Mantan Dirjen Mandikdasmen Kupas Tuntas Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, pada Webinar Komunitas Tapanuli Utara Harus Hebat

Mantan Dirjen Mandikdasmen Kupas Tuntas Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, pada Webinar Komunitas Tapanuli Utara Harus Hebat

Foto: Nara sumber Prof. Suyanto, PhD dan peserta webinar Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, THH

JAKARTA, BatakIndonesia.com

Prof. Suyanto, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga Dirjen Mandikdasmen (Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah) Depdiknas dan Kemdikbud R.I (2005-2013), mengupas tuntas soal Pendidikan Karakter di Masa Pandemi, dalam Webinar yang digelar Komunitas Tapanuli Utara Harus Hebat (THH) bekerjasama dengan Yayasan Bisukma Bangun Bangsa (Tarutung).

Acara ini dilangsungkan hari Selasa (21/07/2020) pukul 10.00-12.00 WIB, melalui jaringan aplikasi zoom meeting. Webinar diikuti 73 peserta, dari 107 pendaftar sebelumnya, yang terdiri dari para Guru SMP/SMA, Dosen, Praktisi pendidikan, baik dari berbagai wilayah di Tarutung, Balige, Humbahas, Medan, Jakarta, Banjarmasin, bahkan ada peserta dari Matematika ITB Bandung, Prof. Dr. Wono Setiabudi.

Webinar dipandu host Ketua Komunitas THH, Dharma Hutauruk, dan Ketua Pelaksana Dr. Erikson Sianipar, MM (Sekjen THH). Sedangkan moderator adalah Dr. Ki Saur Pandjaitan XIII, MM, yang juga Sekjen Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa dan anggota BNSP.

Sebagai pembicara tunggal Prof. Suyanto, Ph.D, Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) periode 2019–2024 ini menyampaikan paparannya secara lugas dan penuh semangat. Tak luput, unsur humor sering dilontarkan, hingga tak terasa 40 menit waktu paparan.

Paparan Suyanto diawali dari penjelasan Tujuan Pendidikan Nasional yaitu: Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dikatakan mantan Plt. Dirjen Dikdas Kemendikbud R.I ini, pembentukan karakter itu tergantung dari proses internal dan lingkungannya.

“Pembentukan karakter itu tergantung dari proses internal dan lingkungannya. Jika dari internalnya sudah punya basic, maka lingkungan akan memproses untuk memperkuat pembentukannya,” ungkap Suyanto.

BACA:  Silangit, Pintu Gerbang Danau Toba

Namun dimasa pandemi, pendidikan karakter merupakan katalisator. Dibutuhkan kreatifitas, yang menciptakan inovasi atau hal-hal baru. Kemudian didukung oleh teknologi yang semakin pesat. Sehingga kemudian dapat melakukan hal-hal berbeda, dimana yang lama menjadi usang,” bebernya.

Menurut penulis yang terkenal dengan jargon Publish or Perish yang telah menghasilkan lebih dari seribu lima ratus tulisan  ini, orang yang tidak kreatif, tidak bisa menyesuaikan diri.

“Kreatifitas itu menjadi sangat penting, kendati menimbulkan disrupsi. Contoh: perusahaan taksi dulu, syaratnya harus punya armada taksi. Tapi sekarang, perusahaan taksi online, tapi nggak punya taksi. Dulu ketika saya Rektor, pada Ulang Tahun, ada banyak yang bawa makanan. Tapi sekarang, ribuan yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun, tapi hanya menunjukkan gambar tart dan makanan, tak satupun yang bawamakanan lagi,” tandasnya.

Dijelaskan Ketua Majelis Guru Besar UNY ini, karakter itu mestinya melakukan yang terbaik. Karakter memiliki 2 (dua) bagian yang utama yaitu: Performance Character & Moral Character.

Adapun Performance Character itu dimaksudkan ‘Melakukan Yang Terbaik’ berkaitan dengan: Berorientasi untuk menguasai sesuatu; Dibutuhkan untuk merealisasikan potensi dalam meraih prestasi; Akan memaksimalkan prestasi, sebab akan melahirkan kekuatan dan strategi yang dapat menantang diri kita sendiri untuk meraih yang terbaik dari talenta yang kita miliki.

Sedangkan terkait Moral Character, itu berarti ‘Melakukan Yang Benar’ dalam hal: Berorientasi pada hubungan antar sesama manusia; Dibutuhkan untuk berperilaku yang beretika, hubungan yang positif dan warganegara yang bertanggungajawab; dan Menghargai pendapat orang lain, sehingga kita tidak melanggar nilai moral saat kita mengejar prestasi kita.

Dalam hal hubungan keduanya antara Performance & Moral Character: Adalah mungkin untuk memiliki PC tanpa MC atau sebaliknya; Orang yang berkarakter memiliki kedua karakter itu; Kedua karakter saling mendukung satu dengan yang lain secara terpadu dan terkait; dan Kedua karakter memiliki 3 (tiga) komponen yaitu: kesadaran, sikap dan aksi.

BACA:  Perempuan Batak Adalah Manusia Tangguh

Dalam implementasi Performance & Moral Character, maka PC akan menunnjukkan Doing Our Best Work atau Melakukan Perkerjaan Terbaik Kami. Sedangkan untuk Moral Character, akan menunjukkan soal Doing the Right Thing atau Melakukan Hal Yang Benar.

Moral Character dalam hal Doing the Right Thing digambarkan sebagai: (1). Karakter moral terdiri dari kebajikan yang dibutuhkan untuk berperilaku etis, menjalin hubungan positif, dan menjadi warganegara yang bertanggung jawab; dan (2). Karakter moral menghormati kepentingan orang lain, sehingga kita tidak melanggar nilai-nilai moral ketika kita mengejar tujuan kinerja kita.

Dikatakan lulusan Michigan State University (MSU), Amerika Serikat (S3, 1986) ini, orang Tapanuli memiliki kinerja karakteryang terbaik.

“Saya kira orang-orang Tapanuli memiliki kinerja karakter yang terbaik. Orang Tapanuli sangat percaya diri. Kita harus memiliki moral karakter yang baik, jangan karakter baik tapi moral tidak baik. Dalam masa pandemi ini, juga kita harus punya tanggungjawab kepada org lain. Kendati demikian, tetap saja harus ada hukum yang mengatur yaitu denda misalnya,” imbuhnya.

Dilanjutkan lulusan Boston University (BU), Amerika Serikat (S2, 1981) ini, dalam hal Pengembangan Nilai-Nilai Karakter, maka filosofi pendidikannya adalah: Olah Hati (Etika), Olah Pikir (Literasi), Olah Raga (Kinestetik) dan Olah Karsa (Estetika), yang juga sebagai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Selanjutya, filosofi pendidikan tersebut meciptakan Nilai-nilai Karakter yang: Religius; Jujur; Toleransi; Disiplin; Kerja Keras; Kreatif; Mandiri; Demokratis; Rasa Ingin Tahu; Semangat Kebangsaan; Cinta Tanah Air; Menghargai Prestasi; Bersahabat/Komunikatif; Cinta Damai; Gemar Membaca; Peduli Lingkungan; Peduli Sosial; Tanggung Jawab (dan lain-lain). Kemudian akan menghasilkan Kristalisasi Nilai-nilai yang terhimpun dalam Nilai Karakter Utama yaitu: Religius, Nasionalis, Integritas, Mandiri dan Gotong-royong.

BACA:  Persoalan Narkoba Turut Dibahas dalam Musda FBBI Sumsel

Masih banyak yang dipaparkan penerima Penghargaan Joon S. Moon untuk Alumni MSU Internasional yang Berprestasi 2019 ini, seperti soal Strategi Implementasi PPK (Berbasis Kelas, Budaya Sekolah, dan Masyarakat); Bagaimana Membangun Kebiasaan; Bagaimana Merubah Kebiasaan; Karakter Guru; Enam Pilar Karakter manusia U.S.A. Namun waktu membatasi, karena sang Profesor ada jadwal berikutnya, untuk menguji S-3 di kampusnya di Yogyakarta.

Usai paparan, moderator Ki Saur Panjaitan membuka sesi tanya jawab, yang direspons hangat para peserta, dan kemudian sang Guru Besar dan Teknokrat ini dengan memberikan contoh-contoh dari pengalamannya yang begitu luas. Banyak peserta yang mengucap syukur atas kesempatan berharga dan pengetahuan yang berbobot dari sang Profesor sangat menginspirasi banyak orang itu. DANS

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *