Kemanusiaan (Humanity)

Kemanusiaan (Humanity)

BatakIndonesia.com — Saripati pengertian kemanusiaan (humanity) adalah penghargaan (penghormatan) kepada manusia (human), lebih tepatnya penghormatan terhadap hak, harkat, dan martabatnya. Dengan demikian, setiap orang yang mengabaikan kemanusiaan, dia juga telah mengabaikan (baca: tidak menghormati) hak, harkat, dan martabatnya. Oleh karena itu, pembatasan atas haknya, misalnya, adalah konsekuensi logis dan patut dari pengabaiannya itu.

Katakanlah akibat ulah seorang pembunuh, sebagai contoh. Pengabaiannya terhadap hak hidup korbannya akan mengakibatkan dia mengalami keterbatasan dalam memperoleh hak kebebasannya. Aturan hukumlah yang membatasinya. Rentang waktu yang padanya dia mengalami keterbatasan itu sebanding dengan tingkat pengabaiannya terhadap kemanusiaan korbannya. Dalam bahasa hukum itu adalah keadilan dalam kemanusiaan. Tentu saja, itu adalah keadilan berdasarkan ukuran dan takaran manusia.

Dalam banyak hal, aturan hukum itu ‘membolehkan’ seseorang melakukan pelanggaran hukum. Pasal 551 KUHP, misalnya, bisa juga kita artikan: “Silakan Anda memasuki pekarangan orang lain tanpa seijin pemiliknya! Akan tetapi, Anda harus siap-siap menerima hukumannya!” Di pihak lain, etika dan norma menuntun kita untuk, antara lain, menaati hukum, mengharmoniskan relasi sosial, dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Anda tidak melanggar hukum kalau Anda mendahului seseseorang yang lebih tua daripada Anda ketika sedang berjalan di gang sempit rumah Anda. Anda tidak akan dipenjara karenanya. Akan tetapi, dengan cara seperti itu Anda disebut tak beretiket.

Polisi berhak menggrebek seorang wanita sundal yang tengah berindehoi dengan pasangan pria babi-jalangnya di semak-semak. Haknya itu dilidungi aturan hukum. Akan tetapi, mereka berhak untuk tidak mengambil seluruh haknya, misalnya dengan terlebih dahulu mempersilakan pasangan itu mengenakan pakaiannya, dengan alasan etika dan norma kemanusiaan. Itulah yang menghormati kemanusiaan.

Anda tidak akan diajukan jaksa ke persidangan dengan tuduhan membiarkan orang kelaparan ketika Anda makan dengan lahap sekenyang-kenyangnya tetapi tak membagikan makananmu sedikit pun kepada gelandangan yang berharap welas kasihmu di balik kaca jendela warung yang di dalamnya Anda makan. Akan tetapi, Anda adalah pengabai etika dan norma kemanusiaan.

Acapkali, manusia menempatkan etika, etiket, norma, dan rupa-rupa kepatutan itu di bawah aturan formal. Bahkan, ada banyak pihak yang mengabaikannya untuk menegakkan aturan itu. Aturan hukum, tidak menghalangi koruptor jadi pejabat, menjadi bupati atau gubernur, misalnya. Itu sudah jamak terjadi. Bahkan, ada yang memenangkannya. Bahkan lagi, ada yang dilantik di penjara.

Ada orang yang dituduh melanggar aturan kedisplinan bermaksud menegakkannya dengan cara berupaya menjadi penguasa. Kalau maksud hatinya terwujud kelak, dialah yang akan menjadi pioneer bagi penegakan displin. Sekali lagi, itu tidak melanggar aturan formal. Akan tetapi, itu tak etis dan tak patut. Etika dan kepatutan akan mengingatkan kita untuk tidak mengambil hak kita itu. Aturan formal, tidak! Etika dan norma kepatutan menuntunmu untuk menghargai kemanusiaanmu!

Begitu!

Oleh: Albiner Siagian (Penulis Buku Humanisme Seorang Guru: Menabur Kebaikan untuk Menuai Kemanusiaan)

BACA:  Humas

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *