Sosok Gubernur Sumut yang Berteluk Belanga dan Berkopiah Merah ke Mana-mana

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Edward Waldemar Pahala namanya atau lebih dikenal sebagai Pak EWP Tambunan. Anak Balige yang lahir di tahun 1927 ini adalah tokoh yang luar biasa, rendah hati, dan terkenal sebagai pejabat jujur.

Dia adalah penggagas salam rakyat Sumatera Utara, yang ia sampaikan dengan lantang setiap kali mengawali dan menutup pidato: “Horas! Mejuah-juah! Enjuah-juah! Yaho’wu! Ahooiii!” Perlambang penghormatannya yang tinggi pada keberagaman etnis di Sumatera Utara.

Berpidato ia, selalu seperti Pak Guru yang bersemangat. Tulus hati, membekali audiensnya dengan pesan-pesan budaya yang filosofis. Ke mana-mana tak pernah lepas mengenakan peci merah dan baju teluk belanga. Dua perangkat busana Melayu.

Gemar ‘blusukan’ dan tak suka aturan protokoler. Tapi ia sangat disiplin soal waktu.

Mantan Komandan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) ini, senantiasa berjalan kaki dari kediamannya ke kantor Gubernur yang berjarak hampir 1 kilometer. Setiap pagi dan sore, ia melambai dengan santai pada setiap orang yang berpapasan dengannya: Penarik beca, anak sekolah dasar, penjual misop, penyapu jalan, dan lain-lain.

Bila di mobil dinas, meninjau ke Kabupaten, atau Kota, jarang sekali ia duduk di jok belakang yang lapang. Selalu di depan, di samping supirnya.

Sebagai Gubernur Sumatera Utara, setiap kali ke Jakarta, pasti beliau menginap di Mess Kantor Perwakilan Sumut yang sederhana, di Jl. Jambu, Menteng. Tak pernah sekali pun di hotel. Apalagi hotel mahal, yang sesungguhnya layak baginya. “Ini rumah kita”, katanya.

Setiap hari, selama beliau menginap di sana, semua surat-surat yang harus ia teken (tanda tangani), ia minta dikirim ke Jakarta. Usai diteken, harus segera pula dikembalikan ke Medan, hari itu juga. “Jangan ada urusan yang tertunda, hanya karena saya di Jakarta, ya!” pesannya. Semua kebutuhannya selama di mess itu, seperti suratkabar, nasi bungkus, berpuluh cangkir kopi (beliau perokok berat dan penikmat kopi yang khusuk, serta pembaca buku yang lahap), sampai sewa kamar, ia bayar tunai. “Saudara catat semua, hitung, dan tagih kepada saya. Jangan berlebih, jangan pula kurang. Saya minta kuitansinya!” perintahnya kepada staf Mess yang mengurusinya. “Saya ke Jakarta ini, urusan dinas, dan semua keperluan saya sudah ditanggung dengan uang perjalanan dinas ..!”

Pensiun sebagai Gubsu, tak satu pun barang ia bawa ke rumah pribadinya yang sederhana di Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Pusat. Tidak juga mobil dinas, yang pada masa itu, lazim dianggap sebagai ‘milik’ bagi pejabat negara yang pensiun, yang bisa dibawa pulang. Padahal, ia tak punya satu pun mobil pribadi.

Bertahun-tahun sebagai Gubsu, dilayani oleh staf Kantor Perwakilan di Menteng Jakarta, maka beberapa hari setelah pensiun, tentara berpangkat Mayor Jenderal itu mengundang seluruh staf mulai dari tukang sapu sampai Kepala Perwakilan, ke rumahnya untuk syukuran dan makan siang bersama. Pak Tambunan dan isterinya pun dengan gembira menyambut dan melayani mereka. Sang istri membagikan piring, dan Pak Tambunan menyendokkan nasi satu per satu untuk mereka.

“Selama ini kalian telah melayani saya dan istri saya dengan baik. Maka kini, tibalah saat saya berterima kasih. Izinkan saya gantian melayani saudara-saudara..!” ujarnya dengan suara baritonnya yang khas, sambil tersenyum. Kontan saja, para staf, yang sebagian adalah pegawai honorer, tukang pel toilet, tukang sapu, pesuruh, pengantar surat, tukang beli koran, pembuat kopi, tukang cuci baju beliau, menangis. Dengan tenggorokan tercekat. Dada sesak karena haru. Tak terasa air mata mereka jatuh ke piring.

Itulah Edward Waldemar Pahala. Tambunan, marganya. EWP Tambunan, Gubernur Sumatera Utara, priode 1978 sampai 1983.

Orang jujur dan baik hati itu wafat 17 Januari 2006 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Doa yang panjang, untukmu selalu, dan banyak pahala bagimu, Pak Katua!

Penulis: Sabar Mangadu Tambunan (Gerakan Kebajikan Pancasila)

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *