Lingkaran Setan atau Sikap Permisif?

Lingkaran Setan atau Sikap Permisif?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Hal kebiasaan di kampung berbincang bincang di kala malam hari, terkadang sampai larut malam. Biasanya selepas kerja dari ladang, mereka berkumpul, bergabung orangtua yang masih produktif, orangtua yang benar-benar sudah tua sekali, para ibu, dan pemuda-pemudi.

Ketika saya di Soglang maupun di Sunepining, saya menyempatkan diri berkumpul dengan mereka, masyarkat kampung, yang masih mempertahankan tradisi lisan. Meskipun saya datang sebagai tamu, saya memanfaatkan secara optimal diskusi ala kampung ini.

Saya pancing pertanyaan ketika di hadapan saya lewat seorang membawa 4 sekaligus bambu panjang berisi nira. Saya memberanikan diri meminta satu gelas dan meminum nira tersebut. Nira tersebut memang sangat manis, ranum, dan ngangeni (bahasa Jawa, membuat kangen). Dengan murah hati dan rasa bangga, pembawa nira itu memberikannya karena sebentuk silaturahmi dengan tetamu seperti saya yang pasti ada tali-temali hubungan keluarga.

Pertanyaan menggelitik adalah berapa barang yang dikerjakan? Hanya 4 karena sudah tidak kuat lagi membawanya dengan jaraknya jauh. Mengapa hanya 4? Ya, kebetulan hanya itu yang ada peluangnya. Apakah 4 batang itu mencukupi kebutuhan sehari hari? Ternyata hanya tambahan pendapatan selain bersawah, namun bersifat pokok atau utama.

Mereka tampaknya tetap bertani dengan mengolah sawah/ladangnya dan menderes pohon enau adalah sampingan mereka untuk menambah pendapatan mereka bersawah.

Selanjutnya saya tanya, siapa yang menanam pohon enau tersebut? Pohon enau tersebut tumbuh sendiri. Tumbuh sendiri dengan subur karena kotoran babi yang menyebar ke mana-mana. Mereka sendiri tidak pernah terpikirkan untuk menanam pohon enau dan memeliharanya. Jika ada pohon enau tumbuh dan sudah besar, sehingga dapat digarap untuk diambil niranya, maka semua pohon enau di manapun itu akan digarap  dan kesempatan ini akan memunculkan penderes baru.

“Pernahkah terpikirkan untuk meningkatkan pendapatan dari enau ini?” tanya saya membuat mereka berpikir sejenak. Nira dari penderesan pohon enau tersebut terbukti selalu laku di pasar, selain juga dikonsumsi sendiri di lingkungan desa sebagai konsumen akhir. Pertanyaan saya memang menggugah mereka, tetapi mereka berterus terang mengatakan bahwa mereka tidak tahu caranya.

(Semua dialog tersebut dalam bahasa lokal, Sigolang dan Sungepining, yang setiap huruf R sulit mereka lafalkan. Mereka melafalkan huruf R di tenggorokan seperti lafal “ngr”. Dialog juga disampaikan dengan langgam kalimat yang khas.)

Gagasan saya paparkan dari perspektif Pembrdayaan Masyarakat. Prinsip bottom up (dari akar rumput) dan kebijakan lokal sebagai pemantik awal. Jika pohon aren atau enau tumbuh subur maka kita pelajari posisi tempat pohon itu tumbuh. Tentu tidak di setiap tempat.

Jika ada pohon aren/enau tumbuh di lokasi tanah mengandung cukup air dan hara (pupuk kompos), maka mari kita tanam dari 1 batang menjadi 10 batang. Buat melingkar, sehingga kelak bisa kita buat sebuah tangga dan jembatan melingkat ke 10 batang itu.

Bibit, pupuk, dan cara proses atau tahapan pemanenannya pun dilakukan sesuai kebijakan lokal. Ingat psikologi tanaman yang diperlukan enau. Tahapan melunakkan buahnya, rutin, diketok-ketok sambil bernyanyi dan janga lupa berdoa. Niscaya akan berhasil berlipat-lipat, dua, tiga, bahkan lima kali lipat karena pohonnya banyak.

Begitulah juga di tempat lain, jika ada 10 titik saja, sudah ada 100 batang. Niscaya juga menjadi sebuah industri gula dengan cetakan gula yang inovatif. Ada 1 kg, ada 0,5 kg, ada lebih kecil, sehingga laku di pasar-pasar tradisional dengan konsumen berdaya beli rendah.

Pemasarannya bisa juga diperluas ke pabrik industri makanan. Bahkan kita sudah waktunya bersama-sama memikirkan pasar baru dengan mengubah kebiasaan minum kopi atau teh dari gula pasir yang dibeli dari kota disubstitusi dengan gula aren. Sebab, waktu saya kecil, kopi dengan gula aren hal yang lazim, bahkan punya sensasi. Enak dan menyenangkan.

Jika mereka mau serius di bisnis ini, bentuk kelompok tani usaha aren ini. Hasil penjualan dibagi sebagian dan sisanya untuk modal kerja, keperluan dalam mendatangkan penyuluh ahli, mengatasi masalah dalam proses penanaman sampai panen bahkan menjamin pemasaran terjual dengan harga bersaing yang menguntungkan.

Jangan sampai di bawah Break Even Point (BEP), sebagai acuan dalam menjual oleh koperasi ini. Jika harga relatif turun, bisa ditahan dahulu, menunggu harga naik. Hal ini untuk memotong mata rantai yang panjang serta tidak terjebak pedagang berkarakter mafia.

Semua terdiam, tetapi mereka menyimak. Hanya maukah mereka move on (meminjam bahasa kaula muda)?

Tidak atau belum berani, karena ada sesuatu yang mereka pikirkan aneh. Belum terbiasa dengan usaha produktif berorientasi pasar. Masih terbelenggu sebuah kebiasaan yang permisif (nasomal somalima/yang biasa.biasa sajalah). Sepertinya pikiran mereka dibelenggu sebuah lingkaran “setan” yang meninabobokan petani kita.

Ada yang berani bilang, seperti ini saja toh bisa hidup. Tuhan Mahapemurah, hidup pas-pasan, anak-anak tidak sekolah, dan menjadi petani lagi seperti kami yang sudah turun-temurun ini.

Namun demikian diam diam, ada juga seorang mantan ASN, yang pulang kampung mengabdikan dirinya bertani. Tentu dengan.modal yang cukup, membuka lahan, membawa mobil, dan motornya. Wawasan ekonomi kreatif dan produktif yang saya sampaikan sepenuhnya diamini.

Semoga desa kita ini, kita ubah wajahnya ke arah menanam tanaman produktif dan hasilnya laku ke pasar. Saya sarankan sebagai penutup coba kita lihat sekitar desa kita, masih luas tanaman yang tidak produktif. Kita ganti dengan lingkaran pertama dengan manggis, lingkaran kedua, langsat, lingkaran ketiga durian, keempat petai, dan terakhir jengkol.

Yakinlah desa kita menjadi desa yang masyarakatnya makmur sentosa, sebab mobil pengusaha datang ke desa kita hanya membeli hasil pertanian kita, tiada hentinya. Jadi, hidup kita jadi makmur dan lingkaran setan bisa diputus menjadi garis lurus ke arah kehidupan yang tenang, optimis, dan sejahtera tentunya berbasis sumber daya agraria kemurahan Tuhan.

Jakarta, 13 Mei 2019.
Ronsen Pasaribu (Ketum FBBI)

Editor: Boy Tonggor SIahaan

BACA:  Obituari: Orang-orang Baik itu Pergi dalam Sunyi

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *