Perempuan Batak Adalah Manusia Tangguh

Perempuan Batak

JAKARTA, BatakIndonsia.com — Perempuan Batak adalah manusia tangguh. Cukup beralasan kita mengatakan seperti itu karena banyak perempuan Batak yang sudah berkeluarga gigih mengurusi anak-anaknya dan suami. Itu bisa kita rasakan ketika kita melihat inong (mama) kita sendiri.

Salah satu perempuan Batak yang dapat kita kategorikan perempuan tangguh adalah Roswaty Siregar. Roswaty Siregar adalah seorang pengusaha yang menggerakkan kaum perempuan mampu menjadi pengusaha, meskipun jualannya terdengar sepele, Kembang Goyang. Kembang Goyang adalah makanan (kuliner) lokalitas Sumatera Utara yang dikemas sercara profesional, sehingga terlihat higenis dan menarik. Bahkan Kembang Goyang merambah ke kelas menengah-atas.

Roswaty juga aktif berkecimpung di beberapa organisasi, salah satunya Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI). Di DPP FBBI, Ia dipercayakan menjadi Ketua Bidang UKM. Dalam kesempatan acara bulanan FBBI, Focus Group Disccussion (FGD) pada Selasa (31/10/2017) di Kantor Sekretariat FBBI, Roswaty memantik diskusi bertema: “Ekonomi Kreatif Batak Nauli (Potret Perempuan Batak).”

FGD tersebut dipandu Antoni Pardosi. Pardosi memperkenankan Roswaty memantik diskusi dengan menyampaikan beberapa pokok gagasannya. “Pada dasarnya perempuan Batak selain tangguh mengurusi rumah tangganya, mereka ada juga yang kreatif mengembang inovasi agar dapur di rumah tetap ‘ngebul’,” jelas Roswaty.

Roswaty menyampaikan bahwa ia sudah banyak membimbing ibu-ibu, yang kebanyakan single parent, mengembangkan UKM (usaha Kecil Menengah). Meskipun kebanyakan dari ibu-ibu bukan boru Batak, tetapi mereka berhasil dalam mengembangkan usahanya.

Roswaty mengharapkan hal seperti ini bisa dikembangkan di bonapasogit (kampung halaman) dan pemasarannya bisa di Jakarta dan kota-kota besar lain. FBBI dapat berperan menjadi mitra usahanya.

 

[Slideshow "fgd-dan-hut-ke-62-ketum-fbbi" not found]

 

Pardosi memandu alur diskusi yang diawali dengan tanggapan dari Ida Pasaribu. Ida kebetulan membawa minuman kopi dengan kemasan menarik. Ia berharap kreasi seperti ini dapat dikembangkan di bonapasogit dengan produk lain selain kopi, misalnya bumbu andaliman.

Ronsen Pasaribu (Ketua Umum FBBI) setuju dengan apa yang disampaikan kedua perempuan Batak tersebut, Roswaty dan Ida. Ia berharap FBBI sebagai mitra usaha memfokuskan satu produk saja dikembangkan dan dievaluasi untuk ditingkatkan usaha tersebut.

Lintong Manurung (pernah aktif di Kementerian Perindustrian) menyampaikan bahwa gagasan UKM seperti ini sangat didukung pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. “Usulkan saja proposal pengadaan alat-alat untuk usaha, misalnya mesin pengemas, dll, supaya pemerintah daerah mengeluarkan atau menganggarkannya dari APBD,” ujarnya lebih lanjut.

Dalam FGD tersebut, hadir juga seorang relawan asal Australia untuk Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Hank van Apeldoorn, menanggapi pengembangan ekonomi kreatif di Kawasan Danau Toba (KDT).

Hank mengatakan bahwa pariwisata dapat menjadi salah satu usaha kreatif untuk dikembangkan di KDT. Bagi Hank, agar usaha kreatif yang menunjang pariwisata dapat berkembangkan maka ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Pertama, pelayanan secara profesional. Kedua, lingkungan hidup yang tidak tercemar. Ketiga, budaya setempat perlu diutamakan. Keempat, masalah korupsi harus diselesaikan. Kelima, kapasitas daya tampung tempat wisata perlu diperhatikan.

Diskusi berlangsung hangat apalagi beberapa perempuan Batak yang hadir berkomentar bahwa perempuan Batak memiliki kecantikan yang berbeda dari perempuan-perempuan lain. Perempuan Batak lebih menekankan inner beauty (kecantikan dari dalam). Rata-rata perempuan Batak kalau sudah berkeluarga lebih mementingkan keluarga ketimbang dirinya. Sejak kecil perempuan Batak sudah dididik mandiri dan dewasa. Karena itu, banyak orang mengagumi perempuan Batak bukan karena kecantikannya, tetapi karena ketangguhannya. Meskipun demikian, perempuan Batak patut tampil cantik, baik dari luar maupun dari dalam dirinya.

Diskusi FGD tersebut dihadiri Dr. Ronsen L. M. Pasaribu, SH, MM (Ketua Umum FBBI), Djalan Sihombing, SH (Sekretaris Jenderal FBBI), Pak Siregar (Bendahara Umum), Roswaty Siregar, Antoni Pardosi, Ida Pasaribu, Lintong Manurung, Toni Limbong Ritonga (FBBI DPD DKI) beserta rombongannya, Hotnida, Roy Limbong beserta gang dari PEMUDA NAIMARATA, Obet Hutabarat, Tagor Tampubolon, Hank van Apeldoorn, Boy Siahaan (YPDT), Mutiara Marbun (Kepala Kantor FBBI), Feber Manalu, Delly Sinaga, Tika, dan lain-lain.

Sebelum acara FGD tersebut, ada acara perayaan HUT Ketum FBBI, Ronsen Pasaribu. Acara perayaan HUT Pak Ketum diawali dengan renungan singkat yang disampaikan Pdt. Marihot Siahaan. Bertugas sebagai MC adalah Feber Manalu. (BTS)

BACA:  Seminar Marhata Adat: Mendorong Orang Batak Makin Giat Menggali dan Melestarikan Adat dan Budaya Batak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *