Ketulusan Hati

Ketulusan Hati

Oleh: Drs. Tumpal Siagian (*)

OPINI

Manusia adalah makhluk yang egois dan agresif, tetapi juga merupakan spesies yang murah hati,suka memberi dan berbagi laiknya seperti dua sisi mata uang yang sama. Gairah memberi atau berbagi itu mempunyai titik lemah pada hal-hal yang berdimensi mental spiritual,maka penguatan dimensi spiritual dalam hal ini memberi dengan    ketulusan hati menjadi sesuatu yang penting/urgen untuk dikedepankan. Suka memberi atau berbagi tidak melulu soal materi tetapi jiwa yang hangat bisa dibagikan kepada siapa saja dan kapan saja sehingga terbangun masyarakat yang bahagia bersama.

Di tengah meluasnya kesusahan akibat pandemi covid-19,beragam aksi masyarakat dan pemerintah bangkitkan optimisme. Segala daya upaya,baik melalui pendekatan medis, klinis, maupun non- medis (spiritual dan psikologis); material dan non-material menjadi sarat arti mewarnai aksi antara rebutan dan keributan.

Seharusnya pemerintah dan rakyat dapat lebih bersatu padu melangkah bersama melawan Covid-19 ini. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang ini adalah pemerintahan yang kompak,padu dan sigap diantara level pemerintah pusat dan daerah.Mestinya masyarakat dibawah akan mendapatkan contoh bagaimana mereka( pusat dan daerah) menggugah rakyatnya untuk hidup dalam semangat kerjasama dan solidaritas bahu membahu mengatasi keadaan ini.

Namun,apa yang terjadi? Masyarakat dipertontonkan politik yang dimaknai kontestasi,persaingan dan upaya saling mangalahkan dan menyalahkan. Padahal didalam politik juga ada solidaritas,keutamaan sikap dan bentuk-bentuk kebijakan lainnya. Masyarakat menjadi bingung  karena komunikasi pemerintah sering saling tabrakan antara pusat dan daerah,kementerian,gugus tugas,gubernur, bupati atau walikota. Sebagai contoh,publik dipusingkan dengan frasa yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan,antara “perang” melawan covid-19 dengan ” berdamai” atau” berdampingan” dengan covid-19. Padahal bagi akar rumput frasa yang manapun dipake, semua itu sama bagi mereka. Ada muncul isue pelonggaran PSBB sekaligus pengetatannya, akibatnya rakyat bingung dan menafsirkan PSBB dengan cara tersendiri.

BACA:  ETOS HAPARTOGION: Pamuro so Marumbalang

Berbagai  peraturan, surat edaran yang simpang siur  dan dokumen kerja yang beredar di masyarakat jika tidak dikelola dengan baik,hanya akan menunjukkan pemerintah gagal berkordinasi.Komunikasi yang saling tabrakan sebelum menjadi bola liar yang sulit dikendalikan, Presiden Jokowi semakin mendesak memimpin orkestrasi Pemerintah pusat maupun daerah dalam ketulusan hati mengugah rakyatnya mengambil langkah bersama  membangun semangat kerjasama dan solidaritas mengatasi pandemi covid-19 ini.

Harus diakui, gerakan berbagi dan filantropi atau kedermawanan lebih terwujud di masyarakat daripada di lingkungan politik. Bangsa ini beruntung, jiwa kegotongroyongan ada dan hidup di masyarakat. Punya semangat berbagi, semangat menolong yang tinggi, solidaritas yang merupakan energi positif  sudah tumbuh sejak dulu kala kembali menemukan konteksnya. Seharusnya pemerintah dan rakyat ,bersatu padu,bahu- membahu untuk memutus mata rantai penularan covid-19, sekaligus memulihkan kondisi sosial ekonomi, memutar roda ekonomi dan menyelamatkan ekonomi yang tidak mudah ini. Alhasil, dengan didasari ketulusan hati para pihak,sekat-sekat sosial luruh oleh kesadaran untuk saling menguatkan.Rasa kemanusiaan menyatukan perbedaan untuk meringankan beban kelompok yang kesusahan karena covid-19.

Komunikasi yang  jauh dari ketulusan hati,dikritik banyak pihak. Mereka mengimbau agar birokrasi pusat maupun daerah agar mengakhiri perdebatan dan menghentikannya. Buang jauh-jauh kontestasi politik yang berlebihan dengan segala dampak sosial-ekonomi yang mengikutinya.

 Simaklah ketulusan hati rakyat untuk berbagi atas apa yang mereka miliki kepada orang lain. Banyak individu, kelompok warga, grup media sosial,komunitas keagamaan dan ormas, serta perusahaan menggalang dana  dan menyalurkannya kepada berbagai pihak yang terdampak. Kita perlu berpikir jauh kedepan,visioner dan bersiap bangkit dari deru hantaman covid-19. Dengan ketulusan hati yang ditopang keimanan,keihklasan,kesabaran berbasis iman & ilmu, megantarkan kita kepada kedekatan spiritual kepada Tuhan, tetap memijar, bukan memudar sehingga doa yang dilantunkan diyakini akan dikabulkan olehNya. Mari kita lakukan semua itu dengan sepenuh hati dan jangan bersungut-sungut agar jamahan Tuhan atas kita semakin kita rasakan.

BACA:  Darwin Siagian-Hulman Sitorus Maju Kembali di Pilkada Toba 2020, Keluarga Besar Siagian Jakarta-Bandung Siap Dukung

Menabur Kasih

Hari raya keagamaan selalu memberi ruang bagi kita untuk mengevaluasi diri: Niatkan diri untuk sucikan hati, apakah kita benar makhluk mulia ciptaan Allah yang memberi dan berbagi dengan ketulusan hati?

Kita tidak boleh terpenjara pada ketakutan,kepanikan pada realitas kekinian pandemi covid-19, tetapi gairah berbagi dan kedermawanan makin meningkat seiring dengan perayaan ini. Ketulusan hati saat memberi dengan jiwa yang hangat akan mengurangi peluang seseorang mengalami depresi dan kesedihan. Agar apa yang dibagikan memberikan manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga dibutuhkan- setidaknya- dua syarat,yaitu memiliki ssesuatu untuk dibagikan,yang bersifat material ataupun non-material,serta menabur kasih memberikannya dengan ketulusan hati.

Mengapa ketulusan hati itu penting? Karena ketika kita melepas sesuatu dari diri akan menimbulkan rasa senang. Sebaliknya jika pemberian dilakukan dengan keterpaksaan apalagi sekadar pencitraan,manfaat kesehatan jiwa dalam berbagi ini tidak akan didapat. Dengan kesadaran itu pula,berbagai kepeloporan masyarakat yang telah ada,membantu sesama tanpa sekat,perlu kita gulirkan dan dorong agar kian membesar.

Begitu juga kepada saudara-saudara kita yang merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah yang jatuh pada hari Minggu,24 Mei 2020 ini. Agama mengajarkan umatnya untuk berbagi atas apa yang mereka miliki kepada orang lain demi kehidupan spiritual yang lebih baik. Sejalan dengan itu, gerakan berbagi dan kedermawanan atas ketulusan hati berdampak baik bagi kesejahteraan jiwa dan raga.Setelah sebulan penuh berpuasa,sanggup melawan musuh dalam diri sendiri, dan dimampukan menghadapi aneka ujian kehidupan,termasuk pandemi Covid-19; saya pun menyampaikan ucapan tulus: Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah. Minal aidin walfaizin. Mohon maaf Lahir & Batin. (Jakarta, 23 Mei 2020)

(*)  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

BACA:  Serial Kearifan Batak (8): Gadombus

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *