Sosialisasi Pembangunan di Bonapasogit

Sosialisasi pembangunan

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Sosialisasi pembangunan di Bonapasogit dari perspektif kedua Ketua Umum, YPDT dan FBBI saat bertemu dengan stakeholder di Bonapasogit. Sebagai ketua umum, hal ini merupakan tugas melekat pada dirinya dalam menyuarakan hal apa saja mengenai perkembangan kemasyarakatan. Perjalanan selama 2 hari, tanggal 25-27 Oktober 2017, digunakan secara optimal agar bisa berkomunikasi sebanyak mungkin dengan para pelaku, baik di Gereja GKPA di Padang Sidempuan, Masyarakat Hukum Adat di Tapanuli Selatan dan HKBP di Pearaja Tarutung.

Multi Destinasi

Rencana Parausorat Centre dengan menghadirkan Pariwisata Rohani, akan menambah wahana destinasi bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Tempat tersebut akan diperlengkapi dengan taman bacaan, tempat doa, foto-foto para pendeta pertama dan para misionaris pertama di Tano Batak dan wisma yang bisa menampung para pengunjung.

Bukan lagi kepentingan Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) saja, tapi seluruh gereja Batak menjadi berkepentingan atas situs ini. Teologi “jelok’, di mana tanamannya ada di Parausorat, Sipirok, namun tumbuh berkembang bahkan berbuah sudah ke seluruh penjuru. Bukanlah cara pandang menyalahkan jika kita bertanya: Mengapa kemiskinan tetap masih nampak di Sipirok, asal Kekristenan? Namun kita tetap melihat secara positif Kekristenan. Justru Parausorat bukan sekadar lewat saja di Kilometer Nol, tetapi ia adalah daerah yang disebut “Parbincar ni Mataniari penyebaran Firman Tuhan”, yang harus kita pelihara dan rawat sejarahnya untuk kemudian menjadi siar penyelamatan manusia dari kegelapan.

Pandangan YPDT (Yayasan Pencinta Danau Toba) dan FBBI (Forum Bangso Batak Indonesia) dalam pembangunan ini oleh Gereja saat ini agar disesuaikan dengan harmoni masyarakat sekitarnya, tanpa membuat bangunan mercusuar yang terkesan nantinya menjadi sumber pemisahan (parbolat-bolatan) dengan penduduk yang beragama lain di wilayah ini. Ini hendaknya menjadi peguatan persatuan dan kesatuan. Daerah Sipirok atau Tapanuli Selatan (Tapsel) sejatinya dikenal dengan “laboratorium harmoni kemasyarkatan yang berbhinneka Tunggal Ika, kata Rapolo Siregar, mantan Wakil Bupati Tapsel.

Sebagaimana diketahui, tanah lokasi Titik Nol pengabaran Injil ini semula diserahkan oleh seorang Marga Nasution semula luasnya sekitar 3 Ha, namun sekarang setelah diukur 1,3 Ha saja. Guna keperluan rencana ini, telah dibebaskan lagi lahannya. Kami sarankan pula supaya status tanah segera ditertibkan agar terhindar dari konflik di kemudian hari.

 

BACA:  Menyiasati Patua Hata untuk Acara Adat Batak yang Beda Puak

Masyarakat Adat di Tapsel

Kami melihat sendiri bahwa dalam mengatur tata kehidupan masyarakat di bonapasogit masih memerlukan peran masyarakat adat. Masih dihidupkannya hukum adat dan Raja-Raja sebagai pemangku adat di Tapanuli Selatan. Tata cara mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, ternyata masih hidup di sana. Ini menarik bagaimana kehadiran Raja luat dengan gelar-gelar berjenjang: Mangaraja, Sutan, Patuan, dan Raja. Secara hierarki hal itu masih dipentingkan sepanjang itu soal adat istiadat, termasuk di dalamnya dalam menyelesaikan kasus perdata dan pidana. Batas tanah dan pencurian selalu diselesaikan dalam pengadilan adat di hadapan Raja Panusunan Bulung. Raja Panusunan Bulung dijabat oleh pemuka kampung atau turunannya.

Contoh, jika seorang tertangkap mencuri kayu orang lain, maka sidang adat dibuka dan pertimbangan ketentraman kampung dan rasa keadilan maka sangsi moral dijatuhkan, dengan terdakwanya berkeliling kampung dengan memegang tulisan “saya tidak akan mencuri kayu lagi”. Hanya dua perkara yang tidak kompetensi peradilan adat ini, yaitu Narkoba dan Kejahatan dalam Rumah Tangga (KDRT).

Ketika makan bersama, di Tapsel nampak perbedaan yang mendasar, yaitu: setiap orang mendapatkan piring makan dan setiap jenis lauk pauknya tersaji secara sendiri-sendiri. Misal, sayur, sambal, ikan, ayam, cuci tangan, minum, dan lainnya tersaji menjadi 4 piring kecil. Penyajian mangkok pun ada aturannya. Pegangan tidak boleh menghadap tamu, tetapi sebaliknya. Selama jamuan makan, sang Ibu, tidak ikut makan bersama, tetapi selalu di dapur menyiapkan apa saja yang kurang dari ruang makan. Dialog antara tuan rumah dengan ibu, selalu terjalin. Begitu juga kalau sudah selesai makan, tamu harus tahu aturan bahwa tidak boleh terlebih dahulu mencuci tangannya. Sambil bincang seperlunya, tangan harus di atas piring sampai tuan rumah selesai makan. Sebaliknya, jadi harus sama sama mencuci tangan.

Bergerak ke Tapanuli Utara dan Humbahas, kami mengunjungi Cafe Piltik, milik Edward Tigor Siahaan, seorang pengusaha muda yang membangun rumah yang dikembangkan menjadi Rumah Penginapan, Restauran, dan Cafe. Saat ini sedang menambah ruang, untuk menyajikan “galery’ yang akan digunakan tempat promosi karya budaya lokal kepada Wisatawan. Sebagai salah satu fasilitas yang cukup menarik dan artistik, diharapkan dapat berkonstribusi dalam pengembangan Kawasan Danau Toba ke depan ini. Sebuah peluang yang mau maju, dengan membuat karakter pelayanan memenuhi selera wisatawan dalam dan luar negeri.

Mengunjungi Piltik House bersama pemiliknya, Edward Tigor Siahaan
Mengunjungi Piltik House bersama pemiliknya, Edward Tigor Siahaan

Ketika menginap di rumah keluarga saya, O. Lumbantoruan, SH/Ida Pasaribu, SPd, di Desa Sigompul, Lintong Nihuta, Humbahas, ada dua cerita yang menarik dicatat sebagai buah pikiran kami. Pertama, Bapak Maruap saat menerima salam dari Raja Llumbantoruan Junior, 10 tahun, yang memberi salam dengan cium tangan. Kontan, pak Maruap memberikan nasehat agar bersalaman bagi orang Batak tidak mencium tangan, yang notabene adalah budaya impor. Tetapi, kita harus salaman dengan telapak tangan erat sambil saling menatap mata ke mata. Sambil dipraktekkan beberapa kali menjadi bahan diskusi kami karena cara itu berpesan saling menghormati secara wajar, sejajar, dan egaliter atau kesetaraan. Tidaklah merendahkan diri, satu sisi, memegahkan diri sisi lain. Ini kecil, tetapi penting dalam pendidikan keluarga. (Baca : Salam ala orang Batak oleh Ronsen LM Pasaribu).

Cerita kedua, saya bawa pak Maruap Siahaan ke belakang, di mana saya menanam 8 saja, sayuran “jipang” dengan penyangganya. Saya katakan pemanfaatan pekarangan, bisa menjamin gizi sayuran bagi keluarga bahkan bisa jual ke pasar. Sebab, buahnya sangat banyak, cukup konsumsi harian dan sekali seminggu bisa jual 2 karung ke pasar. Sebuah inspirasi bagi petani guna memanfaatkan lahan sempit untuk kesejahteraannya.

Kami berdua, sering diskusi soal pembangunan di Bonapasogit. Begitulah kadang berbeda cara pandangnya. RP, lebih melihat pembangunan dari sudut mikro dengaan menghitung cost and benefit, proses bisnis sebah badan usaha dari hulu sampai hilir. Selain itu perlunya pendekatan pemberdayaan masyarakat guna membantu petani lemah dengan cara pendampingan dengan pihak stakeholder dengan prinsip kesetaraan, terutama berbagi tugas dalam memasarkan produknya. Cara pandang itu bukannya dibantah, tetapi pak Maruap Siahaan, lebih melihat Pembangunan di Bonapasogit secara agregat, secara Makro dengan sumber masalah adanya praktek kapitalisme di segala aspek terutama adanya keberpihakan kepada pemodal.

Tampak dalam perjuangan YPDT melalui jalur “litigasi” hanya untuk mengembalikan kondisi air Danau Toba yang jernih, asri di mana semua manusia dan mahluk lainnya bisa hidup normal kembali. Tidak polutan seperti sekarang ini. Pada akhirnya, Wisatawan baik luar negeri dan dalam negeri akan mendapatkan kepuasan atau hikmat Tuhan atas ciptaan-Nya. Betapa Tuhan sudah menciptakan bumi Danau Toba yang indah, hendaknya begitulah interaksi alam dan manusia boleh berjalan secara harmonis. Narasi inilah yang dirumuskan dalam Visi YPDT, “Membangun Kota Berkat di Atas Bukit.”

Secara kebetulan, kami berdua ditunjuk sebagai salah satu pelayan di HKBP Pusat. Ronsen Pasaribu, di Badan Aset sedangkan pak Maruap Siahaan di Badan Usaha. Pertemuan khusus dengan Amang Ompui Ephorus di Pearaja, di mana kami mendapat arahan serta diskusi untuk kegiatan di dua bidang ini. Intinya Badan Aset akan menginventarisasi terpusat secara digital dan melaksanakan program dua hal, legalisasi/sertifikasi dan pemberdayaan melalui pemanfaatan lahan HKBP baik yang sempit, sedang, dan luas. Jika Aset yang luas, akan dimanfaatkan oleh Badan Usaha untuk usaha produktif, sehingga aset tidak idle (nganggur), tetapi berkonstribusi dalam memenuhi kebutuhan konsumsi para Pelayan Tuhan, baik Full Time atau pensiunan.

Kedua lembaga sosial di Bangso Batak ini ternyata saling melengkapi hanya berbeda dalam strateginya. FBBI dalam visinya sebagai Organisasi Batak terdepan untuk membangun Bangso Batak di Bonapasogit dan diperantauan, dengan pendekatan Pembedayaan Masyarakat; sedang YPDT visinya membangun kota berkat di atas bukit dengan pendekatan Lingkungan Hidup dan pelestarian Budaya Batak.

Semoga catatan ini bermanfaat bagi para pemerhati dan masyarakat di Bonapasogit.

Jakarta, Minggu, 05 November 2017. Pkl. 18.45 WIB.
Ditulis oleh Ronsen L.M. Pasaribu.
Editor: DS.

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *