Peran Bambu dalam Masyarakat Batak, Masihkah?

Peran Bambu

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Peran Bambu dalam masyarakat Batak, masihkah? Mengapa pertanyaan ini muncul di benak Ronsen Pasaribu? Ya, karena Ronsen Pasaribu pernah tinggal di kampung halamannya Tanah Batak (bonapasogit) dan merasakan bahwa masyarakat Batak mulai melupakan peran bambu bagi kehidupan mereka.

Bambu, di Jepang disebut Bambo, tumbuhan yang sangat akrab di telinga kita terlebih sebagai orang yang berasal dari pedesaan. Tumbuhan bambu ini selain mudah tumbuh, tetapi manfaatnya bagi keperluan manusia sehari-hari sangatlah banyak. Kehadiran bambu ini nampaknya tidak bisa dilepaskan dari peradaban manusia itu sendiri. Betapa pentingnya bambu, boleh dikatakan tidak ada desa atau kampung yang tidak menanam bambu. Bahkan ada yang tidak ditanam pun bambu akan tumbuh sendiri sebagai bagian dari tanaman-tanaman liar di hutan-hutan.

Pernahkan kita berfikir, kenapa kita tidak membudidayakan bambu itu jikalau memang manfaatnya multi fungsi bagi manusia? Terkadang, begitulah sifat manusia, apabila terjadi kelangkaan maka harganya akan naik. Sebaliknya, bila ketersediaannya banyak maka nilainya akan turun bahkan tidak berharga sama sekali. Masalahnya, langka tidaknya jika pendekatannya menjadi objek ekonomi, maka bambu ini bisa menjadi langka, sehingga harganya bisa dinaikkan bahkan bukan tidak mungkin menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat kita di bonapasogit.

Mari kita lihat manfaat bambu di bonapasogit, secara tradisional digunakan oleh masyarakat. Referensinya diambil dari pengalaman pribadi atau observasi sejauh yang penulis alami di berbagai tempat.

Beberapa contoh jenis bambu dan pemanfaatannya sebagai berikut:

@ Rebung. Bambu yang masih muda, cikal-bakal pohon bambu dapat digunakan untuk sayur mayur yang dinamai ‘rebung’.  Hampir semua suka rebung, apalagi cara mengolahnya menjadi salah satu kuliner di bonapasogit. Rebung dicampur daun singkong, rebung gulai dicampur lele asap (di Tapsel), rebung dicampur Ikan Mas, susu kerbau, daging sapi. Kuliner rebung ada di Toba, Pakpak, Simalungun, dan Karo.

@ Tepas untuk rumah. Bambu yang sudah tua, bisa dibelah lalu dihaluskan dengan potongan kecil-kecil, dalam ukuran tertentu dan disusun teratur sampai bentuknya melebar. Ini dapat digunakan menjadi ‘dinding’ rumah atau sopo. Semakin halus penanganannya akan semakin bagus, tidak ada lobangnya. Sentuhan teknologi dengan mekanisasi mesin akan membuat bambu bisa lebih artistik digunakan untuk rumah tempat tinggal maupun restauran dengan bangunan bambu, sehingga kesan modern namun alamiah.

@ Tempat air, dengan penamaan berbeda satu daerah dengan daerah lainnya. ‘Panyuhatan” (Tapsel) digunakan membawa air dari pancuran ke rumah, sehingga perlu beberapa potong bambu sepanjang 1,5 M. Bambu pun dipergunakan untuk menampung tetesan air nira, cikal-bakal gula aren dan tuak.

@ Jembataan, kursi atau perabot rumah tangga, alat pancing, ultop. Akar bambu pun dapat diukir menjadi hasil karya, seperti patung burung, patung bebek, dan lainnya.

@ Alat musik tradisional dan modern. Seruling, untuk musik tradisional Tapanuli menjadi musik yang tidak tergantikan karena jenis ini selalu menjadi alat musik yang mampu mengekspresikan kebiasaan petani ketika memelihara kerbau, kebiasaan martandang, atau pelengkap jenis musik dalam musik gabungan dengan jenis lainnya (Band). Jenis musik Dangdut pun, serulling bambu ini menjadi yang utama, tanpa seruling sepertinya tidak lengkap sebuah musik dangdut itu.  Angklung, di Jawa Barat, Kulintang di Manado, menggunakan bambu.

@ Keamanan suatu Kampung. Kampung mula-mula, ditandai dengan menanam bambu sebagai pembatas suatu kampung, dengan tujuan pertahanan dan keamanan. Pertahanan dari musuh yang menyerang suatu kampung, atau keamanan dari ancaman binatang buas.

@ Penyangga bangunan. Bambu dapat menjadi alat bantu mendirikan bangunan beton. Begitu juga penyangga bila perlu di bidang pertanian. Masih banyak lagi daftar yang bisa kita tuliskan betapa bambu itu penting bagi peradaban manusia itu sendiri, sehingga menjadi barang yang bersifat ekonomi, namun belum cukup kita bididayakan secara terencana.

Pengalaman ke Jepang, pernah  kami mengunjungi suatu pegunungan yang ditanami bambu. Ya, hanya bambu isi dari lokasi wisata itu. Selebihnya bangunan yang juga menjual hasil industri yang bahan bakunya bambu.  Arasimaya Bambo Grove. Lokasinya di Fushimi Inari Shrine.

Lokasi ini mampu menyedot jutaan pengunjung, karena memang dipromosikan ke seluruh dunia. Lengkap dengan tuntunan, informasi Kereta Api yang berakhir di lokasi ini. Mengingat tempat ini dingin dan selalu datang hujan, pengunjung selalu dihimbau membawa payung. Atraksi unik lengkap di sana, termasuk becak ditarik manusia bukan kuda. Bambu dipelihara berdiri tumbuh lurus-lurus, sehingga para pelancong sangat senang melihat tidak semata mata melihat bambu itu, tetapi tata kelola lokasi dan suasana hutan bambu itu yang indah.

Pemikiran saya, apakah tidak mungkin di Kawasan Danau Toba, tentu sisi Kawasan yang masih ada hutannya bisa kita kembangkan Hutan Bambu, sehingga menjadi salah satu Icon Kawasan Danau Toba kelak. Hutan di wilayah Simalem, Karo, atau Pakpak, atau Samosir, masih memungkinkan dibangun resor yang dikombinasikan dengan Hutan Bambu ini. Itu saja, harapannya agar benar-benar ada diversifikasi dan dierensiasi produk unggulan Kawasan Danau Toba, pelengkap kepuasan mata sejauh memandang air Danau Toba yang memang tiada duanya di dunia ini.

Oh Bambu, akankah menghiasi puisi dan lagu tentang Danau Toba, kelak di kemudian hari? Setenar lagu Pulau Samosor, yang banyak kacang, bawang, dan pinahan. Ini juga melengkapi Lagu O Tao Toba, Rajani sude na Tao (Danau Toba Raja dari segala danau). Semoga mimpi jadi kenyataan dan penuh harap.

Penulis: Ronsen LM Pasaribu (Praktisi Agraria, Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat serta Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *