Melanchton Siregar Ikut Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina

Melanchton Siregar Ikut Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina
Duta Besar Palestina Fariz N. Mehdawi (duduk tengah) saat menghadiri seminar dan napak tilas perjuangan Melanchton Siregar di Sumatera Utara pada September 2012, didampingi panitia, Djalan Sihombing, (kiri) dan Supardan, MA (kanan). (Foto: Antoni Antra Pardosi)
 
Catatan: Djalan Sihombing*

Melanchton Siregar Ikut Memperjuangkan Kemerdekaan PalestinaBatakIndonesia.com. Sebagai akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump tentang Yerusalem ibukota Israel, membuat dunia heboh. Presiden RI Joko Widodo juga ikut bicara dan menyatakan sikap pemerintah tentang Yerusalem tersebut. Tidak ketinggalan, PGI ikut menyatakan sikap.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, Yerusalem merupakan bagian dari sejarah agama Yahudi, Kristen, dan Islam (agama Samawi). Kita tidak tahu sampai kapan permasalahan Israel Palestina berakhir. Hanya Tuhan Pencipta semesta, yang tahu pasti. Manusia hanya berusaha agar permasalahan itu selesai dengan jalan  damai.

Dalam buku “Melanchton Siregar Mempertahankan NKRI”, (Yayasan Cemara: 2013) yang disusun Aco Manafe, politisi senior Sabam Sirait mencatat, bahwa  Melanchton Siregar pernah tiga kali mengadakan diskusi mengenai kemerdekaan Palestina di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Melanchton Siregar, adalah tokoh Kristen di panggung politik Indonesia, pernah jadi Ketua Umum Parkindo yang kemudian berfusi menjadi PDI (1964-1967/1967-1973), Anggota DPR RI hasil Pemilu 1955, dan menjadi Wakil Ketua MPRS (1966-1972). Tokoh kelahiran Pearung, Lintongnihuta, Humbahas (1912), ini dikenal sebagai pendidik dan salah satu pemimpin perang kemerdekaan di Tapanuli. Beliau meninggal pada 24 Februari 1975.

Menurut saya, kita perlu membedakan Israel sebagai negara, Yahudi sebagai orang dan Yahudi sebagai agama, serta tak kalah pentingnya tentang Luciferist. Orang Yahudi sendiri ada yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam. Di negara Israel tentu ada 3 agama tersebut. Yang menjadi masalah dunia saat ini adalah aliran Lusiferist. Aliran ini, bisa saja orang Yahudi dan bukan Yahudi. Lucifer ada dimana-mana mau menghancurkan peradaban dunia.

BACA:  Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus Siap Bertarung di Pilgubsu

Bila dari sisi sejarah, khusus untuk Kristen, peninggalan sejarah Kristen lebih banyak di Palestina daripada di Israel. Dan Palestina ikut menjaga peninggalan tersebut dengan baik. Walikota Betlehem selalu beragama Kristen sampai saat ini.

Tapi saya sebagai pribadi dan sebagai Kristen tidak boleh mengutuk Yahudi. Yesus sendiri sebagai manusia adalah Yahudi. Rasul Paulus juga orang Yahudi.

Fariz N. Mehdawi ketika masih Duta Besar Palestina di Indonesia, selalu bicara bahwa antara Israel dan Palestina bukan masalah agama, tapi masalah politik (negara) dan tanah. Jangan ada yang menganggap itu masalah agama. Ia juga mengutip pandangan sejumlah tokoh perjuangan nasional Palestina, pemeluk agama Kristen, seperti, Philip Habib, George Habash, Hawatmeh, dan tokoh wanita Hanan Ashrawi, yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan hak-hak bangsa Palestina.

Ketika Mehdawi di Palestina, sudah terbiasa ikut perayaan hari besar Kristen, Katolik, Kristen Ortodok, Islam dan Yahudi. Begitulah pengakuan Mehdawi selama proses pengusulan Melanchton Siregar menjadi pahlawan nasional pada tahun 2012 dan tampak terkesima mengetahui dukungan Melanchton Siregar terhadap kemerdekaan Palestina, atas terstimoni Sabam Sirait.

Mehdawi sangat antusias atas perjuangan Melanchton Siregar di kancah perjuangan kemerdekaan dan panggung politik Indonesia. Saya bersama beberapa rekan beberapa kali diskusi di Kedutaan Palestina di Jakarta. Dalam rangka seminar perjuangan Melanchton Siregar di Jakarta, Doloksanggul, dan Medan beliau hadir dan menyampaikan apresiasinya, kala itu turut saya dampingi bersama rekan lainnya, Drs. Supardan MA, Aco Manafe (alm),  Titi Juliasih, Iriani, Ronald M. Sihombing, Sahat M. Doloksaribu, Abadi P Hutagalung, dan Antoni Antra Pardosi) pada 5 – 9 September 2012.

Menurut saya, PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) sudah tepat dengan pernyataan sikapnya terkait status Yerusalem tertanggal 7 Desember 2017. Sikap PGI yang menghimbau pemerintah RI,  agar memperhatikan skema jalan damai dimana Israel dan Palestina diletakkan sebagai dua negara yang sejajar. Biarlah kasih dan damai di Timur Tengah.

BACA:  Pesan Jokowi ke Mensos Juliari Batubara, Tekan Angka Kemiskinan di Bawah 9 Persen

Penulis adalah Ketua Komisi Hukum Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) dan Sekjen FBBI (Forum Bangso Batak Indonesia).

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *