Kuatnya Imunitas Toleransi Warga Kampung Sawah

Kuatnya Imunitas Toleransi Warga Kampung Sawah

Oleh: Hojot Marluga *)

OPINI

Sejak dulu Kampung Sawah di kota Bekasi dikenal kawasan durabilitas, wilayah toleransi beragama. Dua abad lamanya; umat Islam, Kristen bisa hidup berdampingan tanpa ada sekat-sekat pemisah. Di sana ada sambutan keramahtamahan, bentuk penyambutan misalnya, gereja dan masjid saling menyediakan lahan parkir ketika ada hari raya keagamaan dari masing-masing umat, dan rumah-rumah ibadah ini juga saling mengatur volume pengeras suara ketika ada adzan di hari raya Kristen.

Unik memang. Silaturahmi warganya dibalut corak budaya Betawi yang kental. Yang pasti pada setiap hajatan warga, ciri khas budaya Betawi terasa di sana. Berbalas pantun terus dilestarikan dalam hari-hari besar. Baju koko dan kopiah khas Betawi, menjadi pakaian umum bagi warga dari agama apapun. Ciri khas dari Kampung Sawah adalah sikap solidaritas beda agama di Indonesia, yang spiritnya perlu terus digelorakan dengan keluasan pikiran.

Sejak abad delapan belas sudah tertata kehidupan toleransi di wilayah ini, bahkan komunitas umat Kristen telah terbentuk di Kampung Sawah sejak tahun 1816. Bisa disebut orang Kristen Betawi sudah lima generasi hidup di sana. Ada puluhan masjid dan gereja, iconnya di tiga rumah ibadah disebut segitiga emas. Ada Islam, Kristen Protestan dan Katolik dalam satu deret di Jalan Raya Kampung Sawah. Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Kampung Sawah dan Masjid Agung Al Jauhar Yasfi.

Kuatnya Imunitas Toleransi Warga Kampung Sawah
Foto (ist): Masjid, Gereja Pasundan dan Gereja Katolik yang bangunannya berdampingan di Kampung Sawah, kota Bekasi, Jawa Barat

Betawi Kristen. Sunda yang Kristen terlihat dari komunitas jemaat gereja di dekat Masjid Agung Al Jauhar Yasfi itu. Masjid Agung Al Jauhar Yasfi dan GKP satu tembok, sedangkan Gereja Katolik Santo Servatius hanya sepelemparan batu, ratusan meter. Dua gereja di itu punya sejarah panjang. Telah ada sejak abad-18.

BACA:  FKAG Selenggarakan Natal Oikoumene yang Dihadiri Bupati Muba

Lagi, di Kampung Sawah terbiasa terdengar suara lonceng gereja. Dentangan lonceng gereja berbarengan dengan seruan sholat yang digemakan dari Masjid jelang magrib. Ada rekognisi, terasa pembaurannya dan terasa imunitas warganya sebagai negara yang berbhinneka tunggal ika.

Disebutkan, orang Betawi Kristen yang pertama ada di wilayah ini sejak tahun 1896. Paling tidak GKP Kampung Sawah tercatat telah didirikan, 16 Juni 1874 jauh sebelum Negara ini diproklamirkan. Yang ada disini ketenangan hidup berdampingan, bukan ketengangan. Tak heran setiap tahunnya di mintakat ini menggelar Natal bersama untuk orang Kristiani, baik Protestan dan Katolik, yang tentu juga dihadiri saudara-saudaranya umat Islam.

Masyarakat di Kampung Sawah menyebut diri “sesame saudare.” Perbedaan agama tak ada masalah, terbukti memang sampai sekarang tak ada gesekan soal agama di pemukiman ini. Tentu, cara hidup bersama seperti ini tak bisa dihasilkan dalam waktu singkat, ini sudah tertata sejak lama, dinasihatkan para tetua.

Kawasan yang terbagi jadi beberapa kelurahan, secara administratif Kampung Sawah terletak di Jatiwarna, Jatimelati, Jatimurni di Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi dan Jatiranggon di Kecamatan Jatisampurna semuanya masuk dalam Kota Bekasi. Alih-alih masyarakatnya terimunitas atas perbedaan, hidup berdampingan.

Tak heran Kampung Sawah layak jadi icon toleransi, bukan saja di Jawa Barat tetapi juga di Indonesia. Disini dibuktikan budaya tenggang rasa jadi pintu kita menghargai orang lain. Selama berabad-abad budaya kita memang mengajarkan sopan santun, keterus-terangan dalam hidup bersama.

Nilai sopan santun boleh jadi berbeda antar daerah, namun hidup menjadi lebih damai dan jauh dari pertengkaran oleh karena ada saling empati dan simpati. Saling menghargai, berarti mau menerima perbedaan terhadap keyakinan orang lain.

BACA:  DPD FBBI Provinsi Sumut, Peduli Atasi Efek Corona

Tak ada tenggang rasa oleh karena tak adanya keluwesan pikiran. Jika saling menghargai niscaya ada pergunjingan diantara sesama. Rahasianya? Terkadang hal yang benar menurut kita adalah hal yang salah menurut orang lain. Jadi hargai perbedaan. Tentu jika kita saling menghargai perbedaan, niscaya terjadi damai sejahtera.

Nilai pemaafan, penerimaan, pengertian itu tentu mencerminkan tindakan menghargai perbedaan. Berbeda agama adalah hal yang wajar. Jadi rahasia umum, di Kampung Sawah tidak pernah ada gesekan antar agama dan suku.

Tentu, salah satu rahasianya mereka terbiasa dengan nasihat orangtua jaman dulu, saling menghargai dan menganggap orang lain adalah saudara. Sikap solidaritas, adanya ruang tenggang hati seperti itu jadi imunitas warga Kampung Sawah melawan sikap intoleran segelintir kelompok yang kerap menindas.

Bahkan dari seorang tokoh masyarakat di Kampung Sawah, ‎KH Rahmaddin Afif (73) dalam sebuah dialog sangat berharap, agar warga masyarakat kampung kelahirannya, mampu terus menjaga kerukunan. Dia menekankan, agar tetap mempertahankan yang baik sebagai kampung toleransi dan Kebhinekaan. Menurutnya, masyarakat harus maju, namun jangan pernah ada celah untuk kenakalan remaja, radikalisme dan pengaruh lainnya.

Di tengah keberagamannya, lantas apa yang menjadi kunci kerukunan di Kampung Sawah? Menurut Rahmaddin, kuncinya sangatlah sederhana. Yakni kekerabatan dan hidup rukun yang terus terjaga satu sama lain. Dikatakan, di Kampung Sawah, meski beda agama, mereka tetap satu keluarga. Sehingga selalu akrab.

Itu semua karena tali persaudaraan yang terus dijaga. Keponakan Rahmaddin misalnya, ada yang jadi tokoh Kristen. Adik ibunya, sekarang jadi tokoh tertua Katolik di Kampung Sawah, yang usianya sudah 90 tahun lebih.

Hal lain yang juga membuat warga Kampung Sawah guyup meski dalam satu keluarga ada beberapa agama ialah letak desa mereka yang dahulu kala sangat terpencil. Alhasil satu sama lain harus saling membantu apabila ada saudara yang dirundung kesulitan.

BACA:  Jokowi yang Selalu Merakyat

Situasi inilah yang membuat kerukunan tercipta hingga mendarah daging sampai sekarang. Kendati diluar Kampung Sawah, ada pihak-pijak yang selalu ribut soal pertikaian pemeluk agama yang berbeda, yang kerap menimbulkan sikap-sikap intoleransi. Tentu, Kampung Sawah sangat patut jadi contoh!

* Hojot Marluga, lengkapnya Hotman Jonathan Marbun Lumban Gaol, STh adalah seorang Jurnalis dan Penulis Puluhan Buku/ Pengasuh Ensiklopedia Tokoh Batak

Editor: Danny PH Siagian

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *