Kepala vs Pemimpin

Kepala vs Pemimpin

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Organisasi pemerintahan atau organisasi masyarakat, selalu ditunjuk seorang yang menjadi kepala yang melaksanakan tugas dan fungsi eksekutif memimpin staf atau karyawannya. Bentuk piramida sebuah titik tertinggi, lalu melebar ke bawah sampai garis terendah, menandakan adanya perbedaan tugas dan tanggung jawab tiap bidangnya. Semakin ke bawah, semakin spesialis pekerjaannya, yang memerlukan keahlian khusus. Ambil contoh di kantor Pertanahan, dipecah dengan Tatausaha kegiatan administrasi kepegawaian, keuangan dan persuratan. Pengukuran, Penataan Pertanahan, Tataguna Tanah, Pengadaan Tanah, Pengendalian dan Pengawasan.

Kepala juga diidentikkan sebagai Kepala Keluarga, apakah laki-laki atau perempuan yang sudah single parent (orangtua tunggal). Fungsi kepala melekat pada dirinya untuk melakukan tugas mengorganisir segala kegiatan rumah tangga atau usaha bisnisnya manakala ada beberapa karyawannya. Semua memiliki fungsi kepala dan pemimpin.

Menjalankan Kantor tentu bersentuhan dengan manusia, sebagai rekan kerja guna melaksanakan segala pelayanan di suatu kantor itu. Suatu hal yang paling sulit, dikerjakan bukanlah pekerjaan teknis yang berkaitan dengan aturan dan peraturan karena sudah ada ketentuan perundangannya, tetapi berkaitan dengan manusia. Manusia sebagai makhluk Tuhan, memiliki sifat tabiat dan karakter yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Berbeda di segala hal, karena tak seorang pun manusia itu yang bisa disamakan, sekalipun orangnya kembar selalu ada pembeda, yang satu saat bisa saling berselisih satu dengan lainnya.

Sementara, tugas kepala atau pemimpin ibarat conductor sebuah paduan suara yang harus mengaktifkan semua lini bergerak bersama-sama sesuai fungsinya, baik fungsi linier, fungsi koordinasi, atau fungsi yang terkait. Semua bergerak, semua berdetak ibarat jam dinding yang memiliki banyak sekali lingkar yang saling bertautan: ada pemutar detik, ada pemutar menit, ada pemutar jam. Jika kita lihat dari luar ada yang bergerak cepat, sedang, dan lambat, namun mengatur satu tujuan yang sama, yaitu: mengatur waktu secara tepat dan seakurat mungkin.

Kembali ke manusia sebagai sumber daya manusia (SDM) yang punya sifat, karakter, dan kemauan kerjanya yang berbeda. Adanya SOP sudah jaminan mereka bekerja on the track (pada jalurnya)? Jawabannya tidak selalu. Displin? Juga tidak selalu. Tulus? Juga tidak selalu. Pendendam? Ada juga yang pendendam. Jika dibuat grafik normal, maka tiap SDM akan didistribusikan pada 5% grafik awal yang sangat positif, selanjutnya normal, sangat baik, baik, bahkan 5% di ujung grafik sangat tidak baik.

Mungkin gejala inilah maka dibentuk sebuah seksi sendiri yaitu inspektorat meneropong SDM yang suka melanggar aturan tersebut. Jika 5% dan seterusnya yang positif, mendapatkan prioritas jabatan yang meningkat, sedangkan sisanya 5% yang sangat nakal akan mendapatkan sanksi dari peringataan, sampai pada pemecatan. Sering terjadi antara staf dan kepala atau pimpinan terjadi konflik tidak disadari terkait dengan hubungan secara pribadi yang ada di organisasi itu. Hubungan itu dapat saja berakhir dengan retak atau terputusnya hubungan antarpribadi itu, padahal mestinya tidak harus demikian.

Ikatan persaudaraan harus dijaga, boleh beda pendapat atau diskusi sekeras apapun sepanjang hal itu terkait organisasi tidaklah baik antaranak buah dan pimpinan menjadi renggang secara pribadi. Pengendalian diri itu penting. Jangan ada yang lepas kontrol, apalagi dendam terwujud dalam kehidupan nyata.

Dalam menjalankan fungsi kepala, suatu kewajiban berbasis aturan dan peraturan yang ada, di mana setiap organisasi memiliki mekanisme aturan dan peraturan internalnya yang dibangun, dan berlaku sebagai mekanisme tertinggi baginya. Sedangkan pemimpin dalam melaksanakan kewajiiban tadi sebagai kepala harus mengakomodasikan segala aspek Sumber Daya Manusia, yang dililiti budaya, agama, kebiasaan lokal, dan lainnya. Namun, tak boleh dikorbankan tujuan organisasi sebagai target, orientasi tujuan yang ditetapkan, sedangkan aspek kemanusiaan perlu ditempatkan secara mulia karena hak asasi sepanjang ada hubungannya dengan urusan kedinasan. Jika tidak ada kedinasan, hendaknya diambil garis embargasi yang tegas, mana urusan kantor dan mana urusan individual.

Hanya dengan cara itu, maka mekanisme berjalan harmoni, tanpa campur baur, sehingga semua wajib memahami mana urusan kantor dan mana urusan pribadi. Tak mungkin dicampur baurkan keduanya, sehingga semua anggota dan pengusnya akan bingung sendiri dan muncul masalah baru yang tidak seharusnya ada.

Relevanlah apa yang menjadi judul tulisan ini. Sebagai Kepala, maka kepemimpinan itu harus dijalankan mengikuti aturan yang kaku, terbatas (limited), dan terukur. Namun dalam kenyataannya, sebagai manusia, di sinilah seorang kepala menyandang fungsi sebagai pemimpin. Pemimpin mahluk hidup yang berbeda citra rasa dan cita-citanya.

Ada kala pemimpin itu, mengambil resiko pembelaan kepada anak buahnya agar tidak terjerumus ke lobang yang lebih dalam. Ada kalanya berbohong demi menghindari jeratan hukum kepada anak buah. Ada kalanya merugi materil untuk mengatasi kesulitan ekonomi anak buah. Ada kalanya pemimpin itu berlelah-lelah menghadiri hajatan stafnya di mana pun berada. Masih banyak lagi sisi kemanusiaan mencuat di sana, yang orang lain tidak memahaminya karena orang lain hanya melihat betapa enaknya jadi nomor satu di suatu organisasi.

Suatu umpan balik yang hampir tak dipercaya jika anak buah ternyata berkhianat kepada bapaknya manakala di kemudian hari dia memusuhi dengan berbagai cara. Budaya Jawa yang pas untuk itu sebenarnya ada, yaitu: “mikul duwur mendem jero”, artinya kira kira “pemimpin tidak pernah salah, kalaupun salah yang dibela oleh pemimpin yang berikutnya termasuk jajarannya.”

Selamat Natal buat kita semua. Natal membawa kedamaian bagi umat-Nya.

Jakarta, 20 Desember 2018.

Penulis: Dr Ronsen L. M. Pasaribu, SH, MM (Ketua Umum FBBI)

BACA:  Keterikatan vs Kebebasan pada Anak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *