In memorial Alm St. Ramlan Hutasoit

In memorial Alm St. Ramlan Hutasoit

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Saya di Surabaya sejak 1983, memulai PNS di Direktorat Agraria Provinsi Jawa Timur. Ketika itu saya masih ikut Naposobulung HKBP Surabaya, Jalan Kedondong. Gereja ini masih satu-satunya HKBP di Surabaya. Belum manjae HKBP Manyar, Kupang, Tandes. Hanya karena pernah muhibah dari Naposo HKBP Salatiga tahun 1982, saya menjadi mudah bersosialisasi dengan Naposo HKBP Surabaya.

Sebagai dirigen Koor NHKBP Salatiga, saya ternyata mudah mencari kenalan apalagi yang satu marga selalu dicari lebih dekat. Sorta br Pasaribu, ia sangat memantik hatiku lebih merasakan persahabatan, lebih dari yang lain. Peran Sorta, sebagai pemandu semua acara, menjadi jembatan bagiku terus berkomunikasi lebih dalam dan lebih berkelanjutan.

Saya menikah tahun 1985 dan masuk punguan Pasaribu Surabaya dan boru dohot berenya. Mula-mula saya disuruh mengantar undangan acara adat, lalu ditunjuk sekretaris bahkan kemudian menjadi ketua.

Keluarga Ito Sorta menjadi lebih kenal. Tentu Sorta, Anggi Hotma Pasaribu, yang kita kenal Pendeta HKBP sekarang ini dan St. Ramlan Hutasoit br Pasaribu. Dia adalah kakak kandung Ito Sorta, yang kukenal beberapa tahun lalu di Surabaya.

Otomatis, Inang Alm orangtua Sorta, selama hidup kuanggap jadi keluargaku, Inang di Surabaya. Orangnya sangat baik, tinggal di Jalan Kaliwungu, Surabaya, berjarak 1,5 Km dari HKBP Kedonsong.

Almarhum R. Hutasoit lama menjadi bendahara Punguan, yang sehari-hari istrinya yang memegang uangnya. Namun, fungsi bendahara, penting dan dibutuhkan di setiap kegiatan Punguan.

Ia bertanggung jawab dalam tugas kebendaharawan. Tak pernah alpa setiap arisan, karena melekat tugasnya di setiap pengeluaran, baik suka dan duka. Biasalah di tengah arisan ada diakusi atas sesuatu masalah punguan.

Jika satu marga, dinamika diskusi yang kerja satu, jamak terjadi. Diam-diam, saya sebagai sekretaris dan ketua punguan, belajar banyak dalam.menata kata dan hati.

Salah satu penyangga dari boru yang selalu membantu saya adalah lae Alm St. R. Hutasoit. Jika Ito, istrinya membantu saya sudah pasti.

Bahkan tak segan saya katakan, Suami-istri ini adalah boru “hasian”. Walau boru lainnya, alm Ny. Simanjuntak br Pasaribu, St. Hutagalung/br Pasaribu, suka protes. Tak apalah protes boru ke hula-hulanya, sebab alm ini selalu atensi disertai argumen yang kuat, baik secara adat maupun agama sebab beliau juga Sintua.

Pasti saya sedih mendengar berita Laeku Boru Hasianku, meninggal. Dalam.keyakinanku, St. Ramlan Hutasoit telah dimuliakan Bapa di Surga.

Adekku St. Saut Pasaribu menyampaikan berita. Proses meninggalnya teramat mengagetkan kita semua. Ia meninggal pada saat menyelesaikan doa syafaat di tengah kebaktian Natal.

Luar biasa, saat saat kebaktian berlangsung, berdoa lagi, “engkau dimuliakan”. Sebuah peristiwa yang hanya iman Kristen kita yang mampu memahaminya.

Selamat jalan laeku. Kami menghantarkanmu yang kebetulan Tuhan memberi nafas kehidupan lebih lama.

Itoku, lepaskan, doakan dia, walau dia tetap menjadi kekasih setia selama umurmu. Ayah yang baik bagi anak dan.boru. Amang boru yang baik bagi parumaen. Ompung yang baik bagi cucu-cucu.

Catatan ini mohon diteruskan ya ito Sorta, kepada Kakanda, Anggi Pdt Hotma Pasaribu dan keluarga besar.

Doaku dari Jakarta, semoga semua acara adat utamanya Geraja berjalan dengan baik.

Salam duka yang sangat dalam dari kami di Jakarta.

Ronsen Pasaribu
Naida Erra Ritonga

Sando/Dian Gultom, yg lagi menunggu detik-detik kelahiran anak pertamanya.
Cindy di Ciputat
Fritska di Manchaster England
Christy di Sorong.

Jakarta, 28 Desember 2019
Pkl 21.44 WIB. RP

BACA:  Ulos Fest 2019 Selesai, BATAK CENTER Kawal Terus Ulos Menjadi Warisan Dunia

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *