Langkah Menguatkan Ekonomi Kuliner

Langkah Menguatkan Ekonomi Kuliner

Oleh: Drs Tumpal Siagian (*)

OPINI

Masih terpatri dalam ingatan  pada waktu penulis bertugas di Medan era tahun 90-an kalau menjamu tamu dari Kantor Pusat, selalu menawarkan, makan dimana: Padang-Melayu atau “Chinese Food”? Rupanya pesona kelezatan Chinese Food Medan sudah mengglobal, sehingga tidak sedikit tamu ingin mencicipinya. Haruslah diakui, tidak merasa sayang mengeluarkan uang atau dianggap  menjadi “bayaran” yang pantas dinikmati untuk makanan  yang lezat ini, sekalipun relatif mahal dibanding dengan aneka masakan Padang-Melayu yang bertebaran di kota ini.

Restoran Chinese Food banyak yang memakai meja bundar dengan lazy susan, istilah untuk baki bulat yang dapat diputar-putar diatasnya. Diatas susan si pemalas disinilah setiap hidangan diletakkan, dan setiap orang bisa makan sembari bercengkerama dan mengobrol.  Banyak kebaikan dan kebahagiaan datang dari aktivitas makan. Sebegitu pentingnya makan dari cara menikmati hidup  berfungsi sebagai “asupan” jiwa, berkomunikasi dengan teman dan keluarga.

Beberapa tahun yang lalu penulis berkunjung ke Bangkok, Thailand ke rumah puteri ketiga penulis yang mengikuti suaminya bertugas disana. Puteri dan menantu yang bertindak sebagai pemandu perjalanan berceloteh tentang Thailand, yang kini mendapat julukan “dapur dunia”.

Julukan positif ini ternyata bukan isapan jempol belaka. Gairah bisnis makanan Thailand seperti,  Tom Yam, Som Tum, Khao Thom, Guay Teow Rhua, dan Kaeng Phet sudah mendunia. Mudah ditemukan dari makanan pinggir jalan (kaki lima), food court di Mall, hingga tempat wisata seperti Pattaya; masyarakat getol memburu makanan ini hingga laman dalam jaringan ( on line). Para pelakunya adalah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Thailand yang melesat di bidang kuliner ini tidak terlepas dari pemerintahnya yang melakukan transformasi berbasis riset dan penguatan inovasi agar berdaya saing. Transformasi kuliner tradisional berkelindan dengan keadaban masyarakat modern, menjadi media menjalin komunikasi di meja makan, dengan teman, keluarga, rekan kerja sekaligus relaksasi setelah letih bekerja.

BACA:  Serial Kearifan Batak (12): Ugasan Torop

Pengeluaran Pemerintah

Dalam teori ekonomi Keynesian, konsumsi merupakan denyut nadi yang menentukan naik turunnya siklus perekonomian. Karena situasi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19, hal ini menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha kuliner, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bertahan dan berkembang.

Salah satu tantangan yang muncul selama pandemi adalah produksi dan pemasaran. Pasokan produksi kuliner menghadapi kendala akibat gangguan pemasaran. Padahal, sektor kuliner (makanan & minuman) ini berperan cukup besar untuk mendongkrak perekonomian Nasional dan daya beli masyarakat kecil yang tengah terkontraksi.

Penurunan daya beli masyarakat adalah lampu kuning kemiskinan. Pengukuran angka kemiskinan selama ini menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sangat bergantung kepada daya belinya dan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada besarnya pendapatan.

Maka, jalan untuk terus mengurangi kemiskinan adalah dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Karena itu, dibutuhkan regulasi yang jelas serta pembinaan dan bantuan terhadap UMKM. Pemerintah dapat menggelontorkan uang untuk membeli produk-produk UMKM untuk mendorong perekonomian bergerak lebih cepat sekaligus menekan angka kemiskinan tidak terlalu parah.  Daya ungkit pengeluaran Pemerintah akan membawa dampak cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dengan kebijakan ini ekonomi kuliner lebih adaptif untuk mendongkrak konsumsi, menginspirasi pelaku usaha berinovasi untuk menawarkan rasa Nusantara dengan meramu aneka rempah-rempah sebagai pembeda.

Seseorang yang mengunjungi pelosok dimana saja di Indonesia pasti menemukan kelezatan makanan dengan aneka ramuan rempah penduduk setempat. Mie Aceh rasa Kari (Aceh) Ikan Mas Arsik (Sumut), Rendang (Padang), Pempek (Palembang), Empal Gentong (Cirebon,  Jabar), Soto Kudus (Jateng), Rawon (Jatim), Kaldu Kokot (Madura), Konro (Sulsel), Ayam Woku (Manado), Gangan Humbut (Banjar, Kalsel), Ikan Kuah Kuning (Ambon), dan Papeda Kuah Kuning (Papua).

Inovasi dan kreativitas pelaku usaha yang mampu mengungkit kekayaan rempah-rempah kita seperti cengkeh, pala, kayu manis, bawang, lada, kunyit dan andaliman itu jadi tantangan sekaligus peluang. Tentu hal ini harus didukung Pemerintah Daerah setempat. Pemerintah Daerah diharapkan dapat menggeliatkan ekonomi lokal guna menopang pertumbuhan ekonomi Nasional.

BACA:  Ronsen: Pemberdayaan Masyarakat Kunci Sukses Pariwisata Danau Toba

Riset dan Inovasi

Langkah menguatkan ekonomi kuliner sesungguhnya sudah dicanangkan Presiden Jokowi pada periode pertama pemerintahannya. Salah satu cita dari Nawacitanya adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar International melalui peningkatan kapasitas inovasi dan teknologi.

Namun, apa mau dikata, dalam kaitan dengan daya saing mengutip Global Competitiveness Report 2020, Indonesia berada pada peringkat 50 dunia dibawah Singapura (1), Malaysia (27), Thailand (40), China (28), Jepang (8), Korea Selatan (26), dan Taiwan (14).  Dari indikator daya saing Indonesia hanya unggul pada komponen pasar (peringkat 10). Padahal, eksistensi sebuah negara-masyarakat-kelompok ditentukan oleh besar kecilnya penguasaan pasar global.

Fenomena buram daya saing menyiratkan hasil-hasil riset dari berbagai lembaga penelitian dan pengembangan ditengarai tidak menyambung dengan kebutuhan pengguna atau industri.  Idealnya, penelitian civitas akademika bisa menghasilkan produk yang berguna bagi industri atau pun pasar.  Kondisi ideal seperti itu menuntut peran Perguruan Tinggi yang sejak awal misinya adalah Riset, menantang kompetensi intelek Pemerintah mendistribusikan dana bantuan.

Riset di bidang kuliner memperluas pemahaman berbagai inovasi. Hasil riset yang berhenti di publikasi, paten, dan prototipe masih dalam tataran invensi. Tetapi ketika produk tersebut dihilirisasi dengan uji coba kemudian dikomersialkan, baru dikategorikan sebagai inovasi.

Inovasi merupalan invensi dikalikan dengan komersialisasi. Artinya, jika tidak ada komersialisasi dalam proses bisnis (pemanfaatan nilai tambah) belum bisa sebagai inovasi.

Kondisi ini menjadi tantangan untuk mengedukasi masyarakat untuk pemahaman riset sebagai sarana untuk membuat peta jalan menuju kuliner Indonesia yang mengglobal. Untuk membuat riset yang baik maka diperlukan data-data yang memadai.  Kita bisa merinci lebih detail soal rantai pasokan bahan baku dalam usaha ini. Informasi mengenai rantai pasokan akan memberi informasi mengenai jenis bahan baku yang digunakan serta jumlah yang dibutuhkan.

BACA:  Rumah Rakyat Dan Problematikanya

Langkah menguatkan ekonomi kuliner ini menjadi oase bagi masyarakat untuk membentuk wajah kuliner Indonesia mendunia. Memiliki peranan yang signikan dalam mendatangkan devisa, membuka peluang usaha, menggerakkan sektor pertanian karena sektor inilah yang memasok bahan baku.

Ekonomi kuliner mengedepankan kemitraan. Di hulu, petani memproduksi, di hilir pelaku usaha, hotel, resto, warung, dan UMKM akan menjadi penyerap hasil produksi.  Dengan demikian, ekonomi kuliner akan meningkatkan kesejahteraan petani, dan jika berdaya saing tinggi dapat dipasarkan meluas hingga ke mancanegara.

Tak kalah penting,  ekonomi kuliner jika diolah dengan tepat kolaborasi dengan para ahli dan berbagai Perguruan Tinggi serta peneliti terkemuka di negeri ini, diharapkan membawa perubahan besar dalam melahirkan wirausaha- wirausaha baru. Mengingat wirausaha di Indonesia saat ini baru berkisar 5 persen dari total penduduk, kita berharap persentase wirausaha dapat meningkat hingga 15 persen dari total penduduk menjelang Indonesia Emas Tahun 2045.  Semoga! (Jakarta, 26 Agustus 2020)

 

*  Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

Editor: Danny S

 

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *