Masa Depan Gereja Batak dan Gereja Batak Masa Depan, Bagaimana Menindaklanjutinya?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Gereja selalu tertinggal di belakang dalam mengantisipasi kemajuan zaman. Padahal kemajuan zaman itu terjadi karena banyak orang Kristen cerdas dan beriman, sehingga membuat banyak inovasi dan kreasi untuk peradaban dunia yang lebih baik. Ironis, sekarang sepertinya berbanding terbalik. Dalam sebuah seminar sehari, masalah ini sempat dibahas dengan mengangkat topik: “Masa Depan Gereja Batak dan Gereja Batak Masa Depan.” Seminar berlangsung di Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB) Pulomas, Jakarta Timur, pada Sabtu (15/6/2019).

Apa itu Gereja? Kita harus memiliki satu pandangan dulu dalam memahami apa itu Gereja? Pandangan umum yang sudah banyak melekat dalam pikiran kita bahwa Gereja bukan sekadar gedungnya, tetapi orang-orangnya sebagai umat Allah yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat Dunia. Kita tidak akan panjang lebar menguraikan tentang Gereja. Yang terpenting kita pegang dulu pandangan ini sebagai landasan kerangka berpikir.

Bagaimana dengan masa depan gereja, khususnya Gereja Batak? Demikian pula kita tergelitik dengan pertanyaan: Bagaimana pula Gereja Batak masa depan? Salah satu pendeta yang memiliki kepoedulian tersebut adalah Pdt Marihot Siahaan, S.Th. Kedua pertanyaan tersebut menggelisah kita sebagai gereja (setidaknya Pdt Marihot Siahaan sendiri juga gelisah melihat Gereja Batak saat ini). Tidak mengherankan jika pada 2017 lalu dalam peringatan masa pelayanan kependetaanya, topik yang diangkatnya sama. Jadi topik tersebut (Masa Depan Gereja Batak dan Gereja Batak Masa Depan) diangkat kembali dalam seminar tersebut karena kita makin tambah gelisah melihat masa depan Gereja, khususnya Gereja Batak.

Kita akan fokus membicarakan masa depan Gereja Batak. Berbicara tentang masa depan Gereja Batak tentu kita hendak mempersiapkan generasi muda Batak (naposo) melanjutkan tongkat estapet “gerejawi” (dalam arti kepemimpinan, tritugas panggilan gereja, dll) kepada mereka. Apakah naposo sudah dipersiapkan dengan baik dan benar? Sejauh mana kaderisasi Gereja kepada naposo? Dua pertanyaan ini saja sudah menggelisahkan kita ketika kita melihat makin banyak naposo meninggalkan gereja.

Bercermin dari visi dan misi yang diemban Rasul Paulus bagi Gereja, ia mempersiapkan generasi muda (naposo) seperti Timotius, Titus, Filemon, dan Onesimus. Generasi inilah yang kemudian menggantikan generasi kerasulan untuk menjalankan misi gereja mengabarkan Injil ke segala penjuru dunia.

Masa depan gereja sangat ditentukan dari misi gereja. Pdt Prof Dr Jan Sihar Aritonang, salah satu pembicara pada seminar ini, menuturkan bahwa selama beberapa abad tujuan misi gereja adalah pengkristenan. Bahkan Gustav Warnecks dalam bukunya berjudul Evangelische Missions Lehre (EML) menyatakan tujuan dari misi adalah pengkristenan (volkschristianisierung) seluruh rakyat.

Namun sejak 1930 muncullah pemahaman baru bahwa misi gereja pada hakitatnya adalah Missio Dei (Misi Allah). Yang bermisi itu terutama adalah Tuhan Allah yang Tritunggal. Tujuan dari Missio Dei ini terutama adalah bukan sekadar membuat orang menjadi Kristen, tetapi mewujudkan syalom (damai sejahtera) keselamatan yang komprehensif dan holistik.

Jadi Gereja di era milenial ini melaksanakan Missio Dei untuk menghadirkan syalom kepada semua orang bahkan kepada segala makhluk (bdk. Mrk 16:15). Soal apakah seseorang itu menjadi Kristen atau tidak, kita menyerahkannya kepada Kuasa Roh Kudus yang akan membuat ia mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Bagian kita adalah memberitakan Injil agar syalom itu dapat dirasakan segala makhluk, termasuk manusia.

Gereja yang melaksanakan Missio Dei dengan benar sebagaimana sudah disampaikan Yesus Kristus melalui Kitab Suci (Alkitab) adalah Gereja yang misioner. Inilah paparan yang disampaikan guru besar teologi STT Jakarta itu dengan topiknya: “Mengembangkan Gereja-gereja Batak Menjadi Gereja yang Misioner.”

Pembicara kedua, Pdt Dr Richard Daulay (mantan Sekum PGI dan dosen di UPH) mengangkat masa depan Gereja Batak dari perspektif kepemimpinan Gereja. Topiknya adalah “Masalah Kepemimpinan dan Pemimpin dalam Gereja Batak.”

Dalam pengamatannya, Pdt Daulay memperhatikan bahwa dalam suksesi kepemimpinan gereja di beberapa Gereja Batak seringkali terjadi gesekan yang sebenarnya tidak perlu. Masalah jabatan, terutama jabatan tertinggi seperti Ephorus atau Bishop, jadi perebutan yang luar biasa. Mengapa demikian? Karena di dalam jabatan tersebut ada power (kuasa).

Menurut Pdt Daulay, jabatan yang memiliki kuasa tersebut di mana ia berkuasa menentukan penempatan pendeta di jemaat atau lembaga gereja. Inilah yang disebut dengan istilah sending pastor. Lawannya adalah calling pastor. Jenis sending pastor seperti ini masih banyak dianut Gereja-gereja Batak, padahal induknya gereja-gereja di Eropa dan Amerika sudah meninggalkan tipe sending pastor tersebut dan beralih ke calling pastor.

Tipe sending pastor adalah penempatan pendeta ke jemaat tanpa meminta pertimbangan dari jemaat atau pendeta yang bersangkutan. Sementara calling pastor adalah Gereja yang memberi wewenang kepada jemaat untuk merekrut/memanggil (calling) pendeta yang akan bertugas di jemaat.

“Andaikata di Gereja-gereja Batak, kuasa jabatan Ephorus/Bishop dimodifikasi dengan cara mengubah sending pastor menjadi calling pastor atau setidaknya keduanya dikombinasikan, saya yakin perebutan jabatan Ephorus, Bishop, atau Ketua Sinode tidak akan setegang seperti sekarang,” ujar Daulay.

Pembicara ketiga, Pdt Marudut Manalu, M.Min, mengangkat topik Masa Depan Gereja Batak dan Gereja Batak Masa Depan yang berfokus pada teologi Martin Luther (Reformator Gereja abad pertengahan). Menurutnya, Gereja Batak perlu memahami dan menghidupi teologi Luther yang utama, yaitu Sola Gratia (hanya anugerah), Sola Fide (hanya iman), dan Sola Scriputura (hanya Kitab Suci/Alkitab).

Dua tonggak pertama, Sola Gratia dan Sola Fide, saling berkaitan. Melalui anugerah Tuhanlah kehidupan warga gereja dibaharui dan juga kehidupan masyarakat.

Sola Scriputura menegaskan bahwa pedoman hidup orang beriman (percaya kepada Kristus) yang utama adalah Alkitab bukan tradisi. Segala sesuatu dalam hidup kita bergereja dan bermasyarakat dinilai dari Alkitab.

Agar masa depan Gereja Batak berjalan dengan benar maka teologi Luther tersebut menjadi landasan dasar gereja untuk menghidupinya. Ini sejalan dengan motto yang disuarakan Luther, yaitu: Ekklesia reformata semper reformata (Gereja Reformasi senantiasi mereformasi diri).

Seminar yang berlangsung hampir selama 7 jam ini dihadiri lebih dari 200 peserta. Acaranaya terdiri dari dua sesi. Sesi pertama setelah kebaktian menampilkan dua pembicara, yaitu Prof Dr Jan Sihar Aritonang dan Pdt Dr Ricard Daulay. Sesi kedua, Pdt Marudut Malau, M.Min menjadi pembicara ketiga dan didampingi Pdt Daulay. Sebagai moderator dalam acara ini adalah Jerry R. H. Sirait (salah satu pendiri Batak Center).

Tampak hadir pula antara lain: Pdt Frans Ongirwalu (Ephorus GPKB) dan istri, Pdt Dr J. R. Hutahuruk (Mantan Ephorus HKBP), Pdt Dr (HC) Poltak Siahaan (Mantan Dirjen Bimas Kristen), H.P. Panggabean (Mantan Hakim Agung), Maruap Siahaan (Ketua Umum YPDT), Budi Sinambela (Ketua Yayasan Pendidikan Mpu Tantular), Saut Poltak Tambunan (Sastrawan), Pdt BDF Sidabutar (Mantan Praeses dan mantan kepala Diakonia HKBP), Pdt Luhut Hutajulu (HKBP), Pdt Berton Silaban (HKI), Pdt Simbolon (HKBP), Pdt Togar Hasugian (HKBP), Pdt Maurixon Silitonga (HKBP), Pdt Romeo Sinaga (HKBP), Pdt Ida Turnip (Oikumene), Pnt L.A. Siahaan (Guru Jemaat GKPI Menteng), Prof Dr Gimbal Doloksaribu, dan Pdt R solin (GKPPD) serta berbagai tokoh dan pelayan lainnya.

Seminar ini dapat terselenggara berkat dukungan Jemaat dan Majelis Jemaat GPKB Pulomas serta Lutheran Heritage Foundation.

Pewarta: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *