Mari Tumbuhkan Sifat Empati Atas Masalah Umum di Bonapasogit

BatakIndonesia.com — Kita perlu mengingatkan Bangso Batak supaya fokus pada masalah bersama. Kepekaan terhadap masalah bersama ini dalam suatu ilmu disebut empati. Empati adalah sebuah sikap keberpihakan kepada sesuatu masalah. Katakanlah masalah penggundulan sumber air bagi Danau Toba (DT). Dalam hal DT adalah segalanya bagi kita, tetapi pertanyaannya apakah kita peduli? Apakah kita empati akan krisis yang ada? Hal ini menghindari sebuah keacuhan pada diri kita secara pribadi atau secara komunitas. Terlebih jika komunitas, lebih mudah untuk mengelola suatu program, yang dapat mengasi masalah yang ada di hadapan kita.

Siapa conductor penyelamatannya? Mestinya pemerintah. Jika pemerintah belum hadir atau kekurangan ESDM dan Dana, ya di sinilah kita masyarakat berkebumian yang harus fokus melahirkan empati itu. “Kita”?, ya kita, saya, C.F. Sidjabat, 10 orang lainnya. Tidak hanya terbatas menanam, tetapi tanam (jenis kayu keras dan produktif), siram, pupuk, disayangi (bahasa tumbuh-tumbuhan) sampai besar tidak mati pasca ditanam. Satu kritik kita ada pihak yang consern menanam tapi pasca tanam tidak diperhatikan.

Tulisan ini memberi memberikan respons atas tulisan sahabat atau senior kita C.F. Sidjabat dalam laman pribadi beliau, yang membawa bibit sebanyak 20 jenis ke Desa Silalahi Samosir. Semangat itu saya anggap penting dijadikan contoh bagi lainnya. Selagi kita diberikan kesempatan, baik kesehaan maupun potensi di berbagai “perantau” yang sudah sukses.

Beberapa respons kami ungkapkan di sini, tanpa melakukan editing menjaga keaslian pemikirannya.

Yesaya Daniel Purba Rambe: “Kalau untuk sistem pengolahan limbah rumah tangga apakah di sana sudah ada, Tulang?

Ronsen Mangaratua Pasaribu: “Di Samosir, belum kita lihat sistem pengolahan limbah, mungkin sudah dirancang oleh Pemda. Ini terbukti pernah ada truk membuang sampah di jalan di tengah hutan.”  Itu maka ada komentar di atas, sebenarnya diskusi dengan C.F. Sidjabat yang menanam 20 jenis tanaman. Tetapi kegiatan ini tidak menjadi sistem di Pemda. Poinnya kita semua harus fokus masalah umum di tiap kabupaten.

Jery Lumban Gaol: “Masalah terbesar ada pada industri besar perkayuan di Danau Toba (belajar dari banjir bandang di Bakkara, Minggu kemarin). Kalau masyarakat tinggal dibina, pemerintah yang mengkondinir.”

Ronsen Mangaratua Pasaribu: “Bah, truk terbalik ya lae. Over load barangkali….. perlu diteliti juga ini. Apakah gelap atau terang?

Aman Lumban Gaol: “Lihat kayu yang bawa truk ini masih kecil sudah ditebang dan dibawa entah ke mana. Di mana instansi polisi dan kehutanan? Tidur atau kerjasama. Malulah buat derita rakyat dan lingkungan.”

Ronsen Mangaratua Pasaribu: “Kita harus bangunkan empati, lae, rasa keberpihakan dengan berpihak kepada rakyat dan kepentingan umum supaya ada percepatan penyelesaian masalah secara langsung. Tentu dengan bahasa yang baik, terus terang, tidak berbelit-belit, tanpa dendam, pokoknya harus semua berfikir secara ilmiah. Objektif, jujur, dan berani melakukan perubahan. Hanya dengan cara itu, kita bisa maju. Hilangkan sifat HOTEL itu (Hosom, Teal, Late), Lihatlah semua info sulit diperoleh di bonapasogit. Masalah kebersihan air Danau Toba saja harus masuk ke ranah Pengadilan.

Heddy Saragih: “Aiiima tongoon Tulang…horas selamat pagi tulang…masalah Danau Toba ya masalah halak hita, bukan hanya masalah hutan yang tetap green and suistainable, tetapi masalah peternakan babi skala besar masih ada di sekitarnya yang limbahnya pasti mengalir ke Danau Toba. Ini sangat tak patut di daerah tiga runggu Kab Simalungun atau Simarjarunjung ada ternak babi yang sangat berdampak ke Danau Toba. Untuk jadi bahasan bersama halak hita. Horas, mejuah-juah, menbanta kerina.”

Thomson Napitupulu: “Semua harus kompak di DT untuk melawan penebang kayu liar ini Kalau tidak….satu hari erosi Banjir dan longsor…. juga jadi daerah bertambah panas… tidak lagi segar di waktu malam….. gawat kalau sudah begini….. jadi kita harus menjaga lingkungan hidup di kampung masing-masing. Di pulau Jawa kapan hujan 4 jam langsung banjir tanah longsor karena di bukit-bukit tidak ada lagi pohon-pohon yang besar penahan hujan untuk mengisap air hujan.

Juga satu hari… jalan mau ke Parapat itu suatu hari akan longsor…. Semua warung-warung di pinggir sepanjang Jalan Parapat akan tertutup, bahaya bunggg!

Kesimpulan yang diambil dari diskusi ini adalah :

  1. Pemerintah sebagai conductor dalam pembangunan mencari solusi atasi polusi air DT, masalah sampah, Penebangan Kayu secara ilegal, termasuk membagun ESDM.
  2. Empati itu perlu dibina sejak kecil, menjadikan budaya dalam kehidupan di bonapasogit. Bersifat ilmiah, terbuka, obektif, terus terang dengan penyampaian yang sopan dan terhormat.
  3. Sifat empati sudah ada sejak Nenek Moyang kita sampai sekarang perlu dibangunkan kembali.

Terimaksih kepada partisipan diskusi ini, semoga ada yang baik dan positif bagi pembangunan Bonapasogit. C.F. Sidjabat, Ronsen LM Pasaribu, Jesaya Daniel Purba, Jerry Lumban Gaol, Arman Lumban Gaol, Thomson Napitupulu. (DS)

Jakarta 23 November 2017 (DPP-FBBI), pkl. 9.33 WIB.

Ditulis oleh Ronsen LM Pasaribu/Ketua Umum FBBI

 

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *