Persoalan Narkoba Turut Dibahas dalam Musda FBBI Sumsel

PALEMBANG, BatakIndonesia.com — Bahaya Narkoba sudah merasuk luar biasa melibatkan masyarakat luas termasuk orang Batak. Itu sebabnya, materi Narkoba mendapat porsi waktu dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) FBBI Sumsel dengan menghadirkan wakil dari BNN Propinsi Sumsel. Berikut isi paparannya:

  1. Kita boleh bangga, putra Batak terbaik menjadi Ketua BNN Propinsi Sumsel, secara berturut-turut: Brigjen (Pol) Bontor Hutapea, Brigjen (Pol) Anto Hutapea dan Brigjen (Pol) John T Panjaitan
  2. Narkoba sebuah masalah besar, sehingga dikategorikan extraordinary crime, dengan ciri Global crime, Organisation crime dengan jaringan yang sulit dipantau, banyak dari laut di Indonesia. ada tiga yang masuk kategori extraoridinary: Korupsi (KPK), Teroris (BNBP), dan Narkoba (BNN).
  3. Indonesia darurat Narkoba, ditandai dengan meningkatnya jumlah pengguna Narkoba; Sumsel: urutan ke 29 di Indonesia; Sumut Peringkat kedua setelah pertama DKI.
  4. Korbannya: Pelajar/Mahasiswa, Pekerja, Profesi bahkan anak-anak. Contoh Wakil Rektor di sebuah Perguruan Tinggi, TNI, Lantamal, Komandan Kodim, Artis, Ibu Rumah Tangga bahkan anak-anak. Gejala meluasnya dilihat di Desa dan Kampung-kampung.
  5. Bahkan di Sumsel, sudah dideteksi, setiap ada pagelaran Orgen Tunggal, di situlah peredaran Narkoba. Maka, Bupati Banyuasin membuat peraturan tentang Organ Tunggal.
  6. Indonesia dahulu teridentifikasi sebagai pasar, bergeser mengimpor bahkan terakhir mengekpor. Ini serius, karena dampak negatif meluas, Narkoba menutup “akal dan pikiran”. Bahaya, kalau Pilot, sopir bus bisa kena, sehingga sekarang sudah dirancang ketentuan sebagai pembunuhan berencana, yang dapat dihukum terberat.
  7. Sindikat semakin propesional, dengan memasukkan ke makanan seperti Brownis, di arisan, bahkan lewat Kitab Suci dan keterlibatan oknum bahkan 70% Narkoba dari Lapas.
  8. Upaya penanggulangan yaitu rehabilitasi. Jika penggunaan 5 mg, namun akan diproses penahanan. Jika barang bukti 10 Mg ke atas, di rumah karena sudah masuk kategori Bandar. Oleh karena itu Perintah Presiden adalah lakukan langkah: a. Kerjasama efektif, hilangkan egosentris. Semua berperan aktif.
    b. Tutup bandar Narkoba.
    c. Tutup pintu masuk.
    d. Awasi Lapas secara ketat
    e. Sosialisasi yang masif.
  9. Tiga Tupoksi BNN: 1. Pencegahan, 2. Pemberantasan dan 3 Rehabilitasi. Regulasi yang diterbitkan adalah Inpres nomor 6 Tahun 2018: P4GN, intinya pentingnya melibatkan masyarakat, Suku seperti FBBI ini karena di belakang FBBI ada ribuan masyarakat, isi acara di Gereja seperti HKBP. Perlu kerjasama dengan FBBI Sumsel berupa MOU.
  10. Komitmen BNN, hindari tindakan mencoba-coba, sebab sekali mencoba susah keluar. Tiga sifat jahat Narkoba: Jahat Habitual: rindu, Adiktif (ketergantungan) dan Toleran (Overdosis dari ketergantungan 0,1 mg sampai overdosis).
  11. Orang Batak jadi Korban, dengan tahap sebagai berikut:
    a. Kompromi.
    b. lewat pekerjaan.
    c. coba-coba sedikit, kebiasaan ketergantungan dan .Intoksinisasi: keracunan (lawan dari detoksinisasi), dan
    e. Kematian.

Kesimpulannya adalah:

  1. Narkoba berbahaya bagi kita, masyarakat, bangsa dan negara.
  2. Tingkatkan sosialisasi secara bersama-sama: FBBI-BNN.
  3. Luaskan melalui Pengurus Marga-marga Batak.

Catatan saya sebagai Ketum FBBI bahwa materi ini sangat bagus disebarluaskan ke khalayak orang Batak di Bonapasogit dan Perkotaan. Untuk tingkat Pusat, DPP FBBI sudah sejak awal mengambil langkah kerjasama dengan BNN Pusat dengan terlibat di setiap sosialisasi sebagai anggota FOKAN. Kita menyebarluaskan materi sosialisasi, seperti yang kita lakukan sekarang ini dari Seminar FBBI di Palembang.

“Mari tingkatkan daya tangkal dengan nilai-nilai spiritual dengan ajakan TOLAK NARKOBA”.

Penulis: Ronsen Pasaribu (19 Juli 2019)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *