Rumah Adat Batak Teruji Kecanggihan Teknologinya yang Tidak kalah dengan Teknologi Terkini

SUNGEPINING, BatakIndonesia.com — Menyoal bangun rumah, ternyata orang Batak, ompu kita dahulu sudah ahli (benar-benar seperti ahli sipil) dalam membangun “papan” atau rumah tinggalnya. Mereka membangun rumah tanpa gergaji, tanpa paku, tanpa studi, dan tanpa gambar rancangan arsitektur. Intinya tanpa teknogi canggih mereka sudah bisa membangun rumah tahan gempa. Mereka mungkin masih di era Industri 1.0, dengan alat batu dan besi. Luarbiasa ompu kita dahulu.

Semalam di Sungepining, saya membuat banyak catatan hal yang menarik. Kali ini, catatan lintas dekade atau mungkin lintas generasi. Catatan tersebut terinspirasi ketika saya memperhatikan rumah asli orang Batak dan sopo godangnya di Sungepining. Jika kita ingin tahu, sehebat apa teknik sipil Bangso Batak pada jaman mula-mula membangun sebuah kampung, mari kita lihat rumah dan sopo godang dalam foto-foto di bawah ini.

Rumah asli orang Batak di Sungepining. Mungkin usianya sudah hampir 100 tahun.
Rumah asli orang Batak tampak gagah dengan teknologi sederhana, tetapi canggih.
Sopo Godang (aula pertemuan). Biasanya rumah ini diperguakan jika ada acara pertemuan atau acara tertentu.

Pada kesempatan saya berkunjung ke kampung di Sungepining ini, saya mewawancarai generasi kedua bahkan ketiga. Mereka masih bertali-temali dengan ibu saya, Dorkas Emelia Dongoran, sebab keluarga ibu sayalah yang membuka Sungepining. Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Gagah sekali rumah panggung pada foto di atas, luasnya sekitar 130 m2. Sisi teknik sipilnya mengikuti fungsi kemasyarakatan yang sering menerima tamu. Ada tempat duduk di beranda rumah yang digunakan sebagai tempat berbincang-bincang sambil minum kopi. Pada lokasi lain ada dapur memakai kayu bakar untuk perapian.

Kapan rumah-rumah tersebut dibangun? Jangan kaget, rumah-rumah tersebut dibangun sejak 1920-an pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Yang menarik, rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu Meranti. Atap terbuat seng atau ingul. Cara membelah kayu, bukannya pakai gergaji, tetapi “dibaji” dengan hanya menggunakan kampak. Tepatnya sarman, sejenis kampak, matanya bisa dicabut. Lalu menghaluskan di “rimbas” sampai halus. Alat penyambung tidak menggunakan paku, tetapi menggunakan kayu atau bambu. Namun begitu disambung, sambungannya sangat kuat dan tidak goyang sedikitpun, sehingg tahan gempa tentunya.

Selain itu, seni bentuk atap dan pemanis di tampak depan sudah ditonjolkan oleh masyarakat. Tentu ada makna, jika ada lancip di atas, dengan kayu salib dan belalai gajah pertanda adalah rumah kelas keturunan Raja Panusunan Bulung atau Raja Bius di Batak Toba.

Saya menyarankan kepada keluarga saya di sana agar memeliharanya, namun bisa direnovasi tanpa menghilangkan teknik sipil aslinya. Di samping masih indah, masih memiliki nilai budaya tinggi baik dari artistik maupun penggunaanya.

Jika dibandingkan dengan bangunan yang sekarang, dengan teknologi mutakhir, bahan semen, kayu dan atap seng, tentu ada plus-minusnya. Selera masyarakat jaman sekarang mengadopsi rumah di perkotaan. Namun, ini adalah kekayaan budaya kita kalau masih menyaksikan rumah tinggal dan rumah adat seperti di Sungepining ini.

Bentuk rumah pada generasi berikutnya yang telah mengadopsi kemajuan jaman pada masa itu.

Semakin rindulah kita jika pulang kampung, bisa menyaksikan kebudayaan lintas jaman yang sudah lebih 9 dekade lalu, jauh sebelum negara kita merdeka pada 17 Agustus 1945.

Transformasi teknologi boleh berubah, sementara sifat dan kebijakan lokal masih harus kita gali dan sejauh masih relevan kita pertahankan.

Yang jelas, desa ini, desa ibu saya yang sarat dengan nilai Habatakon (nilai-nilai luhur budaya Batak) yang tinggi sejak dahulu kala. Di sinilah saya saksikan betapa masyarakatnya kompak, padu-padan antara hula marboru terlebih di bidang kerohanian. Seratus persen Desa Sungepining memegang iman Kristen dan missionaris pertama sudah datang dan mengajar di luat ini.

Ronsen Pasaribu saat mengikuti Kebaktian di Gereja.

Pdt Marihot Siahaan mengamini warnasari cerita tentang Sungepining ini. HKBP (Huria Batak Kristen Protestan) yang pertama, lalu gerejanya beralih ke GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola) sampai saat ini. Jemaat di lingkungan GKPA menabalkan Desa ini sebagai Yerusalem di Tano Batak.

Medan, Kualabekala, 12 Mei 2019. Pkl 10.00 WIB.
Penulis: Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI dan pengamat Bonapasogit)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *