Absurditas Berpikir di Ruang Publik

Absurditas Berpikir di Ruang Publik

BatakIndonesia.com — Konon, di sebuah negeri di jaman antah-berantah, tersebutlah kisah perihal nasihat seorang menteri kepada Sang Perdana Menteri. Isi nasihatnya kira-kira begini:

“Tuanku, sudilah kiranya Tuan untuk tidak pergi ke kampung seberang itu! Hamba tak rela Tuan kehilangan kekuasaan Tuan karenanya!” Menurut sebuah kisah, ada Perdana Menteri sebelum Tuan kehilangan jabatannya setelah mengunjungi kampung itu.”

Para pembaca yang budiman! Rupanya, kisah mitos serupa terulang kembali, lebih dari 3.000 tahun sejak kaum arif dan bijaksana mendobraknya di Junani sana, pada saat banyak negeri tengah memikirkan era 5.0, bahkan 6.0. Kali ini kejadiannya di Negeri Impian.

Ketika ada sekelompok kecil masyarakat mengaitkan kejadian tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba dengan tak dilepaskannya seekor ikan mas besar yang ditangkap oleh seorang pemancing ikan, itu bolehlah kita ‘maklumi’. Soalnya, barangkali begitulah keyakinan mereka karena mereka belum cukup mampu melihat fakta di balik peristiwa itu. Akan tetapi, kalau seorang menteri di Negeri Impian masih berpikiran seperti sekelompok kecil masyarakat itu, itu keterlaluan namanya. Keterterlaluannya pun diproklamirkan di ruang publik. Akibatnya, absurditas berpikir menyebar luas di masyatakat.

Menurut hemat saya, pemimpin itu adalah tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tambahan lagi, pemimpin itu haruslah mendatangkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Oleh karena itu, segala tindak-tanduk, termasuk ucapannya, haruslah bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Mendobrak belenggu mitos, membebaskan rakyat darinya, dan menuntun mereka ke alam terang adalah salah satu wujud peningkatan kesejahteraan itu.

Bagaimana akal sehat manusia waras bisa menerima begitu saja keyakinan bahwa kalau seorang pemimpin akan kehilangan jabatannya setelah bekunjung ke suatu tempat hanya karena ada pemimpin sebelumnya mengalami hal itu. Bagaimana pikiran absurd seperti itu diperhitungkan dalam penyelenggaraan sebuah negara di era modern ini? Argumen ilmiah apa yang bisa disodorkan untuk meyakinkan publik bahwa itu adalah sebuah kebijakan yang bijak?

Keyakinan Ilmiah

Memang, keyakinan ilmiah berkata bahwa Anda boleh meyakini apa pun. Misalnya, Anda boleh mayakini bahwa di bawah bantalmu ada seekor ikan piranha. Keyakinan ilmiah tidak harus berujung benar. Pembuktianlah yang mewujudkan benar tidaknya keyakinan itu. Hasilnya adalah pengetahuan. Tahulah Anda bahwa di bawah bantalmu ada atau tidak ada seekor ikan piranha.

Persoalan dalam keyakinan ilmiah adalah landasan yang atasnya keyakinan itu dialaskan. Itu pulalah dasar orang lain untuk juga meyakini keyakinan itu akan mewujud benar kelak. Dengan kata lain, keyakinan ilmiah berkata bahwa janganlah mentang-mentang Anda boleh meyakini apa pun, lantas Anda berkeyakinan seenaknya.

Kalau Anda memelihara seekor ikan piranha di rumah dan suatu ketika Anda tidak menemukannya di aquariumnya Anda boleh mayakini bahwa ikan buas pemakan daging itu ada di bawah bantalmu. Mungkin saja kucing peliharaanmu menyembunyikannya di situ. Barangkali, pembaca merasakan ada peluang itu mewujud, walaupun kalau Anda diajak bertaruh untuk meyakininya saya yakin Anda akan berpikir ulang seribu kali sebelum memutuskannya.

Di pihak lain, keyakinan agamawi lain pula pendiriannya. Dia tak sudi dibantah, apalagi dibuktikan. Dasar keyakinannya adalah keyakinan itu sendiri. Orang beragama menyebutnya iman. Itu sebabya meyakini disebut mengimani. Jangan sekali-kali Anda meminta kaum peyakin itu membuktikannya yang kalau mereka tak sanggup membuktikannya, lantas keyakinannya salah atau keliru. Jangankan untuk membuktikan suhu neraka, membuktikan keberadaannya pun kaum agamawan akan kelabakan tujuh turunan. Pembuktian inilah yang dituntut oleh kaum ateis.

Dalam keyakinan akan mitos, keyakinannya diakibatkan keterbelakangan dan ketakhyulan berpikir. Atau, keyakinannya dialaskan pada bukti yang amat lemah tetapi dengan kadar keyakinan yang tinggi. Itulah keyakinan yang absurd. Meyakini seorang pejabat akan kehilangan jabatannya hanya atas bukti ada pejabat lain mengalami hal itu saja tanpa memperhitungkan kesesuaian sebab-musabab yang melatarbelakanginya adalah contoh keyakinan absurd itu. Dan, ketika itu dikatikan dengan label ‘seram’ terhadap kampung itu, itulah mitos bin takhyul.

Terkait dengan dengan nasihat menteri itu, saya berharap itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Semoga ada pertimbangan lain yang lebih masuk akal dibalik pemberian nasihat itu. Cuma, janganlah nasihat sesat seperti itu diproklamirkan ke ruang publik. Kelak, makin banyak orang yang sesat, karenanya.

Camkan itu!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA:  Panut

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *