Epidemi Kebaikan

Epidemi Kebaikan

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Seiring dengan pergeseran paradigma penanganan penyakit, dari kuratif ke preventif, epidemiologi, ilmu yang mempelajari frekuensi, distribusi, dan penyebab penyakit, tidak lagi hanya mengurusi soal timbulnya penyakit dan sebab-musababnya, tetapi juga soal tercegahnya penyakit. Sebagai contoh, kalau dulu epidemiologi gizi lebih banyak menyoroti efek makanan terhadap timbulnya penyakit terkait gizi, sekarang itu berobah menjadi peran makanan untuk menyehatkan tubuh.

Oleh karena itu, istilah-istilah epidemiologi yang sebelumnya diasosiasikan dengan hal-hal yang berbau penyakit dan keburukan, misalnya epidemi penyakit demam berdarah atau epidemi hoaks, dapat juga kita pinjam untuk hal yang baik, seperti epidemi kebaikan, bahkan pandemi kebaikan.

Secara sederhana, epidemi bermakna merebak atau mewabahnya suatu penyakit dengan cepat dan di lingkup wilayah yang luas. Biasanya, penyebabnya adalah bakteri atau virus. Atas dasar itulah, menyebarkan berita secara cepat ke sasaran yang luas disebut memviralkan berita. Dalam hal ini, virusnya beritanya (virus/bakteri) disebut agent, media sosial–misalnya–disebut vektor atau perantara, dan sasarannya disebut inang (host).

Senada dengan itu, kebaikan juga bisa diwabahkan atau disebarluaskan secara cepat dan luas jika kita punya ‘virus’ kebaikan. Dalam hal penyebaran kebaikan, virus kebaikan itu diibaratkan sebagai tokoh atau teladan bagi kebaikan yang karena ketokohan dan keteladanannya virus kebaikan akan lebih mudah dan lebih cepat menjangkiti inang atau sasaran (khalayak). Pertanyaannya adalah “Adakah tokoh dan teladan bagi kebaikan itu saat ini?” Jawaban dan berita gembiranya adalah ada, bahkah banyak.

Masih banyak tokoh agama yang setia dengan kedalehannya. Akan tetapi, suara mereka seakan sayup-sayup tak terdengar di tengah riuhnya suara para ‘agamawan’ karbitan yang menguasai corong pengeras suara itu. Masih banyak guru yang mengabdi kepada keguruannya. Akan tetapi, tak sedikit guru tak tak tahu tempat yang pantas bahkan untuk kencing semata. Masih banyak dosen, akademisi, dan peneliti yang integritasnya amat kokoh. Akan tetapi, tak kalah banyaknya mereka yang melacurkan keakademsiannya. Masih banyak aparatur sipil negara dan pejabat negara yang amanah. Akan tetapi, amat banyak teman mereka yang koruptif dan berperilaku destruktif kepada negaranya. Masih banyak pengusaha atau pedagang yang jujur dan dermawan. Akan tetapi, pengusaha dan pedagang lainnya lebih banyak yang berlaku curang. Masih ada pemimpin, walaupun yang pengayom, chanakya, dan bergaya hidup sederhana. Akan tetapi, jauh lebih banyak yang penggerogot dan pengumbar kemewahan.

Menurut penilaian saya, pria kurus dan bertampang ‘ndeso’ itu adalah salah satu contoh yang amat pas dan lengkap bagi tokoh dan teladan kebaikan, paling tidak untuk saat ini. Hampir semua atribut kebaikan ada padanya. Kesederhanaan dan keramahannya tak dibuat-buat. Integritasnya tak tergoyahkan bagai batu karang yang bergeming dihempas ombak. Kenegarawanannya adalah patriot sejati. Komitmennya membangun negeri teguh. Kesabarannya nyaris tak berbatas. Cadangan maafnya melimpah. Pengelolaan amarahnya amat prima. Dan, karismanya–Orang Batak menyebutnya sahala—mengagumkan. Yang terakhir ini adalah resultan dari semua atribut kebaikan yang dimilikinya. Martua ma inong pangintubum na manubuhon ho, amang (Betapa bahagia dan beruntungnya ibu yang melahirkanmu, Bapak)!

Oleh karena itu, kita masih optimistik bahwa kebaikan akan mewabah di negeri ini, karena kita masih memiliki teladan yang baik bagi penyebaran benih kebaikan. Yang kita butuhkan adalah kebersamaan dan kegemaran kita menaburkan, menyamaikan, menanam, memupuk, dan menyiram benih dan pohon kebaikan agar puluhan, ribuan, jutaan, bahkan miliaran kebaikan tumbuh subur, berbunga mekar, dan berbuah lebat di segenap penjuru ibu pertiwi.

Penulis: Albiner Siagian

BACA:  Gereja dan Pelestarian Alam

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *