Marsialapari (Gotong-Royong), Tradisi yang Tergerus Zaman?

Marsialapari (Gotong-Royong), Tradisi yang Tergerus Zaman?

JAKARTA, BatakIndonesia.com — Marsialapari atau gotong-royong adalah tradisi turun-temurun yang mungkin masih sedikit tersisa. Faktor penyebabnya mungkin kemajuan teknologi yang membuat segala sesuatunya lebih mudah, cepat, dan efisien. Apakah demikian? Mari kita sedikit berwacana.

Batak Angkola memang memiliki banyak kisah. Kebanyakan adalah kisah-kisah kehidupan ompung-ompung (nenek moyang) kita bagaimana mereka bermasyarakat, bertani, dan membangun kekerabatan/kekeluargaan.

Kisah-kisah kehidupan mereka tersebut melahirkan tradisi, budaya, dan kearifan lokal. Di desa-desa, kisah-kisah yang berabad abad tersebut terpelihara dengan baik. Tradisi, budaya, dan kearifan lokal memang adalah produk karya masyarakat yang dilahirkan dan dilaksanakan dalam kehidupannya. Namun, ketiga hal tersebut dalam perjalanan mengalami akulturasi, hambatan atau gangguan, sehingga perjalanannya terganggu, malah bisa hilang.

Hilang? Ya bisa jadi hilang jika pelaku ketiga hal terserbut menganggapnya tidak relevan lagi. Ia merasa tidak perlu lagi. Akhirnya, ketiganya menjadi kenangan yang hanya diceritakan, tetapi tidak lagi dilaksanakan sehari-hari.

Marsialapari: apa dan mengapa?

Marsialapari adalah sistem bekerjasama antara komunitas petani dalam satu kelompok kerja. Hari adalah satuan hitungan bagi sistem ini. Jika satu hari si B bekerja di ladang si A, maka si A membayar bekerja satu hari di ladang si B. Lazimnya, pekerjaan yang digarap adalah pekerjaan relatif berat. Mencangkul (mamakkur), membersihkan rumput pertama dan kedua (marbabo), dan panen.

Itu sistem pertama. Sistem kedua soal makan siang. Masing-masing membawa bekal makannya, sehingga tidak ada beban bagi tuan rumah. Terkadang, tuan rumah menyiapkan makanan untuk anggota marsialapari. Yang terakhir ini rata rata disuka oleh anggota sebab pasti lauknya istimewa. Tuan rumah mungkin bisa membuka kolam atau memotong ayam kampung untuk sajiannya. Tentu, ini memotivasi bekerja bersama sama.

Mengapa dan tujuannya?

Satu tujuannya supaya bekerja bersama-sama, melahirkan semangat bekerja karena dikerjakan bergerombolan, memicu semangat bekerja, sehingga pekerjaan tidak terasa bisa lebih cepat selesai dan hasilnya dapat dikontrol dengan baik.

Ambil contoh, 7 hari saya bekerja di ladang. Ada 7 (tujuh) orang. Ketujuh orang itu dalam satu hari bisa menyelesaikan pekerjaan di sawah. Hari itu tentu ditambah lagi dengan anggota keluarga sendiri.

Dengan cara ini displin terjaga. Semuanya bekerja tanpa ada yang bermalas-malasan. Sambil mencangkul, ada kalanya satu dua orang pintar membuat cerita mengundang tawa candaan, sekaligus mengkritik seseorang yang diduga agak lamban bekerja. Akhirnya kecepatan bekerja merata bagi semua anggota. Itulah kelebihan marsialapari. Kecepatan dan produktivitas bekerja menjadi optimal.

Tenaga vs mekanisasi

Luas sawah yang ditangani di Wilayah Tapsel, terkhusus di wilayah Gunung Bukit Barisan, yang setempat disebut Padang Bolak Harangan, punya kelebihan yaitu air mengalir dari sungai terus menerus. Ada tali air, alias bondar.

Airnya pun mengandung humus dari daun pemohonan hutan, sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman menjadi cukup (Ph sekitar 7). Hanya luasnya rerata 0,5-1,0 hektar (ha) atau 10.000 M2. Tapsel memakai ukuran rante. Ukuran rante sekitar 400 M2.

Luas 1 ha masih bisa dikerjakan dengan tenaga manusia. Hanya saja kalau seorang diri mengerjakannya akan menjadi lambat dan motivasi kerja rendah. Itulah makanya muncul satu bentuk kerjasama MARSIALAPARI. Ini menjadi sebentuk kerjasama secara tradisional bagi petani.

Selain cepat dan membangun motivasi, sejatinya marsialapari sebagai bentuk pengejawantahan unsur kekeluargaan bagi petani. Anggotanya bisa ibu-ibu, bapak-bapak, atau campuran. Semoga marsialapari masih relevan untuk kita teruskan di masa depan ini. Ini sekalian sebagai sarana untuk sosialisasi teknologi terbarukan, secara tepat guna dalam proses bisnis sebuah pertanian tanaman tertentu.

Mekanisasi, traktor tangan misalnya, pada awalnya mendapat pertentangan dari para petani. Selain dianggap saingan, benda tersebut belum akrab di telinga petani. Seakan membuat petani kehilangan pekerjaan jika mesin traktor digunakan. Namun, jika acuannya bagaimana strategi meningkatkan produk dengan memperluas lahan, maka perubahan tenaga manusia ke mekanisasi adalah sebuah keniscayaan.

Sebuah traktor bisa mengerjakan 2 hektar tanah, sedangkan jika dikerjakan secara langsung oleh tenaga manusia bisa 1 bulan lebih. Hasilnya pun akan menjadi dua kali lipat. Inilah tantangan baru, peluang baru bagi petani kita terutama di wilayah Sipirok, Simangambat, Arse, dan lahan yang masih datar belum digarap optimal.

Penulis: Ronsen Pasaribu (Anggota FPS dan Anggota Komunitas menulis Budaya Tapanuli Selatan yang berasal dari Tapsel, tinggal di Jakarta)

BACA:  Hatobangon: Peradilan Adat di Tanah Batak

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *