Akselerasi Ekonomi Melalui Ekonomi Kreatif

Tanpa Petani Tak Ada Pangan

Oleh: Drs Tumpal Siagian *)

OPINI

Pandemi Covid-19 yang lebih dari setahun mendera benar-benar mengubah dunia. Pandemi tidak hanya merenggut jutaan nyawa, tetapi juga memperlebar kesenjangan ekonomi. Miliaran warga dunia secara ekonomi dikhawatirkan berisiko kehilangan pekerjaan sekaligus kehilangan kesempatan untuk hidup lebih baik, tak terkecuali Indonesia.

Di tengah tekanan pandemi Covid-19 segenap sumber daya memang dioptimalkan demi akselerasi perbaikan ekonomi. Ekonomi kreatif (ekraf) menjadi pilihan melambungkan harapan agar Indonesia mampu mengalekselerasi pertumbuhan ekonominya. Terkait hal ini, pemerintah (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Kemenparekraf) dapat ikut menunjang akselerasi pertumbuhan ekonomi  melalui ekraf di berbagai daeràh.

Produktivitas dan pengintegrasian produk eksraf Indonesia diperlukan reorganisasi pertumbuhan secara “out of the box” untuk mengatasi perlambatan ekonomi dan bisnis serta percepatan adopsi teknologi dan integrasi Indonesia ke dalam rantai pasok global (global supply chain). Upaya menggenjot ekspor ekraf menjadi sangat relevan terutama dengan semakin kuatnya pemulihan ekonomi di negara tujuan ekraf Indonesia seperti Asia dan Amerika Serikat. Karena, pemulihan negara-negara itu akan meningkatkan pula permintaan mereka akan produk ekraf dari Indonesia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada dua alternatif mengukur pertumbuhan ekonomi.Pertama, membandingkan dengan tahun lalu (year to year/yoy) dan yang kedua membandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter to quarter/qtq)

Tren kontraksi pertumbuhan ekonomi yang semakin dangkal pada Triwulan I, 2021 minus 0,74 persen dibandingkan  pada periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) atau kontraksi minus 0,96 persen (qtq). Sudah membaik daripada triwulan sebelumnya, meski daya ungkit masih terbatas. Dampak terhadap inflasi masih rendah. Angka inflasi tahunan April lalu 1,42 persen. Sejak Juli 2020 sampai April 2021, Inflasi (yoy) selalu dibawah 1,67 persen. Fenomena ini harus jadi penyemangat agar perekonomian Indonesia ke depan segera lepas dari resesi. Kita berharap untuk triwulan selanjutnya pertumbuhan ekonomi secara perlahan akan memasuki pertumbuhan positif ke level 5 persen pada akhir 2021.

Eksekusi berbasis data, kajian ilmiah, dibarengi dengan pengendalian covid-19 secara ketat merupakan referensi dalam mengimplementasikan aturan “omnibus law “UU Cipta Kerja” yang diyakini mampu mendorong tumbuhnya ekraf yang kemudian akan menciptakan peluang kerja dan bisnis. Semakin banyak orang bekerja dan berbisnis tentu berdampak positif pada penerimaan pajak, terutama pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai (PPN). Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk membawa Indonesia ke jalur pertumbuhan yang lebih baik.

BACA:  ETOS MULAULON (1): Hajugulhon Mulaulaon

Bonus demografi menjadi modal besar menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul dan inovatif. Kita bisa belajar dari kisah sukses negara yang berhasil bertransformasi menjadi negara industri maju seperti Jepang, Korsel, dan Taiwan yang mengandalkan pembangunan SDM, riset dan penguatan iptek.

Perubahan berkecepatan tinggi membuat kita harus bergerak cepat dengan dinamika yang beraneka warna tentunya membutuhkan ilmu pengetahuan (science-oriented) dan teknologi (technological-oriented) agar kita bisa keluar dari perangkap kelompok negara berpendapatan menengah (middle income trap)

Kita sekarang berada di “the new age of innovation”. Ketika begitu banyak pebisnis yang menawarkan pruduk-produk mereka ke pasar, inovasi dapat menjadi “pembeda” produk atau jasa dalam persaingan.

Inovasi berasal dari kata Latin “innovare” yang berarti memperbarui. Inovasi adalah proses memperbarui suatu produk atau jasa menjadi kekinian dan bermanfaat. Bisa dengan cara menerapkan proses, teknik baru, atau gagasan baru yang menciptakan nilai baru. Contohnya, aplikasi gojek, yang mengubah moda pesan dan antar barang dan jasa. Contoh lainnya tren layanan perancang busana yang mampu menghadirkan pengalaman baru pada konsumen sekalipun tidak ada pertemuan langsung. Konsumen hanya melihat karya di aplikasi.Mereka percaya dengan tawaran desain pakaian seperti yang ada diaplikasi.

Beranjak dari pemikiran itu eksraf membutuhkan kolaborasi antara akademisi,  ilmuwan, pelaku bisnis, dan pemerintah dalam hal ini Kemenparekraf sebagai  fasilitator pendanaan dan fasilitas riset/ penelitian. Kolaborasi dapat menjadi solusi sekaligus akselerator geliat eksraf untuk mendorong optimisme pasar sebab setiap pihak yang terlibat dapat saling menutupi celah kompetensi yang belum tersedia atau belum siap.

Keberadaan Kemenparkraf mempunyai juridiksi eksekutif membuat kebijakan lintas sektoral  dengan Kemendikbud dan Ristek dan Badan Riset dan inovasi nadional (BRIN) yang diharapkan pula mampu menurunkan ekonomi biaya tinggi.

Dengan kian terbukanya lapangan kerja pada segmen industri eksraf dan terkoordinasinya “linkage” antara industri kecil, menengah dan besar, ada optimisme yang bersifat realistis bahwa sikap adaptif, fleksibel, dan berupaya maksimal menjadi pemandu agar mampu mengarungi krisis dengan baik. Hanya dengan jiwa yang optimistis dan percaya diri bisa mengarungi krisis pandemi di muka bumi dengan rasa tanggung jawab. Sebuah tantangan yang membutuhkan ketepatan arah kebijakan dan sinergi langkah implementasinya di lapangan sehingga ekraf bisa dipacu lebih cepat dan penerimaan negara pun membaik.

BACA:  Semangat Mengikuti Webinar ‘Guru Diatas Garis’, Peserta Luapkan Narasi di Chatting Room

Daya Lenting

Secara historis ekraf lahir dari krisis ekonomi pada tahun 1990-1991 di Ausralia dan Inggris. Pengembangan sektor ekraf tidak hanya menyelamatkan Australia dan Inggris bisa keluar dari jurang resesi tetapi juga memperkuat perekonomian mereka hingga saat ini. Kebijakan itu meliputi bidang ekonomi dan kebudayaan.

Kondisi serupa terjadi kini di Indonesia, sektor ekraf pada 2019 berkontribusi pada pendapatan domestik bruto (PDB) sebesar Rp 1.211 triliun, dan menyerap lebih dari 19 juta pekerja. Namun, pada tahun 2020, dimana 98 persen pelaku industri kreatif terimbas pandemi. Meski demikian ditengah pandemi  ekraf dinilai memiliki daya lenting yang tinggi terhadap krisis. Sempat kaget, tapi bangkit kembali; dan tidak berlebihan jika sektor ekraf diharapkan menjadi kendaraan pemulihan ekonomi Indonesia. Sebab, sektor ekraf menimbulkan efek berganda (multiplier effect) ke berbagai bidang. Ambil contoh, sektor kuliner membawa efek berganda ke sektor lainnya, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan hingga pariwisata.

Pekerjaan Rumah

Strategi pemulihan ekonomi dan bisnis 2021, yakni menjaga daya beli masyarakat dan tingkat konsumsi rumah tangga serta stabilitas nilai tukar rupiah untuk memjaga kepercayaan pasar dan dunia usaha; penyelamatan sektor UMKM dan capaian kinerja ekraf diprioritaskan demi mencegah bertambahnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah positif  4,5- 5,3 persen di 2021, dan 5,4-6,0 persen di 2022 masih optimitis dapat dicapai. Secercah harapan muncul dari adanya “pendatang  baru” di sektor ekraf. Kemungkinan karena ada yang mengalami pemutusan kerja, lalu mereka bangkit dan berusaha dengan membuat usaha-usaha mikro  berbasis keluarga. Dengan usaha kreatif seiring tantangan zaman, demi kompor agar tetap mengepul, bisa menafkahi keluarga mereka mengambil celah ekraf untuk menuai rezeki dan menjadi penggerak utama akselerasi ekonomi melalui ekonomi kreatif. Entah, suka atau tidak, bermula dari ambisi manusia mempertahankan hidup sifat primitif manusia mengikuti hukum Darwinian “struggle for life” tentu dengan problematika dan dimensi yang berbeda menghadapi tantangan dan ujian kehidupan.

Turbulensi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan faktor-faktor ketidakpastian, sehingga pemerintah mengantisipasi sekaligus memitigasi ketidakpastian membuat kita tetap bersemangat menjalani kehidupan dengan penuh kreativitas dan kearifan.

BACA:  Ketua MPR RI: Bukan Hal Mustahil OJK Dibubarkan

Sisi yang dapat dikontrol pemerintah adalah penyesuaian (kebijakan) untuk menumbuhkan geliat ekraf untuk dorong optimisme pasar merupakan pekerjaan rumah yang harus dijawab.

Implikasi kebijakan lainnya terhadap perbaikan standar  kualitas produk ekraf Indonesia untuk dapat dipasarkan dalam  pasar global. Daya saing produk Indonesia masih menjadi persoalan besar yang membuat porsi produk ekraf Indonedia kecil dalam pasar global. Tentu saja akselerasi ekonomi dikemudikan oleh teknologi dan informasi yang berhulu pengetahuan. Hilirnya,  ekonomi kreatif menjadi “ladang baru” yang menonjolkan sebagian besar bahan bakunya bertumpu pada pengetahuan tersebut.

Nilai tambah ekonomi sektor ekraf diproyeksikan tumbuh pada tahun- tahun mendatang dengan syarat  pemerintah harus serius memberikan perlindungan hak cipta terhadap seni visual, pertunjukan seni, buku, arsitektur, film, musik dan lainnya. Demi mendukung eksistensi para pelaku UMKM dalam negeri dalam mengantisipasi terjadinya lonjakan impor, penyaluran kredit bagi dunia usaha melalui perbankan dan lembaga keuangan perlu dilonggarkan dan diperjelas persyaratannya.

Kita bisa memahami sejak pandemi covid-19 mendatangi umat secara global, hampir semua tatanan sosial dan ekonomi, termasuk tata niaga  digital mengalami perubahan. Nah, sekarang pemerintah perlu membenahi tata niaga digital, dan para pelaku ekraf pun membutuhkan terobosan mengantisipasi perubahan itu. Kebijakan layanan kreativitas layanan berbasis  tekonologi dan inovasi (era digital 4.0), kolaborasi berbasis potensi local (local wisdom), dan pemberdayaan masyarakat (empowering) serta adaptasi sebagai solusi untuk akselerasi ekonomi melalui ekonomi kreatif. (Jakarta,  03 Juni 2021)

*  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *