Gereja dan Pelestarian Alam

Banyak yang Tidak Tahu Kalau Danau Toba Punya 8 Pulau

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Beberapa hari yang lalu, HKBP melalui 6 distriknya yang betada di lingkup dan sekitar Kawasan Danau Toba (KDT) melaksanakan kebaktian serentak terkait dengan kelestarian KDT. Kebaktian yang oleh media disebut sebagai ibadah keprihatinan terhadap kondisi Danau Toba itu–walaupun menurut saya penamaan itu kurang pas–harus kita sambut sebagai upaya gereja untuk menggugah kembali kepedulian kita kepada kelestarian KDT sebagai ciptaan Tuhan. Gereja harus beranjak ke luar melewati batas/dindingnya untuk melihat persoalan faktual yang terjadi di sekitarnya.

Untuk kita ketahui bersama, melalui Alkitab, Tuhan mengamanatkan 3 mandat (perintah yang harus ditunaikan) kepada manusia (umat Kristen). Inilah yang dikenal sibagai mandat biblikal (biblical mandate). Ketiga mandat itu adalah 1) mandat budaya (cultural mandate) (Kejadian 1:28), mandat kemanusiaan (humanity mandate) (Jeremia 29:7 dan Jeremia 33:6), dan mandat misi (mission mandate) (Mateus 28:19-20).

Terkait dengan mandat budaya itu, pada Kejadian 1:28 tertulis: Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Bahasa Batak: Dung i dipasupasu Debata ma nasida, ninna Debata ma tu nasida: “Marpinompari ma hamu, asa sopar hamu, jala gohi hamu sandok tano on, jala patunduk hamu; jala raja i hamu dengke angka na di laut dohot pidong angka na martongatonga langit ro di sude binatang, angka na manjirir di atas tano on”).

Tampaknya, teks Bibel (Bahasa Batak) lebih pas menyatakan dan menggambarkan isi/pesan dari mandat budaya itu, khususnya pada ungkapan ‘taklukkanlah’ yang dalam bahasa Batak dinyatakan ‘rajai hamu‘.

Terma ‘rajai hamu‘ pada ayat 28 itu lebih dalam dan lebih pas maknanya daripada ‘taklukkanlah’, terkait dengan pemeliharaan ciptaan Tuhan (alam, flora, dan fauna). Mangarajai bermakna mengelola, mengurus, dan merawat dengan baik. Itu juga bermakna memerdulikan (manganturehon).

Oleh karena itu, makna manaklukkan/merajai ciptaan Tuhan, termasuk KDT, antara lain, adalah mengetahui rahasia di baliknya (mempelajarinya). Dengan mempelajarinya, termasuk faktor-faktor penyebab ketidaklestariannya, kita dapat merawat dan melestarikannya.

Untuk itu, gereja perlu menindaklanjuti ibadah bersama kepedulian itu dengan pesan-pesan atau khotbah tematik pelestarian alam.dan ciptaan Tuhan karena itu adalah (perintah Tuhan yang harus kita tunaikan (mandat budaya) dan gereja punya panggung dan mimbar untuk menyampaikannya. Tentu saja, gereja harus menjadi teladan bagi upaya pelestarian alam dan lingkungan.

Penulis: Albiner Siagian

BACA:  Yang Amat Terpelajar

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *