Emeritus Ephorus SAE Nababan Berpulang, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Sebut Almarhum Guru Tentang Pentingnya Gereja Berubah

Emeritus Ephorus SAE Nababan Berpulang, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Sebut Almarhum Guru Tentang Pentingnya Gereja Berubah

Foto (ist): Saat Sang Emeritus Ephorus Pendeta Dr. SAE Nababan masih berjuang pada detik-detik terakhir, bersama anggota keluarga

 

JAKARTA, BatakIndonesia.Com

Berita duka menyelimuti warga jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) khususnya, karena Sabtu 8 Mei 2021, pukul 16.18 WIB beredar luas di media sosial, bahwa Emeritus Ephorus Pendeta Dr. SAE Nababan telah berpulang ke rumah Bapa di Surga.

Pemilik nama lengkap Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, LlD ini berpulang di RS Medistra Jakarta, saat usianya yang sudah sangat sepuh, 88 tahun. Pendeta SAE Nababan lahir di Tarutung 24 Mei 1933.

Emeritus Ephorus SAE Nababan Berpulang, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Sebut Almarhum Guru Tentang Pentingnya Gereja Berubah
Foto: Cover Buku Pdt. Dr. SAE Nababan tahun 2020

Tokoh HKBP yang sangatterkenal ini di Era Orde Baru hingga Orde Reformasi, memiliki sederet atribut, mulai dari: Senior GMKI, Sekum PGI, Ketua Umum PGI, Presiden Dewan Gereja-Gereja Sedunia hingga Emeritus Ephorus HKBP, yang sekaligus juga menjadi kiprah perjalanan karirnya sebagai Teolog yang dikenal sangat memiliki pendirian teguh.

Atas meninggalnya tokoh ini, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Robinson Butar-butar, M.A yang dihubungi awak media ini melalui jaringan WA menyatakan, HKBP dan Gerakan Oikumene sangat menghargai karya dan perjuangan beliau.

“Kita, HKBP dan Gerakan Oikumene sedunia bersyukur kepada Tuhan atas hidup, karya dan perjuangan hambaNya, Pdt. Dr. Soritua Nababan,” ungkapnya kepada media BatakIndonesia.Com, Sabtu (08/05/2021) pukul 18.17 WIB.

Menurut Ompui Ephorus HKBP Pdt. Dr. Robinson Butar-butar, sosok Emeritus Ephorus Pendeta Dr. SAE Nababan ditengah bangsa, beliau merupakan teolog keadilan dan kemerataan.

Emeritus Ephorus SAE Nababan Berpulang, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Sebut Almarhum Guru Tentang Pentingnya Gereja Berubah
Foto: Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Butar-butar

“Di seluruh dunia, ia merupakan salah seorang dari tokoh sedunia Gerakan Oikumene. Di tengah bangsa kita, ia merupakan teolog keadilan dan kemerataan. Bagi para pejuang  keadilan dan perdamaian, ia inspirator dan penopang,” lanjutnya.

BACA:  Bupati Muba Dodi Reza Bernatalan ke Beberapa Tokoh Kristiani

Sementara, bagi pribadi Ompui Ephorus HKBP Pdt. Dr. Robinson Butar-butar, sosok seniornya tersebut merupakan guru tentang pentingnya gereja berubah.

“Bagi saya secara pribadi ia merupakan guru tentang pentingnya gereja berubah dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan firman Allah dan kehendak Allah Tritunggal, walaupun dengan resiko,” pungkasnya.

Adapun Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, M.Th, Calon Ephorus HKBP 2020-2024 yang pada Desember 2020 lalu berhadapan dengan Ephorus saat ini Pdt. Dr. Robinson Butar-butar ketika dikonfirmasi mengatakan, ada beberapa poin yang menjadi catatannya.

“Beliau sangat menghendaki kemajuan orang muda dalam menentukan masa depan gereja. Beliau juga sangat commit memperjuangkan gereja harus ikut menentukan kehidupan bermasyarakat. Harus bebas intervensi,” ungkap Martongo membalas WA awak media ini.

Selain itu, mantan Kepala Departemen Koinonia Pengurus Pusat HKBP periode 2016-2020 yang kini kembali bertugas sebagai Dosen STT HKBP Pematang Siantar ini mengatakan, Pendeta Dr. SAE Nababan menghendaki gereja harus mengenal tanda-tanda zaman.

Emeritus Ephorus SAE Nababan Berpulang, Ompui Ephorus Pdt. Dr. Robinson Sebut Almarhum Guru Tentang Pentingnya Gereja Berubah
Foto: Calon Ephorus HKBP 2020-2024 Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, M.Th

“Beliau juga menghendaki gereja harus mengenal tanda-tanda zaman. Supaya bisa memberikan kontribusi positif dalam setiap pergumulan bangsa,” pungkasnya.

Sementara dilansir dari website Saenababan.com, Pendeta Dr. SAE Nababan lebih banyak dikenal generasi menjelang era reformasi. Baik oleh warga jemaat HKBP maupun para aktivis demokrasi kala itu.

Dilansir dari website Saenababan.com, Pendeta Dr. SAE Nababan lebih banyak dikenal generasi menjelang era reformasi. Baik oleh warga jemaat HKBP maupun para aktivis demokrasi kala itu.

Dia adalah salah satu pendeta yang cukup kritis terhadap Orde Baru, terkait persoalan kemanusiaan, hukum dan keadilan. Hal ini yang banyak membuatnya harus berhadap-hadapan dengan kepentingan penguasa. Bahkan saat itu ada intervensi rezim Orba pada krisis HKBP 1992-1998, dimana ia menjadi pimpinan sinode gereja tersebut.

BACA:  Eliza Yuliyani Sihombing Terpilih Jadi Ketua Cabang GMKI Bekasi Periode 2021-2023

Sebagai Ephorus HKBP, kepemimpinannya diintervensi Bakorstanasda. Sehingga terjadilah kisruh bertahun-tahun di tubuh HKBP, yang membuat adanya dualisme kepemimpinan.

Tak heran, jika hal inilah yang membuatnya dekat dengan dengan tokoh progresif masa itu seperti K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais. Itu pula yang membuatnya terlibat dalam memfasilitasi pertemuan yang mengkonsolidasikan kekuatan sosial-politik jelang reformasi.

Refleksinya segar dan tajam serta menyorot hal-hal esensial terkait penghayatan iman Kristiani di tengah zaman yang terus berubah. Disiplin diterapkan di keluarganya sejak kecil, studi teologia digelutinya di STT Jakarta dan meraih sarjana Theologi tahun 1956. Di usia sangat muda 30 tahun kala itu, dia berhasil meraih doktor Theologi dari Universitas Heidelberg Jerman tahun 1963.

Aktivitasnya di kegiatan Oikumenis dunia sejak masih muda, hingga pengalaman praktisnya memimpin gereja dan lembaga gerejawi, nampaknya memberi andil besar pada kedalaman ide dan pemikiran yang diwacanakannya.

Di lingkup internasional Nababan pernah jadi Sekretaris Pemuda Dewan Gereja Asia 1963-1967, Presiden Dewan Gereja Asia 1990-1995, Wakil Ketua Komite Dewan Gereja Dunia 1983-1998, Wakil Presiden Federasi Lutheran se-Dunia, Ketua Vereinte Evangelische Mission.

Puncaknya dalam Sidang Raya ke-9 Dewan Gereja se-Dunia (WCC) di Porto Alegre, Brasil tahun 2006, Nababan terpilih menjadi Presiden World Council of Churches (Persekutuan Gereja Sedunia). Nababan adalah seorang teolog terkenal dan mantan Ephorus Huria Kristen Batak Protesan atau HKBP, salah satu gereja Lutheran terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Terakhir diketahui, peluncuran buku catatan perjalanan Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan berjudul “Selagi Masih Siang” dilgelar Sabtu, 15 Agustus 2020. Peluncuran ini diisi diskusi dan refleksi terkait hal-hal yang diunggah dalam buku, melalui melalui zoom meeting dan live facebook.

BACA:  Kefas Hervin Devananda Terpilih Jadi Ketua DPD Pewarna Jabar, Canangkan Kiprah Pers Kebinekaan

Selain penulis, Pdt Dr SAE Nababan, buku ini juga akan ditanggapi beberapa panelis, yakni Ketua Umum PGI 2014-2019, Pdt. Dr. Henriette Lebang, mantan Menristek Muhammad AS Hikam PhD, dan Uskup Agung Jakarta Prof Dr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kabar dimana jenazah almarhum disemayamkan. Dari pihak-pihak terkait yang dimintai informasi juga belum memberikan responsnya. DANS

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *