Beberapa Pemikiran Bagi Pemulihan Pelayanan HKBP (Bag. I)

Beberapa Pemikiran Bagi Pemulihan Pelayanan HKBP (Bag. I)

Oleh: Ev. Ronald L. Toruan, SE., MA., MTh (*)

OPINI

Pendahuluan

Apakah kualitas pelayanan HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) masih dapat dipertahankan seperti waktu lalu? Apakah masa keemasan HKBP sudah berlalu ? Apakah eksistensi HKBP akan terus merosot. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh visi misi para pelayan yang menawarkan dirinya maju sebagai unsur kepemimpinan HKBP sekarang ini? Berikut beberapa pemikiran berdasarkan fakta di lapangan.

Dalam kurun tiga kali Sinode Godang (SG) yang lalu, dari  pengajuan visi dan misi yang berbeda dari setiap Ephorus dan Kepala Departemen terpilih, faktanya, HKBP  bukan bertambah maju. Tetapi pelayanannya, kuantitas dan kualitasnya terus merosot.

Jumlah jemaat 20 tahun lalu pernah diperkirakan 4,5 – 6,5 juta jiwa. Tetapi jika dihitung dari data yang ada pada Almanak HKBP, jumlah jemaat HKBP pada tahun 2020 tinggal sekitar 1,5 juta jiwa saja.

Demikian juga jumlah kehadiran jemaat. Mungkin beberapa Pendeta gembira jemaat yang menghadiri ibadah masih cukup banyak. Tetapi  sebetulnya kehadiran jemaat, hanya tinggal 30 persen saja. Kemana yang lainnya? Pertama, mungkin sudah pindah ke gereja lain. Kedua, masih tercatat di HKBP tetapi sudah beribadah di gereja lain. Ketiga, tidak lagi beribadah di HKBP.

Merespons pertanyaan peserta Webinar di Kebayoran baru, pembicara utama di HKBP Kebayoran Baru Pdt. Martonggo Sitinjak menjawab, “kita tidak dapat berbuat apa-apa”. Sementara itu dalam Seminar Marturia di Palembang, pembicara utama dari STT Nommensen, Pdt. Viktor Tinambunan, menghimbau supaya jemaat, sebagaimana tema Marturia tahun-tahun sebelumnya, masing-masing anggota hendaknya  dapat “membawa kembali jemaat yang sudah tidak lagi di HKBP/boan sadanari”. Apakah itu maksudnya zending? Ini pemikiran yang aneh. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Seharusnya, marturia adalah tindakan yang aktif dan mencari, merebut jiwa-jiwa baru dari tangan kuasa kegelapan. Tapi inilah yang sudah puluhan tahun dilupakan HKBP.

Sudah jelas. Anggota jemaat gereja-gereja arus utama terus merosot dan pelayanan semakin lemah, sedang  melanda di seluruh dunia. Termasuk Indonesia, khususnya gereja HKBP.  Secara iman sebetulnya, kita tetap dapat bersyukur, jika mereka yang sudah jenuh menjadi anggota HKBP, tidak menjadi murtad. Tetapi hanya pindah ke gereja Kristen lainnya. Jadi secara iman, warga kerajaan surga tidak berkurang. Hanya warga HKBP yang berkurang.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, jangan heran, tidak saja di perkotaan, di Tapanuli Utara pun, berbagai denominasi semakin tumbuh subur. Dimana jemaatnya sebagian besar adalah jemaat atestasi (pindahan dari HKBP).  Mengapa mereka pindah ke gereja lain? Banyak alasan, tetapi sederhana saja. Mereka pindah gereja karena merasa HKBP sudah tidak dapat lagi menjawab kebutuhan rohani mereka.

Jumlah anggota jemaat HKBP terus merosot karena beberapa alasan. Pertama,  tidak adanya penambahan jiwa-jiwa yang baru  karena pertobatan (konversi), terutama karena orang-orang diluar suku Batak, baik yang baru menjadi Kristen atau Kristen dari suku lain, segan bergabung di HKBP. Mengingat namanya saja sudah gereja Batak, meskipun dalam pengakuan imannya HKBP adalah gereja untuk segala suku bangsa.  Kedua, lebih separuh generasi muda HKBP di perkotaan, setelah naik sidi dan menikah, mereka lebih memilih menjadi anggota gereja yang terbuka atau multi etnis. Sedangkan di Tapanuli saja, sudah semakin banyak jemaat HKBP yang pindah ke gereja muda, khususnya aliran pantekostal/kharismatik, yang menurut mereka lebih menggugah/ menarik dan mengesankan pelayanannya.

Tidak dapat lagi ditutup-tutupi, kondisi yang semakin memburuk. Penurunan jumlah jemaat  yang aktif dan potensial, pasti berdampak pada menurunnya aliran dana masuk (persembahan) dan tentu berakibat pula pada  semakin beratnya beban biaya operasional yang harus ditanggung oleh gereja-gereja lokal. Baik biaya-biaya pelayanan dan biaya-biaya pemeliharaan aset HKBP.

BACA:  Di Webinar Guru Diatas Garis, Prof. Dr. Albiner Siagian Gaungkan Pentingnya "Mindset Revolution"

Makin terasanya permasalahan keuangan tersebut, akan berakibat pula pada penurunan kualitas pelayanan, manajemen SDM (Sumber Daya Manusia), dan terbengkalainya banyak pengelolaan asset-aset HKBP seperti gedung-gedung, Yayasan, dan lain-lain. Belum lagi, jumlah Pendeta dan full timer lainnya, yang tetap terus meningkat dan tidak terkelola dengan baik. Tidak heran ke depan ini, HKBP semakin rawan konflik, jika masalah-masalah ini tidak dapat segera teratasi.

Meskipun Sinode Godang 2020 (9-13 Desember 2020) ini hanyalah Sinode Godang Pemilihan Pemimpin gereja, warga HKBP mengingatkan bahwa HKBP harus segera berbenah. Terutama para Pendeta fungsionaris, pemegang jabatan yang dalam beberapa puluh tahun terakhir ini telah semakin mendominasi HKBP.

Jangan lupa juga, bahwa mereka-merekalah sebenarnya yang lebih banyak mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi didalam tubuh HKBP. Para pelayan non- Pendeta dan jemaat praktis, banyak yang tidak lagi memahami apa yang terjadi di dalamnya, yang sudah terlanjur percaya saja kepada para Pendetanya, yang dinilai masih memegang nilai rohani Pendeta HKBP zaman dulu.

Demikian pula para Pendeta pejabat dan mantan pejabat HKBP, meskipun sudah pensiun jika masih sehat, sudah selayaknya dapat menolong, menjadi nara sumber  dalam upaya pemulihan kembali pelayan HKBP ke depan. Artikel ini hanyalah berupaya untuk memaparkan kembali, betapa beratnya permasalahan yang sedang dihadapi HKBP, yang salah satunya berusaha ditangkap melalui visi misi calon-calon pemimpin yang minta dipilih di Sinode Godang 2020 ini.

Segenap Warga HKBP sangat berharap Sinode Godang ini dapat meresponsnya dengan benar. Jika para Pendeta tidak meresponsnya dengan baik, semoga utusan Sinode Godang yang bukan Pendeta dapat menjadi jalan keluar. Tetapi jika tidak juga, maka jelasnilai eksistensi  HKBP akan terus merosot tak terkendali.

Berikut beberapa persoalan yang selama duapuluh lima tahun terakhir ini tidak teratasi, harus dapat dijawab melalui visi-misi setiap calon Fungsionaris 2020-2024  dari tingkat Pusat sampai tingkat jemaat,  agar kemorosotan HKBP setidaknya dapat ditahan.

Beberapa Pemikiran Bagi Pemulihan Pelayanan HKBP (Bag. I)
Foto: Logo HKBP (Huria Kristen Batak Protestan)

A. Koinonia

1). Pelayanan di bidang Koinonia mulai dari Ibadah Raya, ibadah rumah tangga, dan persekutuan katagorial, terlebih terhadap kaum milenial dan anak-anak, jangan lagi dibiarkan berjalan sendiri mengikuti tradisi lama yang selama ini terlalu mengandalkan kelompok koor-koor (paduan suara). Tetapi harus dilandaskan kepada Persekutuan Doa dan Bible Studi dan ibadah-ibadah katagorial yang hidup. Barulah paduan suara berada dibelakangnya.

2). Harus mampu mengembangkan liturgi yang indah dan menarik, termasuk liturgi yang lebih bebas tetapi Alkitabiah. Penelitian dan pengembangan yang lebih serius perlu dilakukan mengingat pengembangan liturgi alternatif yang ada di berbagai gereja HKBP, terbukti belum memadai dibanding gereja-gereja lain. Jangan dulu mengatakan ‘HKBP is HKBP’, tetapi harap distudikan dan diberikan jawaban terutama untuk generasi ke depan.

3). Ibadah-ibadah rumah tangga dan ibadah karagorial, tidak perlu ditawar lagi. Sudah harus dengan konsisten mengembangkan pola partisipatif, antara lain: diskusi-diskusi Alkitab untuk menjawab tantangan kehidupan warga HKBP, dan aktual di akhir zaman ini.

4). Para Pendeta dan Penatua HKBP beserta keluarganya, harus terlebih dahulu menjadi teladan iman, memiliki kesaksian hidup yang baik. Demikian juga warga jemaat yang sudah rajin dalam kegiatan pelayanan katagorial, seharusnya juga memiliki kesaksian hidup yang dapat menjadi contoh teladan terhadap lingkungannya.

BACA:  Menakar Capaian Pembangunan Kabupaten Toba

5). Pelaksanaan tugas panggilan Koinonia tidak boleh terjebak rutinitas dan lemah. Sebagai etnis yang relatif karuniai suara yang merdu, memang sudah sepantasnya setiap kelompok katagorial di gereja-gereja lokal, musik gerejawi yang handal. Gereja harus dapat meningkatkan baik jumlah partisipan pelayanan paduan suara terlebih lagi ketrampilan musik. Hal ini memerlukan perhatian yang serius mengingat sudah banyak jemaat yang sudah tidak dapat membaca not dan menyanyikan lagu pujian dengan baik. Tetapi penting disadari lagi, bahwa persekutuan katagorial hendaknya mampu mengembangkan setiap potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu didalamnya, misalnya: pendidikan, karir dan keahlian yang dimilikinya untuk memberitakan Injil melalui potensi-potensi yang ada. Contoh: mengapa RMG dulu pernah mengambangkan sekolah Injil tukang adalah untuk memberitakan kabar baik melalui profesi tukangnya.

6). Selain sebagai media marturia, musik gereja adalah bagian penting dari liturgi (tata ibadah) di gereja Protestan. Karena itu para Pendeta dan Penatua, selain mengajarkan firman, juga harus memiliki ketrampilan musik yang memadai. Jangan seperti sekarang ini. Banyak pelayanan yang tidak memahami musik gereja, dan tidak bisa membaca not. Padahal, penyembahan kita dipersembahkan dengan musik. Itu sebabnya, para misionaris dulu mewajibkan para pemimpin jemaat mampu membaca not dan memainkan orgel/ harmonium. Mengingat tugas gereja adalah memuji Tuhan dengan lagu pujian. Ketrampilan musik agar dikembalikan menjadi salah satu kriteria, bagi mereka yang terpanggil  untuk menjadi  Pendeta jemaat. Hal ini sebetulnya pernah diterapkan di HKBP, sehingga HKBP menjadi gereja yang hidup dan bersemangat dalam persekutuan, doa dan puji-pujian (The Singing Church).

7). Sebagai gereja yang inklusif, para pelayan HKBP hendaknya memiliki persekutuan Oikumene yang luas. Khsusnya pengembangan kerjasama pelayanan Nasional dan Internasional. Bukan hanya demi kepentingan individu (pencitraan yang bersangkutan), tetapi harus memberikan dampak yang nyata bagi pemberitaan Injil dan berbagai manfaat lainnya ke dalam maupun ke luar HKBP.

B.1. Marturia (Pemberitaan Injil)

Harus diakui, bahwa HKBP selama ini sudah tertinggal dalam melaksanakan pemberitaan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Adapun pos-pos zending seperti Mentawai, suku Sakai, Anak Dalam, Rupat dan lain-lain, adalah hasil zending puluhan tahun lalu. Bukanlah hasil pelayanan HKBP dalam lima puluh tahun terakhir. Pos-pos tersebut, jika tidak salah urus, seharusnya sudah sejak lama menjadi gereja mandiri, dan tidak layak lagi diakui dan disebut sebagai pelayanan zending.

Dalam lima puluh tahun terakhir ini, para pelayan HKBP telah melupakan bahwa HKBP lahir dari jerih lelah pelayanan Misi Renish Mission Barmen (RMG). Berat memang untuk menyadarkan para pelayan HKBP akan hal ini. Terbukti dari sangat tidak memadainya perhatian dan jawaban terhadap panggilan  pemberitaan Injil, kepada orang-orang yang belum percaya. Apalagi sekarang ini, mimpi para Pendeta muda HKBP adalah, setidaknya  menjadi Praeses kalau bukan Ephorus. Padahal Yesus Kristus datang ke dunia untuk memberikan nyawanya bagi orang-orang yang terhilang.

Tidak ada cara lain, selain memahami betapa berharganya satu jiwa bagi Tuhan, bahwa ada sorak sorai para malaikat di sorga karena satu jiwa diselamatkan. Bukankah itu yang membakar semangat pelayanan misi RMG dulu sehingga rela dari jauh datang bahkan mati di tanah Batak? Karena itu pelayanan Marturia sesungguhnya adalah perduli kepada “keselamatan jiwa orang berdosa yang belum mengenal Kristus”. Sebab itulah Kristus harus menderita dan disalibkan.  Pelayanan Marturia adalah memberitakan Injil  kepada orang yang belum menerima Kristus, di dalam dan diluar gereja. Mohon perhatikan, pelayanan Marturia, bukanlah  membangun rumah ibadah atau kerukunan umat beragama atau memberi bantuan sosial. Ya, hal-hal tersebut dapat menjadi media, tetapi bukan sasaran akhir. Yang pasti tidak boleh sekedar untuk pencitraan atau foto-foto. Karena itu ke depan. pelayanan Marturia  dari Pusat sampai gereja yang terkecil, diingatkan supaya :

BACA:  Mantan Dirjen Mandikdasmen Kupas Tuntas Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, pada Webinar Komunitas Tapanuli Utara Harus Hebat

1). Memberitakan Injil kepada setiap warga jemaat dan setiap orang yang akan naik sidi, sampai mereka memperoleh kepastian beriman hanya kepada Tuhan Yesus Juruselamat, sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Dan pembenaran oleh iman yang bertumbuh dewasa, kearah kesucian hidup di dalam Kristus. Hanya para pelayan dan warga jemaat yang dewasa rohani seperti itu, yang dapat mengajar pula keluarga dan anak-anak mereka di dalam iman yang menyelamatkan. Apabila pelayanan marturia dapat melakukannya, maka barulah HKBP dapat mengatasi masalah Kristen KTP (Kartu Tanda Penduduk), meningkatkan kualitas jemaat, meningkat spiritualitasnya, dan memotivasi hidup menjadi berkat, dan berguna di dalam dunia.

2). Dalam pelatihan zending desa dan kota, HKBP tidak perlu malu dan harus belajar banyak dari gereja dan lembaga-lembaga lain. HKBP harus jujur dengan dirinya, bahwa pembukaan gereja cabang oleh warga HKBP yang belum memiliki persekutuan atau gereja, berbeda dengan ‘pemberitaan kabar baik’ kepada yang belum percaya dan pertumbuhan gereja sebagai buahnya.

3). Pelayanan Marturia perlu memastikan, bahwa para Pendeta dan majelis jemaat memahami pelayanan pemberitaan Injil yang luwes di tengah masyarakat majemuk seperti di Indonesia ini. Setiap orang tidak dilarang oleh undang-undang memberitakan ‘kabar baik’, supaya orang lain memperoleh “hidayah”. Sudah terlalu lama para pelayan HKBP terlalu banyak berteori. Tidak perlu membuat buka metode misi sendiri, kalau tidak memiliki pengalaman. Pelajari dan adopsi saja metode-metode penginjilan yang relevan, untuk dapat melaksanakan  kegiatan penginjilan baik di pedesaan terlebih di perkotaan, yang haus akan ‘kabar baik’.

4). Pelayanan Marturia harus sungguh berbeban mendoakan jiwa-jiwa yang terhilang. Dan melaksanakan kebaktian zending, kebaktian kebangunan rohani, baik di dalam jemaat, terlebih di luar gereja.

5). Mampu mengkoodinasikan dengan baik pelayanan pemuridan dan penjemaatan jiwa-jiwa baru, apalagi  mengingat gereja HKBP masih dominan sebagai gereja suku. HKBP harus menjadi gereja yang benar-benar terbuka untuk segala suku, agar betah menjadi anggota jemaat gereja HKBP. Apakah nama Bataknya sudah perlu diganti dengan yang lain? Ini perlu studi yang mendalam.

6). Selain pelayanan Marturia, harus mampu menciptakan komunikasi interen dan eksterenal gereja (masyarakat), pelayanan Marturia juga harus mampu menciptakan dan meningkatkan kerjasama oikumenis untuk meningkatkan semangat dan ketrampilan zending desa/perkotaan, baik Nasional maupun Internasional… (bersambung ke Bagian II: B.2. Pelayanan Marturia  Musik)

Beberapa Pemikiran Bagi Pemulihan Pelayanan HKBP (Bag. II)

* Penulis adalah Ekonom (Berkarir di Bank Indonesia)/ Evangelis HKBP di Depok

Editor: Danny S

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *