bisa mengamalkan prinsip “MANAT MARDONGAN TUBU” menjadi sebuah slogan yang dihidupkan di mana pun kita berada, khususnya sesama marga Pasaribu.
  4. Alister Pasaribu: Bah… Molo mardalan Amang… Ikkon manat do jolo idaon ni Amang dalan i.. alana molo so manat… Adong hau hau naambat disi.. olo ma gabe tartukktuk… Akibat na ribak dugul dugul…haluar ma mudar… Muse maol do malum.. molo lukka di dugul dugul amang… Jarangdo terbuka rahasia tu boru apalagi hula. Alai molo to dongan tubu, ba humolos pe.berani asalma boi selesai persoalan. Ido kan? Horas sehat ma amang. Songonon, justru ala sada group samarga do neang neang makkatai. Tanpa tabas.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manat mardongan tubu, ternyata sangat mendasar dilaksanakan oleh setiap orang Batak semarga. Adat takkan bisa dikerjakan sendiri, harus dengan anggi dan atau abang. Kuncinya di perilaku dan komunikasi, harus menunjukkan sikap dan kata yang merendah, rendah hati/toruk roha, pilihan kata tolong, sattabi, permisi, mohon ijin dan sejenisnya suatu keharusan dan tidak salah. Sekali lagi, paradaton tidak karena pangkat, kekayaan, dan jabatan. Namun keharmonisan di antara hula, dongan tubu dan boru, harus dijalankan secara bersamaan/simultan, sebagai filosofi orang Batak yang mulia dan bernilai tinggi.

Penulis: Ronsen Pasaribu (3 Mei 2020, 12:00 WIB)

BACA:  Selamat Jalan Binsar Hatorangan Siburian

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *