Edy Rahmayadi di Mata Masyarakat Batak yang Tinggal di Jakarta

Edy Rahmayadi di Mata Masyarakat Batak yang Tinggal di Jakarta

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Masyarakat Batak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) tentu tahu betul dengan sosok bernama Edy Rahmayadi (Gubernur Sumatera Utara). Ada beberapa berita yang kurang elegan disampaikan media terkait perkataan Gubernur Sumut (Sumut) ini. Salah satunya tentang wisata halal di Kawasan Danau Toba yang dipelintir sedemikian rupa, sehingga merugikan sosok Gubernur Sumut ini. Seperti apakah sebenarnya sosok Edy Rahmayadi di mata masyarakat Batak?

Di sela acara pembukaan ULOS FEST 2019, di Museum Nasional Indonesia, Selasa (12/11/2019) pukul 10:00 WIB, Gubernur Sumut tersebut hadir. Ia tidak hanya membawa ulos 500 meter yang tercatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai ulos Batak terpanjang dan mengajak penari terlatih dari Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), namun ia juga memberikan sambutan dan keynotes speaker dalam Seminar Nasional ULOS FEST 2019 sekitar 30 menit.

Semua mata hadirin tertuju kepada sosok Gubernur yang pernah memimpin Kodam Bukit Barisan ini dan menyimak setiap ucapannya. Kata per kata dicermati oleh hadirin yang hampir semuanya adalah peserak (pergi keluar dari kampung halamannya) yang tinggal di Jabodetabek.

“Saya berbicara di hadapan orang Jakarta, bukan orang yang tinggal di Sumut,” ucap Edy Rahmayadi. Sepertinya, ia terkesan menyimpan sesuatu terpendam yang ingin diungkapkannya. “Jika datang ke kampung halamanmu, bawalah yang baik-baik, marsipature hutana be. Saya mendengar banyak orang yang membully saya, tak apa. Sekarang pun saya mau curhat (Red.: mencurahkan isi hatinya). Sebenarnya saya baik dan orang Sumatera asli. saya dari suku Melayu beristri br Lubis, jelas orang batak,” ungkapan hatinya.

Edy Rahmayadi di Mata Masyarakat Batak yang Tinggal di Jakarta
Personil FBBI turut hadir dalam ULOS FEST 2019

“Orang Jakarta banyak yang tidak saya senang karena tidak mendukung saya. Nah, pertemuan hari ini, saya bermaksud manfaatkannya untuk bertemu, curhat apa yang saya harapkan dari orang Batak di Jakarta ini,” tandasnya.

“Setahun saya belajar. Apa yang terjadi? Oleh karena itu, tiba pada kesimpulan, mari kita membangun Sumut ke depan. Jangan lagi membully karena yang terjadi di antara kita kurang informasi. Bagi saya, agama adalah pilihan. Jadi, tidak boleh agama digunakan alasan untuk kita bersama sama. Saya punya hubungan yang sangat erat dengan orang Batak. Yang menjadi kodrat adalah suku. Itu bukan pilihan. Jadi kita tak boleh gunakan itu untuk tidak bersatu,” lanjutnya.

“BATAK CENTER ternyata bisa menjembatani itu semua. Ke depan, saya ingin lebih besar panggung ini dengan peserta yang lebih luas lagi,” tutupnya mengapresiasi ULOS FEST 2019 yang diselenggarakan BATAK CENTER.

Edy Rahmayadi di Mata Masyarakat Batak yang Tinggal di Jakarta

“Nah, keterbukaan itu, kami gunakan di sela kesempatan sempit dengan sang Gubernur saat rehat. Kami (Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal FBBI) berfoto dan bincang dengan Gubernur Sumut,” pungkas Ronsen Pasaribu sebagai Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI).

“Ya, kita nanti bertemu di Medan. Kita bicarakan bersama. Begitu jawaban Pak Gubernur ketika perkenalan dengan penjelasan bahwa FBBI  adalah ormas yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat di bonapasogit. FBBI pernah melaksanakan Pelatihan Perhotelan 3 hari di Samosir,” kata Ronsen Pasaribu yang juga menjadi salah satu pendiri BATAK CENTER.

“Jadi kesimpulannya, kesan Gubernur keras, berpihak, bagi saya sudah sirna. Beliau tegas karena tentara, tetapi hatinya lembut dan menunjukkan kebapaan dari semua suku dan agama pada masyarakat Sumatra Utara maupun para perantau,” lanjutnya.

“Semoga, rencana audiensi dengan Gubernur Sumut terlaksana setelah kepengurusan DPD FBBI Propinsi Sumatra Utara selesai dilantik agar sekaligus berkenalan dengan meminta arahan seperlunya,” tutup Ronsen Pasaribu.

ULOS FEST 2019 adalah acara yang diselenggarakan oleh BATAK CENTER. Organisasi ini khusus mengeksekusi kegiatan habatakon yang didirikan atau digagas oleh dua ormas, yaitu: FBBI dan YPDT (Yayasan Pencinta Danau Toba). Kemudian di tengah perjalanan rencana pembentukan BATAK CENTER, turut bergabung Forum Peduli Bonapasogit yang dipimpin oleh Sintong M. Tampubolon (Ketua Umum BATAK CENTER).

Ditulis oleh: Dr Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI)
Editor: Boy Tonggor Siahaan

BACA:  Antusias Masyarakat Batak Terhadap Ulos dalam Acara ULOS FEST 2019

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *