Psikologi Tanaman di Bonapasogit

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Menarik perhatianku tulisan amang Prof Dr. Albiner Siagian, Guru Etos dan Revolusi Mental, bersertifikat, sekarang menjadi bagian dari FBBI dengan penulis tetap di media berita online BatakIndonesia.com. Seri kedua dari Serial Kearifan Batak, berjudul Burju Na Tolu. Burju Na Tolu adalah tiga ajaran Orang Batak, yaitu Burju Marroha, Burju Mulaulaon, dan Burju Sikkola. (baik hatinya/tulus/kreatif/dinamis, rajin bekerja, dan rajin bersekolah).

Baca juga: Serial Kearifan Batak: Burju na Tolu

Tiga kebaikan ini, tali-temali, berbasis kearifan local di Bangso Batak. Itulah maka petani di bonapasogit, tidak terlalu terpengaruh gejolak inflasi dan mereka dalam tahap apapun, selalu eksis, walau terbatas pendapatan, tetapi tetap menyekolahkan anak-anaknya, setinggi-tingginya.

Tulisan saya suplemen saja, bahwa ketiga itu sebagai syarat mutlak dalam “pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian yang berhasil dan produktif”. Bicara pemberdayaan, perlu usaha mengelompok, berbasis potensi lokal dan tata niaga menembus pasar bebas (market place, yang disebut Presiden Jokowi itu sebagai salah satu unicorn).

Satu yang saya tonjolkan di sini seorang petani harus Burju Marroha, mengkaitkan usahanya kepada Tuhannya. Belajar dari pengalaman terbaik (best practice) yang saya alami di Sulawesi Utara, ketika menggerakkan pemberdayaan Cabai, kelompok tani bekerjasama dengan PT (milik ,sahabat saya, Dr Piter Tangka — sekarang mengembangkan Bawang Putih di Humbahas secara besar-besaran). Dalam tahapan pertanian cabai ini, sisi rohaninya benar-benar dihadirkan, sebagai bagian kegiatan sehari-hari.

Pagi, sebelum bekerja, semua anggota berkumpul di Sopo, berdoa, bernyanyi, dan baca Firman Tuhan. Begitu juga saat menyamaikan bibit, didahului berdoa bersama. Begitu terus tiap hari, bahkan di sela waktu, mereka bisa latihan koor bersama, kebetulan anggota satu Gereja di sana. 

Sebuah pemandangan pertama bagi saya, saat menghadiri panen pertama, susunan acara sifatnya nasional, tetapi diawali dengan doa dan lebih lanjut dengan Paduan Suara serta khotbah pendeta. Ketaatan pada ajaran Tuhan, hasil pertama, benar-benar diserahkan sebagai Persembahan kepada Tuhan, dan diterima oleh Majelis Gereja. Mereka berhasil berlipat ganda, karena secara teknis, memang dikelola secara tepat, teknologi tepat guna, pemasaran tepat waktu, dan harga yang menguntungkan, karena dikelola sendiri oleh mitra kerjanya.

Saya teringat almarhum bapak saya, BT Pasaribu, seorang Guru SD, namun tetap sebagai petani panutan bagi masyarakat di Sigolang. Setiap hari berdoa pagi, menyamaikan padi pun, beliau bertelut di pinggir gadu-gadu berdoa agar tumbuh baik, karena berhasil tidaknya tergantung pada bibit yang baik.

Inilah yang disebut oleh para ahli pertanian, ternyata petani memerlukan komunikasi dengan tanaman tumbuh yang ditanam oleh petani. Kita harus bisa berkomunikasi dengan tanaman itu. Karena melalui hasil tanaman itulah sejatinya, diharapkan keberlangsungan hidup kita, terlebih hasilnya bisa berlipat ganda, produktif, dan berkonstribusi memajukan petani kita. Psikologi tanaman, penting, namun jarang atau kurang diperhatikan oleh petani sekarang. Mari kita ingatkan lagi, agar petani berbicara dengan Tuhan, juga berkomunikasi dengan tanamannya. (ingat Paragat, sambal bernyanyi sambal memukul pangkal buah nira).

Jakarta, 23 April 2019. Pkl. 09.15. WIB

Dr Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI dan Pemerhati Pemberdayaan Masyarakat)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *