Apa Respons Kita di Hari Valentine? Apakah Kita Merayakannya?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Bagaimana muncul Hari Valentine itu sendiri? Dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, Hari Valentine dirayakan tidak lepas dari kisah sosok Santo Valentinus yang menjadi martyr (mati syahid) karena menikahkan serdadu Romawi yang dilarang menikah oleh Kaisar Cladius II.Kemartyran Santo Valentinus tersebut membawa namanya menjadi icon (penanda) penamaan hari kasih sayang ini.

Bangsa Eropa yang menjajah bangsa-bangsa lain di beberapa belahan dunia membawa tradisi merayakan Hari Valentine tersebut. Hal ini pun terjadi juga di Indonesia. Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antara dua orang yang saling mencintai juga mulai muncul. Tradisi ini menjadi populer di kalangan anak muda. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orangtua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, atau mengunjungi panti asuhan atau panti werdha di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Mal-mal, pasar-pasar swalayan, dan berbagai pertokoan di Indonesia hingga toko online marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine dan menjual produk-produk terkait Hari Valentine.

Dalam proses perjalanan sejarah peringatan Hari Velentine banyak mengalami kritik pro dan kontra. Kelompok-kelompok radikalisme keagamaan garis keras seringkali melarang dan menganggap haram Hari Valentine tersebut. Ada yang mengaitkannya semacam ritual seks bebas dan hal-hal negatif lainnya.

Perilaku negatif tersebut tidak dapat kita pungkiri bahwa hal tersebut ada. Namun, semuanya itu tidak terlepas dari oknum (pribadi) masing-masing apakah pola pikirnya negatif atau positif. Kalau mereka memang sudah tertanam (terinternalisasi) otaknya berpikir negatif, maka otomatis perilaku dan tindakannya juga negatif.

Hari Valentine sebenarnya bukanlah ritual keagamaan. Dalam zaman now ini (istilah kawula muda sekarang), manusia yang berpikir secara dewasa dan positif mengambil hikmah dari peringatan Hari Valentine. Tanpa melihat latar belakang agamanya, Santo Valentinus adalah martyr yang mengajari kita tentang kemanusiaan. Demikian pula halnya dengan sosok-sosok lain yang dapat disebutkan di sini: Bunda Teresa, Che Guevara, Mahatma Gandi, Gus Dur, dan masih banyak lagi sosok-sosok yang mengajari kita menjadi manusia yang welas asih terhadap sesama.

Mari kita lihat sisi positifnya saja. Peringatan Hari Valentine dapat juga mengingatkan kita bahwa dunia kita makin rusak, penuh dengan kekerasan dan kebencian. Kita diingatkan tentang CINTA dan lebih tepatnya lagi tentang KASIH. Dunia kita pada zaman NOW membutuhkan KASIH, terlebih KASIH TUHAN. Mari kita menebarkan KASIH TUHAN pada momen memperingati Hari Valentine dan dilanjutkan pada hari-hari esok berikutnya. Dunia kita akan DAMAI bilamana KASIH TUHAN ada di setiap insan yang mengasihi TUHAN dan sesama. (Kompilasi dari berbagai sumber)

Penulis: Boy Tonggor Siahaan

BACA:  Ada Daya Juang untuk Mengikut Yesus

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *