Upaya Menghadang Resesi Ekonomi Dengan Keseimbangan Baru

Oleh : Drs. Tumpal Siagian (*)

OPINI

Kita tentu berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu. Namun, urusan virus corona yang mematikan ini kemungkinan masih panjang, sehingga kita dituntut menyiapkan diri “perang” melawannya dengan stamina dan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Hanya orang-orang yang tahan uji kelak yang akan memenangkan “perang” ini. Pemaknaan diksi “perang” sesuai konteks kekinian karena harmoni terganggu dan kemungkinan terjadinya tsunami krisis  ekonomi yang bisa berujung resesi sangat membahayakan.

Langkah-langkah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dipandang Pemerintah menjadi salah satu cara menahan penyebaran Covid-19, berdampak serius pada kinerja ekonomi. Banyak pabrik tutup, tingkat hunian hotel anjlok, dan puluhan juta pekerja kehilangan pekerjaan. Korelasi tambahan pengangguran dan kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi sangatlah erat hubungannya.

Pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara terkontraksi. Bahkan negara sekuat Amerika Serikat (AS) mengalami tingkat pengangguran terburuk pasca Perang Dunia ke II. Produksi berhenti,ekonomi hancur,jutaan orang kehilangan pekerjaan. Di AS sudah 33 juta orang kena PHK, di China ada 80 juta. Bagaimana dengan di Indonesia?

Di tengah deraan pandemi Covid-19 saat ini kita berada pada pusaran dua tarikan kuat- setidaknya- antara upaya menahan laju penyebaran Covid-19 dan upaya menyelamatkan kinerja ekonomi supaya jangan terpuruk, menjadi ancaman serius bisa berujung pada resesi ekonomi dan krisis sosial.

Anjuran Presiden Jokowi agar berdamai dengan Korona harus kita sambut dengan pemahaman sehat dan rasional, optimistis menatap kedepan agar kita terhindar dari resesi ekonomi. Sejarah mengajarkan, bahwa virus membunuh beberapa orang,tetapi resesi ekonomi bisa menghancurkan sebuah negara.  Para pelaku ekonomi ditantang untuk bangkit beradaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19.

Sebagai contoh,adaptasi di tengah pandemi Covid-19, Arab Saudi meneken kontrak pembelian senjata Boeing dengan AS(14/5/’20) bernilai lebih dari 2 miliar dollar AS. Di sisi lain sudah dua kali dalam bulan Mei ini Rusia mengapalkan gandum ke  Arab Saudi. Pengiriman pertama sebanyak 60.000 ton seminggu yang lalu dan kargo kedua  sebanyak 61.700 ton dan diperkirakan tiba akhir bulan ini. Hal ini menunjukkan Arab Saudi menjadikan keseimbangan baru sebagai ideologi barunya berkawan dengan kedua Blok yang bersaing sebagai upaya menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi.

BACA:  TOEMA...

Perlu diketahui, setelah Perang Dunia ke-II berakhir, dunia ditata menurut kekuatan senjatanya, lalu tercipta dua Blok. Blok Barat yang dikomandani AS dan Blok Timur oleh Uni Soviet yang sekarang menjadi Rusia. Sementara China bangkit menjadi adidaya baru bukan dengan ideologi komunisnya, tetapi lebih berorientasi pada pasar global. China berhasil tumbuh manjadi adidaya baru karena adaptasi yang inovatif terhadap eksistensi pasar global yang kapitalistik.

Setelah mengevaluasi pemberlakuan PSBB titik temu menawarkan cakrawala baru tentang pelonggaran PSBB dengan kebijakan korektif yang tepat sasaran. Dengan dibukanya kembali moda transportasi umum dan pasar tradisional untuk menggerakkan kembali roda perekonomian, kita  percaya semua itu dilakukan terukur dan hati-hati. Bukankah di tengah deraan pandemi Covid-19 urusan perut menjadi nomor satu? Sebab itu, pasar tradisional  yang menjadi pemasok bahan pangan, harus didorong untuk terus beroperasi guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Memberdayakan bidang Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga industri skala kecil, menengah, dan besar yang menyangkut hajat hidup orangn banyak. Dukungan keberlanjutan dunia usaha perlu diberikan pada sektor informal, UMKM, yang rentan terhadap kebangkrutan. Memperkuat usaha UMKM dengan literasi digital akan mengubah keseimbangan baru secara kontekstual. Fasilitas seperti jaringan internet, telepon seluler, dan laptop sangat mendukung aktivitas yang berkaitan dengan perbankan, berbelanja, dan banyak lagi ragam transaksi keuangan yang dapat dilakukan secara daring.

Falsafah hidup maupun ajaran agama turut memberikan tekanan cukup berat mengatakan, “jika seseorang tak bekerja maka tidak bisa makan”. Selama Pemerintah menjalankan tugas mulianya dengan ketulusan hati, disampaikan dengan komunikasi yang “baik dan benar” maka saling silang dan kesimpangsiuran masyarakat/warga tidak akan terjadi menghadapi keadaan ini.

BACA:  Presiden Jokowi Gelar Ratas Lanjutan Rencana Pemindahan Ibukota

Lebih dari itu, kehidupan spritualitas juga perlu dirawat dan digelorakan agar kita setia menghampiri tahta Allah dengan ibadah daring dan ketulusan hati; agar kita dimampukan melawan godaan duniawi yang sering membuat disiplin kita goyah seperti meremehkan jaga jarak fisik dan Don’t stop stay at home. Bangun spritualitas yang kuat dengan pendekatan” keseimbangan baru”, yang selaras (saurdot) dengan petuah Kitab Amsal: “Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat” (Amsal 3:26).

Pada masa-masa sulit seperti ini pengharapan kepada Tuhan tetap memijar ,bukan memudar  .Dengarlah firman Tuhan sebagai panduan hidup, “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan  yang berlimpah-limpah” (Yeremia 33:6). Salam bahagia, hidup bermakna, dan tetap semangat. Horas ! (Jakarta, 18/05/2020).

(*)  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *