Dr. (Cand) Edison H. Manurung Bincang Soal Dosen Sejahtera, di Webinar Nasional DPW PDRI Papua

Dr. (Cand) Edison H. Manurung Bincang Soal Dosen Sejahtera, di Webinar Nasional DPW PDRI Papua

Foto: Para Nara Sumber, Ketua DPW dan peserta Webinar Nasional PDRI Papua

JAKARTA, BatakIndonesia.Com

Dr (Cand). Drs. Edison Hatoguan Manurung, MM., MT., MH., IICD., CST., BFA., CSE, Ketua LPPM Universitas Mpu Tantular, Jakarta, perbincangkan soal dosen sejahtera, di Webinar Nasional Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI) Papua.

Adapun judul presentasinya adalah: “Apakah Dosen Sejahtera Dalam Menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi?”. Sedangkan 2 (dua) nara sumber lainnya, bicara soal penulisan buku ajar, dan penggunaan aplikasi serta format Mendeley dalam jurnal bereputasi Internasional.

Webinar itu sendiri bertajuk “Penerapan Tridharma Perguruan Tinggi Di Masa Covid-19: Berkarya Dan Sejahtera”. Acara digelar pada  Senin, 31 Agustus 2020, pukul  10.30 hingga 15.30 WIT (08.30-13.30 WIB), dari sentral kendali bumi Papua, dengan platform Zoom Meeting & Youtube Live.

Dalam paparannya, Edison Manurung mengatakan, bahwa di Indonesia kesejahteraan itu masih dianggap sebagai akibat. Sejahtera diukur dengan kesuksesan yang bersifat materi, sedangkan spiritual tidak diperhitungkan.

“Tapi di negara maju, soal kesejahteraan sudah tidak lagi menjadi akibat. Tidak lagi menjadi permasalahan. Justru sukses itu yang menjadi ukuran,” ungkapnya.

Menurut Dosen Tetap Fakultas Teknik Universitas Mpu Tantular, Jakarta ini, ada  7 (tujuh) tantangan Dosen yaitu: Soal Biaya penelitian, Ada tingkatan dalam dunia Dosen, Jumlah pendapatan yang belum cukup, Dikritik mahasiswa, Kemampuan mahasiswa tidak sesuai yang diharapkan, Menghadapi segala jenis dan kepribadian mahasiswa, tuntutan penelitian tiap semester.

Dikatakan Asesor Nasional bidang teknik ini, ada beberapa perbedaan profesi Dosen di Indonesia dengan Dosen di Luar Negeri.

“Yang menarik diantara perbedaannya adalah, dosen di Indonesia entry levelnya adalah Master atau Magister. Sedangkan di luar negeri entry levelnya adalah Doctor, dengan pengalaman Post Doctoral,” tandasnya.

Dalam hal produktivitas penelitian, Indonesia masih dikategorikan rendah dibandingkan mereka yang sudah tinggi.

“Sedangkan dalam hal relasi dengan industri, pada dasarnya sama-sama tinggi, hanya perbedaannya adalah, di Indonesia kaitannya dalam hal proyek konsultansi, sedangkan di luar negeri, kaitannya dalam proyek penelitian,” imbuhnya.

Yang menarik lagi, lanjut penggagas ‘Webinar Berseri 9 Universitas Antar Propinsi di Indonesia’ ini, dalam hal sistem renumerasi.

“Di Indonesia, sistem remunerasi dikategorikan Cukup Fleksibel, dan dimungkinkan untuk menambah gaji dosen dari kegiatan lain-lain. Sedangkan diluar negeri, dikategorikan Full Employment, dan tidak dimungkinkan untuk menambah gaji dosen dari kegiatan lain-lain. Artinya, kesejahteraan para dosen disana sudah terpenuhi lebih dulu,” bebernya.

BACA:  Kefas Hervin Devananda Terpilih Jadi Ketua DPD Pewarna Jabar, Canangkan Kiprah Pers Kebinekaan

Sementara dalam meningkatkan kesejahteraan, selain menambah jam pengajaran, para Dosen memang harus rajin dan kreatif, untuk menulis buku ajar, atau buku teks lainnya.

“Jika perlu berkolaborasi dengan yang sudah pengalaman menulis, ya nggak apa-apa. Demikian juga dalam proyek-proyek penelitian, juga bisa dilakukan join, jika belum bisa mandiri. Tentu banyak hal yang masih bisa dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan para dosen. Yang penting, rajin, kreatif dan inovatif,” himbaunya.

Jadi, kata Edison sang Direktur perusahaan konstruksi ini, menjawab apakah Dosen sejahtera dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, jelas bisa.

“Jawabannya ya, bisa. Tentu, perlu kolaborasi yang baik dengan seluruh unsur dalam civitas akademika, dan memang harus kreatif serta inovatif. Satu hal lagi yang penting, percayalah dengan profesi anda. Tuhan akan selalu membantu orang yang tulus dalam pengabdiannya,” pungkasnya.

Ada 3 (tiga) pembicara yang dihadirkan yaitu: (1). Dr. (Cand), Drs. Ir. Edison Hatoguan Manurung, MM., MT., MH., IICD., CST., BFA., CSE. (Universitas Mpu Tantular Provinsi DKI Jakarta); (2). Dr. Drs. H. Yadiman, SH., MH. (ARS University Bandung Provinsi Jawa Barat); dan (3). Herman HI. Tjolleng Taba, ST., MT. (Universitas Sains & Teknologi Jayapura).

Di awal acara, Wakil Ketua Umum DPP PDRI, Dr. Endang Samsul Arifin, M.Ag dalam sambutannya mengatakan, ada 25 provinsi DPW PDRI di Indonesia yang sudah dilantik, dan DPW Papua dapat menjadi contoh, karena sangat produktif.

“Ada 25 provinsi DPW PDRI di Indonesia yang sudah dilantik, dan ini DPW PDRI Papua sudah bagus sekali, karena sangat produktif. Ini sudah Webinar Nasional ke-2 setelah pelantikan. DPW PDRI Papua bisa menjadi contoh bagi DPW PDRI lainnya,” ungkapnya.

Dikatakan Endang, tema yang dipilih juga sangat relevan degan situasi sekarang ini, dan juga sesuai dengan misi utama PDRI, yang ingin meningkatkan kompetensi dan  kesejahteraan  para dosen.

“Tema yang dipilih juga sangat relevan degan situasi sekarang ini, dimana produktivitas kita harus tetap jalan, sekalipun masa pandemi Covid-19. Selain itu, tema juga sangat sesuai dengan misi utama PDRI, yang ingin meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan para dosen. DPP PDRI sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan DPW PDRI Papua,” bebernya.

Usai sambutan, nara sumber pertama, Dr. Drs Yadiman, SH., MH menyebut posisinya di Bandung, dan memperkenalkan diri sebagai abdi Negara, akademisi, sekaligus wiraswasta. Yadiman juga saat ini menjabat sebagai Sekjen DPP PDRI.

BACA:  Menakar Capaian Pembangunan Kabupaten Toba

Materi yang dipaparkan mengenai Dikatakan, dirinya juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Purwakarta periode rahun 2012-2016. Pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden R.I berupa Satya Lencana pengabdian 30 tahun, dan hingga kini sudah menulis buku sebanyak 36 judul.

Yadiman membawakan materi tentang bagaimana menulis Buku Ajar maupun Buku Kuliah sebagai salah satu kegiatan para dosen yang berkaitan dengan pengajaran, dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Menulis buku ajar merupakan salah satu kegiatan para dosen yang berkaitan dengan pengajaran, sebagai pelaksanaan tri darma perguruan tinggi. Di masa Covid ini, tentu banyak waktu di rumah. Jadi sebenarnya punya kesempatan menulis buku. Dengan itu, bisa  membantu kesejahteraan para dosen, karena bisa dijual dan mendapatkan nilai ekonomi untuk para penulisnya,” ungkapnya.

Yadiman yang sudah membuat 36 buku ini menjelaskan bagaimana rancangan dan metode menulis buku, sehingga menjadi buku yang berkualitas dan laris. Bahkan sudah  pernah menulis buku dengan 2 (dua) Menteri yaitu: Menteri Prof. M. Natsir dan Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim, dan bukunya tergolong ‘Best Seller’.

Setelah paparan, para peserta dipersilahkan langsung mengajukan pertanyaan. Ada beberapa penanya tentang trik menulis buku agar best seller, termasuk strategi bagaimana bisa menulis bersama 2 (dua) Menteri, seperti pengalaman nara sumber.

Adapun pembicara ke-3, Herman HI. Tjolleng, ST.,MT dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Papua membawa judul presentasi “Manajemen Pustaka dan Metode Referensi Penulisan Menggunakan Mendeley” dalam hal penulisan jurnal di jurnal Nasional dan Internasional bereputasi. Demikian juga untuk penulisan buku ajar maupun buku pelajaran.

Herman menjelaskan, untuk menggunakan aplikasi Mendeley, maka desktop harus di instal terlebih dahulu programnya. Dengan program Mendeley, dapat menyimpan beberapa referensi yang akan digunakan dalam membuat jurnal ilmiah.

Menurut Herman, dalam penulisan jurnal ilmiah di jurnal bereputasi Internasional, penulis harus mengikuti syarat yang ditetapkan, jika ingin jurnalnya dimuat.

“Apalagi kalau di jurnal tersebut sudah tertera logo Mendeley, maka jika kita tidak menggunakan metode Mendeley, percuma kita masukkan tulisan  kita. Karena pasti tidak akan diterima. Demikian juga misalnya, jika jurnal tersebut mensyaratkan program Cetero, atau lainnya. Tapi, biasanya kedua program ini yang sering digunakan,” terangnya.

Sebab jika tidak menggunakan program khusus itu, mereka juga akan kesulitan untuk mengecek, apakah tulisan itu plagiasi atau tidak, kendati masih ada yang agak fleksibel mengenai presentase maksimal plagiasinya.

BACA:  Natal Oikoumene Kota Medan: Merajut Semua Perbedaan

“Dengan program itu, mereka akan mengecek, apakah ada plagiasi atau tidak. Autor gate nya biasanya sudah ada. Kendati masih ada yang agak fleksibel mengenai presentase maksimal tingkat plagiasinya. Maka, itu sebabnya, semua yang ditetapkan, harus kita ikuti. Terlebih lagi, kalau kita bisa menggunakan salah satu tipe remplate yang tersedia. Nah, itu akan  lebih  mudah lagi diterima,” tandasnya.

Dalam sesi tanya-jawab, ada yang meminta agar dibuatkan waktu khusus pelatihan mengenai program tersebut, karena masih belum maksimal dalam Webinar. Edison Manurung juga menimpali, agar dapat diatur waktu satu bulan ke depan, dan berjanji untuk mengajak rekan-rekan dosen lainnya mengikuti pelatihan tersebut.

Diujung Webinar, Ketua DPW PDRI Papua, Dr. Indah Sulistiani, SE., M.I.Kom mengucapkan terimakasihnya kepada para nara sumber yang telah berbagi ilmu dengan para dosen di Papua.

“Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, kepada para nara sumber, yang telah bersedia berbagi ilmu dengan kami para dosen di Papua ini. Kami berharap, masih ada kesempatan lain untuk bias saling berbagi, dalam rangka sama-sama meningkatkan kualitas SDM, sebagaimana salah satu konsern program Pemerintah, khsususnya di Indonesia Timur,” tutup dosen STIKOM Muhammadiyah Papua ini.

Dalam pantauan  media, webinar dihadiri para Dosen anggota PDRI dari berbagai perguruan tinggi  dari Papua, Bandung, Palembang, Purwokerto, Surabaya, Indragiri, dan Jakarta. Acara dipandu Host dan Moderator: Muhtar Syam, SE., M.Pd.I. (Dosen STIKOM Muhammadiyah Jayapura) dan Aisyah, M.Pd. (Dosen STIKOM Muhammadiyah Jayapura). DANS

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *