111 dan Impian Sang Maestro Itu!

111 dan Impian Sang Maestro Itu!

JAKARTA, BatakIndonesia.com —Mambahen masihol, saluhut ni nasa bangso, mamereng ho, o Tao Toba na uli. (Membuat segenap bangsa merasa rindu untuk melihatmu, wahai Danau Toba yang indah).”– Nahum Situmorang.

Di Grup WA saya membaca berita. Pada 14 Februari 2019 akan diadakan acara Peringatan 111 Tahun Nahum Situmorang. Ini berarti kalau Nahum Situmorang masih hidup, 111 tahunlah umurnya pada tahun lalu (112 tahun pada tahun ini).

111 dan Impian Sang Maestro Itu!
Nahum Situmorang di masa mudanya (Ensiklopedia Tokoh Batak)

Acara itu patut didukung dan diapresiasi. Pasalnya, Nahum Situmoranglah komponis terbaik yang pernah dilahirkan dari suku (orang Batak menyebutnya bangso) Batak, setidaknya menurut hemat saya. Karenanya tidaklah berlebihan kalau kita menjulukinya Sang Maestro Musik Batak. Dia amatlah sophisticated dalam soal yang satu itu. Saya belum menemukan orang Batak yang mampu menyamai, bahkan mendekati, kemampuannya itu.

Pada jamannya, Nahum Situmorang sudah beranjak keluar dari mainstream bermusik orang Batak. Musik/lagu Batak yang umumnya bernada pentatonik pada masa itu dan sebelumnya telah ditinggalkannya.

Nahum Situmorang tidak hanya meninggalkan nada pentatonik itu dalam hampir semua lagunya/musiknya, tetapi juga memasukkan hampir semua irama musik dalam lagu ciptaannya. Akan tetapi, dia tidak lupa irama andung, sebagai salah satu irama musik tradisional Batak. Pembaca dapat menyimaknya pada lagunya yang berjudul “Nahinali Bakkudu.” Tampaknya, lagu ini ditujukannya kepada dirinya.

Lagu Nahum kaya akan nada dan harmoni. Silahkan pembaca mendengar lagu “Ro Ho Saonari“. Nada rendah dan tinggi berpadu dalam harmoni menghasilkan suatu komposisi nada yang apik. Untuk irama jazz, jangan ditanya. Sederet lagunya berirama jazz. Ambil saja Napinalu Tulila, sebagai salah satu contohnya. Gleen Nainggolan menyanyikannya dengan amat pas, diiringi petikan gitar akustik Vico Pangaribuan dan dentingan piano Gleen. Anda akan larut terbuai irama jazzynya. Ada lagi “Dang Huorai Ho Marheppiheppi.”

Lagu berirama gembira, seperti dansa, rumba, cha-cha tak ketinggalan. Siap-siaplah telinga Anda dimanjakan oleh lagu Lissoi, Marombusombus, dan Pulo Samosir. Itu hanyalah contoh kecil.

111 dan Impian Sang Maestro Itu!
Nahum Situmorang

Ada satu lagunya, yaitu “Na Sonang do Hita Nadua“, yang terbuka untuk dinyanyikan dalam berbagai irama. Mendiang Bill Saragih, Sang dedengkot jazz itu, telah mengemasnya dalam irama jazz dan bossanova. Tetap saja enak didengar.

Tema lagunya juga luas. Soal percintaan, itu sudah pasti. Soal penghormatan kepada orang tua dan nasihat orang tua jamak. Perihal kecintaan kepada alam dan budaya Batak, apalagi. Lagu Rura Silindung berirama mendayu-dayu itu adalah wujud kecintaan dan kekagumannya kepada daerah Silindung yang terkenal dengan lembah (rura) dan penduduknya itu. Lagu “Alusi Au”, yang amat terkenal itu, menceritakan kegigihan orang Batak bersekolah. Tentu saja, lagu ini menginspirasi keluarga Batak untuk bersekolah setinggi-tingginya, walaupun pada lagu itu Nahum bercita-cita lain. Dia hanya mendambakan kasih sayang gadis pujaannya.

Di atas semua itu, ada satu lagu ciptaan Sang Maestro ini yang amat fantastis. “O Tao Toba“. Ya, lagu O Tao Toba.

Sebagai seorang putera Pulau Samosir, sebuah pulau di Tengah Danau Toba, Nahum paham betul keindahan danau (tao) itu. Kekagumannya akan keindahan Danau Toba itu diekspresikannya dengan sempurna pada lagu itu, baik syair maupun nadanya. Berikut saya tuliskan kembali buat pembaca.

Angka dolok na timbo
Do manghaliangi ho
O Tao Toba na uli
Tapianmu na tio
I tongtong di bahen ho
Dalan lao tu pulomi

Hauma na tung bolak
Adaran na pe lomak
Di pangisi ni luatmi
Pinahan na pe rarak
Pandaraman pe bahat
Nahumaliang topimi

Reff…
O Tao Toba Raja ni sude na tao
Tao na sumurung na lumobi ulimi
Molo huida rupami sian na dao
Tudos tu intan do denggan jala uli

Barita ni hinaulim
Di tano on
Umpama ni hinajogim
Di portibi on
Mambahen masihol
Saluhut ni nasa bangso
Mamereng ho
O Tao Toba na uli..

Nahum menggambarkan keindahan Danau Toba sebagai intan, raja semua danau, dan air yang jernih, yang dikelilingi gunung yang tinggi (natur) dengan Pulau Samosir di tengahnya yang dihuni oleh etnis Batak dengan budayanya (kultur). Sejatinya inilah jati diri Kawasan Danau Toba: keindahan natur dan keunikan kultur.

Oleh karena itu, kalau Nahum Situmorang jauh-jauh hari telah berkata bahwa Danau Toba telah mendamba seluruh bangsa merindukan Danau Toba, mengapa kita tak mewujudkannya?

RIP Sang Maestro! Kami akan selalu mengenangmu!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA:  Raja dan Ratu Belanda Diulosi dan Kagumi Danau Toba

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *