Menyiasati Patua Hata untuk Acara Adat Batak yang Beda Puak

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Dalam acara adat Batak, kita tidak akan mengalami masalah jika kedua pihak berasal dari puak yang sama. Bagaimana jika puaknya berbeda? Kita perlu menyiasatinya secara bijak. Berikut ini dalam sebuah acara Adat Batak antara Fernando Ritonga dan Sri Ulina Windasari br Surbakti terjadi perbedaan acara adat dengan puak yang berbeda, yaitu Puak Angkola dan Puak Karo. Karena itu, kita perlu menyiasati untuk Patua Hata dalam adat Batak tersebut.

Togu urat nib ulu, togu urat ni pandan; Togu hata ni uhum, toguando ruhut ni padan.

Patua Hata merupakan Bahasa Toba, sedangkan dalam Bahasa Karonya adalah nganting manuk. Ini sebagai tindak lanjut dari acara marhori-hori dinding atau bisa disebut marhusip, di mana rombongan yang datang dari keluarga laki-laki dalam jumlah yang lebih besar dengan unsur dongan tubu, dan boru untuk menyatakan keinginan melamar anak perempuan dari keluarga perempuan untuk dijadikan menantu. Karena sebelumnya keinginan dan hubungan hanya sebatas hubungan antara pemuda-pemudi (naposo) dan kemudian meningkat sampai orangtua harus campur tangan.

Mengikuti patua hata, antara Fernando dan Sri Ulina, menarik karena kedua keluarga berasal dari Puak Batak Angkola dan Batak Karo, namun menyepakati dilaksanakan dengan Batak Toba. Mengikuti adat Batak di mana lingkungannya banyak puak Batak Toba. Format dan tata caranya, tentu kita sudah pahami bersama, dimulai penerimaan oleh keluarga perempuan atas kedaangan keluarga laki-laki.

Memberikan tudu-tudu sipanganon, dari pihak laki-laki dengan namargoar, kepada pihak boru. Setelah itu, pihak hula-hula memberikan dekke simudur-udur ke pihak paranak. Makan bersama, kemudian dialog lebih resmi tentang besarnya sinamot (mahar), taruhon jual, atau tempat pesta dan mandok hata kepada calon pengantin bergantian agar sejak sekarang jangan lagi tergoda oleh lamaran atau pendekaan siapapun baik laki-laki maupun perempuan. Inilah arti patua hata, sudah melibatkan kedua belah pihak keluarga besar Ritonga dan Surbakti. Selesai tahap itu, keduanya menyalami keluarga, lelaki menyalami keluarga perempuan dan sebaliknya perempuan menyalami keluarga laki-laki.

Yang menarik, jika keduanya berbeda, adat Karo disepakati akan melangsungkan sebuah acara khusus sesuai adat Karo sekitar 1 jam selepas Pemberkatan Nikah di Gereja. Selebihnya sesuai adat Batak Toba. Ulos sejumlah 17 helai, disepakati cukup, tidak lagi ada tambahan ulos holong. Yang menjadi kesulitan, Raja parhata dari pihak perempuan, akhirnya disepakati salah satu dari pihak paranak, sementara dijadikan bagian dari marga Surbakti. Tentu kapasitasnya, juru bicara mewakili marga Surbakti.

Sebagai gambaran lengkapnya, urutan acara Patua hata ini, sebagaimana diuraikan di bawah ini.

  1. Rumang ni ulaon: menyepakati ulaon taruhon jual, acara di paranak dan ulaon sadari.
  2. Somba ni uhum: besaran nilau uang rupiah sinamot. Biasanya jumlah ini disepakati saat marhori-hori dinding dengan mencerminkan angka kesepakatan karena acara di pihak paranak. Saat patua hata, tinggal formal saja.
  3. Tintin Marakkup dohot Upa Tulang. Bisa disepakati, dos niroha.
  4. Pinggan Panganan dohot Ulos Tinonun Sadari, disepakati dengan Marsinakkok tangga ni Balatukna.
  5. Ulos Herbang: 17 helai.
  6. Martuppol: tidak ada, hal ini tergantung kebiasaan di Gereja masing-masing. Ada yang wajib ada yang tidak perlu.
  7. Sibuhabuhai/sarapan pagi: Disepakati kedua belah pihak, jam berapa dan di mana tempatnya.
  8. Pamasu-masuon, menyepakati di mana pemberkatan, dalam hal ini disepakati di tempat parboru.
  9. Pesta Unjuk/Adat, disepakati tempat dan waktunya. Biasanya langsung pada saat ini diedarkan undangannya. (cara ini efisiensi waktu, karena hadir semuanya).
  10. Panjuhuti: Lombu Sitio Natinutungan.
  11. Parjambaran: Raja naro sidapot solub.
  12. Undangan di Parboru dan Paranak: disepakati dalam forum Patua hata ini, berapa di paranak dan di parboru. Inipun pada dasarnya kesepatan kedua belah pihak.

Akhir dari Patua hata, yaitu menyampaikan ingot-ingot berupa uang bisa Rp2.000,00 atau Rp5.000,00. Pertama diserahkan kepada kedua calon penganten untuk menyimpannya sebagai kenang-kenangan, dilanjut kepada kedua pihak keluarga seluruhnya harus dapat agar berfungsi sebagai pengingat dan diakhiri dengan doa.

Selain itu, kedua pihak, melangsungkan acara Martonggo Raja, untuk melaksanakan kesepakatan perencanaan operasional, apa saja yang disepakati saat Patua hata itu. Ini lebih detail, pembagian tugas antara dongan tubu, boru dan bere, terutama pihak yang habolahan amak (tuan rumah). Siapa mengerjakan apa. Sebagai gambaran, dapat dijelaskan hal-hal yang dipersiapkan sebagai berikut:

Format list petugas/parhobas:

  1. Peserta di Sibuhabuhai, dongan ni Hasuhuton: dipertimbangkan keluarga dekat dan alamat yang relatif dekat dengan Gereja atau gedung sibuhabuhai. Walau jauh tetapi komitmen harus hadir, secara pasti. Siapa koordinatornya.
  2. Mandok hata di Gareja. Biasanya diambil dari Suhut paidua atau keluarga yang dituakan.
  3. Penerima Tamu, diambil dari keluarga, usia remaja.
  4. Petugas memeriksa Dekke ni Hula-hula, penghubung ke Catering.
  5. Protokol di Gedung.
  6. Parhata/parsinabung: ditentukan seorang spesialis yang menguasai dan sudah teruji sebagai parhata di acara adat.
  7. Boru ni Parlopes, diambil dari boru kandung atau yang paling dekat dengan penganten.
  8. Namanjalo boras dohot dekke ni hula-hula: diambil dari boru yang sigap dan tegas.
  9. Namangaradoti Parmasuk ni Horong ni Hula dohot Mangaradoti Hundulan ni Hula-hula.
  10. Napasahat sulang-sulang naabo.
  11. Naparade tudu-tudu ni Sipanganon, penghubung ke pihak catering, jangan sampai pada saatnya diperlukan tidak ada tudu-tudu sipanganon.
  12. Pande juhut/namanggaoi Jambar. Ini harus ahli, mengetahui seluk beluk nama-nama bagian jambar.
  13. Napasahat Jambar, bisa dua atau tiga orang, boru.
  14. Pengawas konsumsi (makanan), lazimnya karena sudah ada catering, ini tetap diawasi, apakah ada makanan yang terlambat, atau tidak dibagikan, atau ada sudah dibagikan namun habis karena (maaf dipalastiki/dipalas, ini bahasa guyonan ibu-ibu, mudah-mudahan tidak menjadi budaya).
  15. Membagi snack, begitu acara agenda adat dimulai. Inipun ada aturannya kapan mulai masuk makanan ringan, termasuk kopi, teh, atau bir.
  16. Yang melayani Undangan Umum, Catatan khusus bagi undangan umum dari kantor dan rekan sejawat. Harus mengenal, dan sikap santun karena mereka bukan suku Batak, serta sangat mungkin pejabat tinggi. Diantar untuk diberi kesempatan memberi salam dan doa ke panggung.
  17. Penanggung jawab sipatupaon di ulaon sadari.
  18. Namamangaloppit ulos dan terakhir koordinator kendaraan.

Semoga informasi di atas, berguna bagi pembaca yang budiman, sekaligus pengenalan akan substansi acara patua hata dan martonggo raja (khusus tuan rumah/habolahan amak).

Jakarta, 15 Juni 2019

Pewarta: Ronsen LM Pasaribu (Ketum FBBI/pemerhati Bonapsogit)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *