Keterikatan vs Kebebasan pada Anak

Keterikatan vs Kebebasan pada Anak

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Kebahagiaan merupakan dambaan setiap manusia. Kebahagiaan datang dari dalam diri manusia itu sendiri. Berbeda dengan kesenangan, dipengaruhi oleh keadaan di luar diri seseorang (atau dipengaruhi lingkungan sekitar).

Kadangkala, kebahagiaan anak dirampas oleh orangtuanya sendiri. Anak kehilangan waktu untuk bermain dan berteman dengan anak-anak seumurnya, karena orangtua memaksakan kehendaknya kepada si anak.

Ada orangtua yang memaksakan anaknya les (kursus) atau bimbel (bimbingan belajar) setelah pulang sekolah setiap harinya. Dari sekolah banyak PR. Dari les atau bimbingan belajar banyak PR. Dari pagi sampai malam belajar dan mengerjakan PR. Tiap hari si anak belajar menghapal. Tidur siang pun tidak sempat.

BACA:  Mensinergikan Kemauan Orangtua dengan Anak di Era Milenial

Akhirnya si anak hidup tanpa rasa bahagia. Tidak pernah bermain dengan tetangga atau anak seumurnya. Jadilah seperti robot yang membawa buku sebanyak-banyaknya tiap hari.

Ada lagi orangtua yang memberikan kebebasan yang tidak terbatas. Apa-apa yang diminta, langsung dikasih. Uang jajan berlebihan. Bebas pakai HP, bebas tanpa perhatian orangtua. Orangtua larut dengan kesibukannya untuk berbisnis atau mencari uang sebanyak-banyaknya, dengan maksud untuk biaya hidup masa depan anaknya.

BACA:  Makna Pernikahan Anak Bagi Orang Batak, Gereja dan Negara

Akhirnya, kehidupan si anak tidak terkendali, bahkan bisa kena penyalahgunaan narkoba. Buat apa uang yang banyak, bila hidup si anak bebas sebebas-bebasnya tanpa terkendali?

Hidup bahagia bila ada keseimbangan. Bebas tetapi terikat dengan aturan atau norma/etika. Anak yang takut akan Tuhan menjadi harapan orangtua. Orangtua harus bijaksana mengarahkan dan mendidik anak. Berikan apa yang diperlukan, bukan memberi apa yang diinginkan si anak.

Penulis: DJS’Bing
07-02-2020

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *