Hatobangon: Peradilan Adat di Tanah Batak

Foto: Ketua Umum DPP FBBI, Dr. Ronsen Pasaribu, SH., MM

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Hatobangon ada di Batak Angkola. Sesuai diksi hatobangon, dimaksudkan anggotanya namatobang. Bukan dalam arti usia matobang, akan tetapi karakter dan sifat “natobang”/dewasa.

Forum apa hatobangon ini? Bagi kita suku Batak Angkola seusia saya kelahiran 1955 pasti tahu setidaknya menyaksilannya. Mingkin usia milenial apalagi hidup di kota, hanya nama yang didengar, namun tidak bisa.menyaksikannya.

Hatobangon dipimpin oleh Raja Panusunan Bulung, yaitu Marga pembuka desa yang berkebumian. Seorang yang dituakan dari jajaran marga itu secara permanen menjadi Raja Panusunan Bulung.

Anggotanya adalah perwakilan setiap.marga yang ada di desa tersebut. Jika ada 10 marga, maka anggotanya 10 orang. Kriterianya sama, yaitu: orang mempunyai sifat dan karakter yang dituakan. Pengetahuan umum, adat dan kemasyarakatan lebih baik dari lainnya.

Fungsinya apa?

Fungsi.memelihata nilai.nilai hidup.dan.kehidupan bermasyarakat yang lahir, tumbuh dan diterima dimasyarakat itu. Termasuk.nilai.nilai.baru, masuk di desa itu. Nilai hukum adat, istiadat, pernikahan, dan.lainnya.

Bila terjadi dispute?

Hatobangon dapat menjadi peradilan desa. Sebuah pelanggaran pidana atau perdata, yang terjadi di wilayah desa itu pasti diselesaikan secara adat.

Pasal-pasal hukum adat, tanpa tertulis. Namun, denyut jantung kehidupan desa itu dengan.presisi persis bisa diterapkan oleh hatobangon ini.

Begitu juga, pasal menimbang, atas fakta dan.bukti dapat dipertimbangkan dengan “rasa keadilan” yang dimiliki masyarakat. Setiap keputusan, final and binding, incarct tanpa ada banding apalagi Kasasi atau PK (Peninjauan Kembali). Hukum Acara itu tidak dikenal.

Setiap putusan dilaksanakan dengan tulus demi untuk hidup dan kehidupan yang harmonis, apalagi berlakunya hukum adat Dalihan Natolu (DNT).

Tipiring, perdata, selesai di Peradilan adat ini. Banyak perkara diselesaikan kecuali dua hal. Pertama, KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) dan kedua Narkoba. Kedua peristiwa ini wajib diselesaikan pada aparat hukum,.polisi, dan peradilan umum.

Apakah cerita ini masih dilaksanakan di desa-desa sekarang? Sangat mungkin ada pergeseran karena faktor kaderisasi SDM pada tingkat Raja Panusunan Bulung atau pada anggota Hatobangon.

Sementara jaman semaju apapun, berharap nilai harmoni di Desa yang diwarnai keramahtamahan, kekeluargaan, kesatuan, persatuan, teposeliro, kerjasama, gotong-royong, adat-istiadat, hormat-menghormati, dan.nilai baik bagi desa itu.

Rendahnya laporan polisi, sebagai indikator kinerja baik bagi Hatobangon sebuah desa.

Jika hal di atas sudah tak terdengar di sebuah Desa Tapanuli Selatan saat ini, sudah waktunya kita para perantau menggali.lagi dan menghidupkannya.

Karena.Hatobangon dengan segala geliatnya akan selalu up to date, takkan ketinggalan jaman.

Percayalah.

Jakarta, 23 Oktober 2020. Pkl. 23 WIB.
Ditulis.oleh Ronsen Pasaribu. Putra Sigolang, Aek.Bila, Tapsel.

BACA:  Ketua Umum DPP FBBI Lantik Marudut Siringoringo Sebagai Ketua DPD FBBI Sumut 2020-2023

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *