Martandang (PDKT) Ala Tempo Doeloe

Martandang (PDKT) Ala Tempo Doeloe

BatakIndonesia.com — Martandang (PDKT: pendekatan, istilah kaula muda masa kini) beragam pengertiannya di luat Angkola. Cerita ini pasti menarik bagi sebaya saya yang sudah berusia di atas 60 tahun. Menarik karena bercerita tentang kegiatan naposobulung di kampung-kampung. Namun bagi usia milenial sekarang, saya tidak tahu persis apakah praktek martandang masih ada atau tidak? (Red: Masihlah bos!)

Martandang adalah istilah berkenalan antara pemuda/i dari satu desa ke desa lain. Berkenalan ini yang seru, kawan. Betapa tidak, seorang gadis yang sudah dijadikan sasaran seorang pemuda datang dari desa lainnya. Tentu, si pemuda melakukan bisik-bisik tetangga terlebih dahulu. Boru apa gadis itu? Siapa bapaknya? Di mana rumahnya? Nah, jika sudah dapat maka ditentukanlah sebuah malam untuk datang martandang.

Tanya bibit, bebet, bobot, sekalipun sekilas lintas. Boleh langsung? Oh tidak. Harus melalui naposo bulung (pemuda) laki laki yang ada di kampung itu. Berkenalanlah mereka, menyodorkan sebungkus rokok yang agak mahal. Pemuda ini mengemukakan maksud dan tujuan untuk berkenalan dengan gadis bernama Junita br Siregar.

Bisik-bisik ini berjalan dengan lancar apabila si pemuda berlaku sopan dan santun. Cara seperti ini sudah menjadi adat-istiadat di antara pemuda. Perlakuan yang sama akan terjadi jika sebaliknya, seorang pemuda datang di kampungnya untuk martandang.

Tanpa harus diajari, si pemuda sudah paham mekanisme martandang ini. Ternyata di desa kita, gadis-gadis selalu tidur bersama bukan di rumah sendiri. Namun tidur di rumah seorang ibu biasanya sudah janda atau namabalu. Sang tuan rumah pun paham, jika ada pemuda martandang kepada salah satu gadis di rumah itu.

Biasalah, si ibu semalaman membayu lage (menenun tikar) beramai-ramai. Suasana kebersamaan gadis selalu riang gembira. Tentu yang dibicarakan sekitar informasi siapa pemuda yang datang di kampung ini? Maklum, waktu itu belum ada hape.

Bila malam tiba, malam menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu pemuda dan pemudi sebuah desa. Pemuda di suatu desa, juga selalu bergerombol, memegang gitar bernyanyi di halaman rumah. Jika ada Balarung atau balerong di tengah sebuah desa di situlah para pemuda mangkal. Bahkan bercampur dengan pemudi bercengkerama dan bernyanyi.

Kepandaian bermain gitar adalah sebuah tiket untuk menarik hati sang pujaan. Sampai waktu ini biasanya masih di bawah jam 10 malam. Tak berani atau tak boleh atau tak dibiasakan bertemu berdua-duaan di sebuah desa. itu terlarang, bisa jadi bahan omongan orang jika berani tampil berdua, melanggar adat istiadat kebiasaan di kampung ini.

Jelang tengah malam, tentu udara semakin dingin. Namun bukan dinginnya yang jadi masalah, babak kedua, martandang dimulai.

Sang pemuda, mengendap-endap mendekat ke rumah di mana sang gadis pujaan menginap. Gelombang ini sudah mulai nyambung, walaupun para gadis berbincang-bincang, namun secara bisik-bisik sudah mengetahui akan ada partandang malam ini.

Sang pemuda sudah mendekat dinding rumah, sambil mendekat ke lobang dinding. Sang gadis pun sudah tahu dan mendekat ke sebuah lobang kecil yang bisa saling berbisik nyaris tanpa suara. Suara dan telinga dibatasi dinding di malam itu, sambil konsentrasi penuh apa yang mau disampaikan oleh sang pemuda.

Ternyata kalimat sudah disiapkan jauh hari apa yang mau disampaikan. “Ito boru Regar, ahu doon ito Marga Simanjuntak dari Desa Anu.” Olo ito, naulima diharoro muna. Apala ahama ito lakna maksudmuna. Imada ito, rope ahu ito saonari di hutaon nunga ngalian ito, ngali hian do hape di hutamunuon ate ito.

Kode, bila sang gadis menyambutnya, maka si Boru Regar akan menjulurkan selembar abit atau sarung buat sang pemuda supaya ada yang akan digunakan di malam yang dingin ini. Hati keduanya sudah berbunga-bunga dan ingin segera bertatap muka. Bisa? nanti dulu.

Ini sangat tergantung sang ibu rumah. Apakah diijinkan bertemu satu jam saja atau besok hari? Lazimnya jarang dibolehkan pada malam itu karena sudah larut malam, tak bagus dilihat tetangga. Tukar abit saja itu sudah lebih dari cukup, pertanda tidak bertepuk sebelah tangan.

Diaturlah pertemuan besok hari. Berarti sang pemuda harus melapor lagi kepada pemuda setempat dengan memberikan rokok lagi sebagai penghormatan kepada pemuda dan sekaligus menjamin pertemuan besok malam bisa berlangsung dengan sangat mendebarkan.

Malam yang ditunggu telah tiba. Pemuda sudah memakai pakaian yang terbaiknya. Rambutnya memakai minyak levender disisir rapi dan jarang waktu itu memakai wangi-wangian. Sebaliknya si gadis juga sudah mempercantik diri malam itu. Sekalipun semua gadis di kampung biasanya memakai selendang jika keluar malam-malam.

Pertemuan tidak boleh di sembarang tempat, apalagi berdua di kampung itu masih tabu. Namun demikian, ijin untuk berkenalan lebih lanjut sudah diberikan pada malam hari keduanya. Di situlah mereka bertatap muka, berbicang, berkenalan, dan tentu dalam pengawasan sang ibu pemilik rumah.

Bila ada kecocokan, maka sebenarnya perkenalannya tidaklah rumit pada saat berikutnya. Begitu jika sudah ada saling menembak (istilah zaman now), maka cepat tersiar ke seantero luat. Ini pertanda pemuda lainnya akan mengatur diri tidak akan datang martandang ke si boru Regar itu.
Begitulah, martandang. Sebuah cerita dari Tapanuli Selatan di saat memperigati Sumpah Pemuda 2020.

Jakarta, 28 Oktober 2020, pukul. 20.00 WIB
Ronsen Pasaribu

BACA:  Perlu Kerjasama Semua Pihak dalam Memberantas Narkoba

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *