Berburu Ikan Asin di Bagan Siapiapi Sampai ke Panipahan

Berburu Ikan Asin di Bagan Siapiapi Sampai ke Panipahan

PANIPAHAN, BatakIndonesia.com — Ingatkah Bagan Siapiapi dan Tanjung Balai pada pelajaran masa SMP dahulu? Kota ini dikenal sebagai penghasil ikan asin. Ketika saya bermukim di Dumai, sekitar 2012, saya berkunjung ke Bagan Siapiapi. Saya membayangkan akan menemukan banyak kapal nelayan, hiruk-pikuk nelayan, pasar lelang, dan aroma khas ikan asin yang menyengat. Onde, ternyata tidak saya temukan seperti bayangan tersebut.

Tahun lalu saya ke Bagan Siapiapi lagi. Di sana ada event (acara) wisata bakar tongkang. Acara itu sangat ramai karena orang-orang Bagan Siapiapi yang telah banyak merantau bahkan ke luar negeri akan berusaha pulang kampung pada saat itu dan melihat acara tersebut sekaligus memastikan cerita ikan asin tadi. Begitulah misinya.

Berburu Ikan Asin di Bagan Siapiapi Sampai ke Panipahan
Tepi Laut Bagan Siapi-api 1939. (Sumber: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde)

Ahing, rekan saya yang bermukim di Pekanbaru adalah orang Bagan Siapiapi yang ikut pulang kampung sekaligus melihat acara ini. Ia membawa saya jalan-jalan dan mengatakan bahwa cerita itu sudah lama berlalu, bahkan pelabuhan dahulu telah menjadi darat. Di atasnya sudah merupakan pemukiman yang sama sekali tidak nampak kesannya bahwa itu bekas pelabuhan besar kecuali adanya sisa peralatan pelabuhan yang ditunjukkan oleh Ahing, namun tak nampak olehku. Penghasil ikan asin saat ini ada di Panipahan, katanya.

Sudah lama saya rencanakan ke Panipahan, bahkan Benten, rekan saya yang berasal dari Panipahan sudah beberapa kali saya tanyakan kapan dapat berangkat ke Panipahan.
Panipahan dapat diakses dengan kapal (speed boat) sejam perjalanan dari Bagan Siapiapi dan dua jam dari Tanjung Balai. Benten memberitahukan bahwa Panipahan dapat diakses lewat jalan darat dari Aek Nabara.

Hari ini saya di Panipahan saya tempuh melalui jalan darat. Perjalanan yang melelahkan. Dari Aek Nabara menuju Panipahan terdapat kota-kota kecil seperti Negeri Lama, Ajamu, dan Sungai Rakyat. Dari sini juga persimpangan ke Sungai Berombang.

Abong, kawan Benten yang tinggal di Panipahan menyampaikan kemungkinan kesulitan jalan darat karena hujan dan jalan yang belum bagus. Selepas Sungai Rakyat habislah jalan aspal dan jalan beton, dan harus dilanjutkan jalan tanah sejauh kurang lebih 15 km hingga bundaran tempat penitipan mobil dan terminal angkutan umum.

Sehabis jalan aspal tadi muncullah keraguan menjalani jalan tanah hingga memasuki pos perkebunan. Ternyata Sino, rekanan Abong telah menunggu kami di pos tersebut. Sino menuntun kami selama 30 menit menuju Bundaran tempat penitipan mobil. Di tempat ini banyak mobil dititipkan di rumah-rumah masyarakat. Akhirnya kami menuju Panipahan dengan naik sepeda motor selama 30 menit, perjalanan seru. Untunglah kawan saya Leoni Marpaung cukup kooperatif, kalau tidak gagallah menuju Panipahan

Penulis: Robert Hasudungan Sirait (Simpatisan FBBI di Riau)

BACA:  Aksi #SAVEBABI Gugah Kepedulian Derita Peternak Babi

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *