Pemimpin Itu adalah Motivator

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Dalam Ilmu Kepemimpinan manapun, baik modern maupun tradisional, baik kotaan maupun kampungan, pemimpin itu adalah motivator. Ya, dia adalah motivator bagi semua warga yang dipimpinnya. Setelah dia menetapkan tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi yang dipimpinnya (to lead, as a leader) dia segera bertindak, antara lain, sebagai motivator. Dia memotivasi semua sumber daya organisasi di bawah kepemimpinannya untuk bersama-sama mencapai tujuan itu. Para pemimpin di bawahnya (manager) memastikan bahwa semua sumber daya yang ada di bawah kemanajerannya juga menuju ke tujuan itu.

Terkait dengan pemimpin yang memotivasi itu, dalam konteks pemimpin yang pelayan (servant leader), pengertian motivasi berbeda sedikit dari motivasi yang diberikan oleh kebanyakan motivator. Kalau motivator kebanyakan bekerja di ‘belakang’ layar, pemimpin motivator bekerja di semua lini (depan, tengah, belakang, samping kiri dan kanan). Oleh karena itu, segala tindak-tanduknya haruslah memotivasi; cara bicara, termasuk pemilihan isu dan diksi; dan cara berjalan, misalnya.

Orang Batak mengenal perumpamaan “Molo mamolus raja (baca: pemimpin, bukan pimpinan), tano na tungil gabe napu (Kalau raja melintas, tanah tandus menjadi subur).” Perumpamaan itu bermakna bahwa segala tindak-tanduk pemimpin haruslah memotivasi, termasuk di mana pun dia berada.

Bagaimana mungkin ketika seorang raja melintas mengakibatkan tanah tandus menjadi subur? Jawabnya begini. Ketika raja melintas di suatu tempat, termasuk di tempat yang tanahnya tandus, kehadirannya di situ akan membangkitkan semangat kerja rakyat yang bermukim di situ. Dengan bangkitnya semangat kerja (motivated), mereka akan mengolah tanah tandus itu, mengusahakan air ke situ, dan mengupayakan pupuk untuk menyuburkannya. Itu bisa terjadi kalau setiap tindak-tanduk raja bermuara pada makin termotivasinya rakyatnya. Raja yang demikian haruslah menghindari sejauh mungkin perilaku yang mendemotivasi rakyatnya.

Kepemimpinan yang seperti itu juga berlaku untuk pemimpin pemerintahan agar tujuan pemerintah tercapai. Presiden adalah leader bagi sebuah bangsa. Gubernur adalah manajernya. Sementara itu, gubernur adalah leader bagi provinsi yang menjadi wilayah kepemipinannya. Di sini, bupatilah manajernya. Demikian seterusnya.

Ketika pemimpin tertinggi (presiden) sudah menetapkan tujuan, semua jajaran pemimpin di bawahnya haruslah membuka jalan bagi tercapainya tujuan itu. Tidak boleh dengan dalih desentralisasi, misalnya, seorang gubernur menempuh jalan yang menyimpang dari tujuan itu. Demikian jugalah bupati ke gubernur. Dan, itulah hakikat bernegara yang sebenar-benarnya.

Ketika pemerintahan yang lebih tinggi menetapkan satu daerah sebagai prioritas tujuan wisata, misalnya, maka semua pemimpin di daerah itu haruslah berupaya sekuat mungkin mewujudkannya. Segala sumber daya harus dimobilisir untuk mencapainya. Di pihak lain, segala peraturan yang menghambatnya harus disingkirkan. Nah, di sinilah peran sentral pemimpin yang motivator itu; yang kehadirannya semata-mata untuk mensejahterakan rakyatnya, termasuk suasana hatinya.

Penulis: Albiner Siagian

BACA:  Gereja Batak Sebagai Benteng Pelestarian Bahasa Batak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *